Jumat, 29 November 2013

[Book Review] Mary, Mary by James Patterson






Judul: Mary, Mary
Pengarang: James Patterson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 456 halaman

“Jika mencintaimu adalah kesalahan, aku tidak ingin benar.”

Pembunuhan berantai terjadi di Hollywood. Yang menjadi korban adalah para tokoh papan atas Hollywood. Korban-korban ini dibunuh dengan keji oleh seseorang yang mengaku bernama Mary Smith. Lewat e-mail, Mary Smith mengirimkan rincian tentang pembunuhan yang dilakukannya ke seorang editor LA Times.

Agen FBI Alex Cross yang sedang liburan dengan keluarganya di Disneyland diminta untuk membantu kepolisian setempat menangkap pelaku pembunuhan berantai itu.

Tapi rupanya Mary Smith ini sangat pintar dan licin, bahkan jenis kelaminnya pun masih diragukan identitasnya—walaupun banyak yang mengira dia seorang perempuan.

Selain mengejar Mary Smith, Alex Cross juga dihadapkan dengan masalah pribadinya sendiri. Masalah keluarga, dan masalah kehidupan cintanya.

“Kadang-kadang norak itu bagus, bagus sekali, menjaga agar semuanya berada dalam perpektif yang tepat.”

Mary, Mary merupakan serial Alex Cross ke-11. Dan ini merupakan kali pertama saya membaca serial karya James Patterson ini. Karena itulah saya tidak bisa membuktikan apakah buku ini memang novel thriller James Patterson yang paling rumit seperti yang tertulis pada bagian belakang cover :D dan karena itu pula saya sedikit kesulitan membacanya, soalnya tak jarang menyinggung kejadian yang terjadi di seri sebelumnya.

Buku ini menggunakan multiple POV, cukup menarik membacanya. Tapi, penulisnya tergolong pelit dalam memberikan clue. Hal itu memaksa pembacanya untuk benar-benar menyelesaikan buku ini agar dapat mengetahui siapa pembunuh sebenarnya. Sayangnya menurut saya formula seperti itu cocok jika disuguhkan dalam bentuk visual atau film. Kalau di buku, sukses sih, sukses membuat saya terkantuk-kantuk. Lumayan buat pengantar tidur xD

Bagian awalnya-lah yang menurut saya paling membuat bosan. Tapi ketika bagian paruh akhir, konflik yang dibangun cukup menarik kok.

Salah satu yang saya suka dengan buku ini adalah halaman per-chapter-nya pendek-pendek. Jadi, bisa membantu saya sedikit mengatasi kebosanan saya akan masalah hidup si Cross.

Terjemahannya oke, tidak ditemukan typo dan cover-nya pun menarik. Sayang kertas yang digunakan kertas tipis buram (yang sering dipakai untuk buku-buku teenlit itu lho), tak jarang kertasnya mudah kusut atau malah robek.

Hampir lupa, bagian yang paling saya suka adalah tentang tes psikopat. Ini saya kutip bagian itu. *tenang, ini tak ada hubungannya dengan isi cerita kok jadi bebas spoiler ;))*

Ceritanya seperti ini. Pada pemakaman ibunya, seorang wanita bertemu dengan seorang pria dan langsung jatuh cinta. Tapi dia tidak pernah mengetahui nama, nomor telepon, atau apa pun tentang pria itu. Beberapa hari kemudian, dia membunuh adik perempuannya.
Sekarang… tesnya! Mengapa dia membunuh adiknya? Jika jawabanmu benar, berarti kau berpikir seperti seorang psikopat.
Sang pendongeng menjawab dengan benar, tentu saja. Dia langsung tahu jawabannya. Wanita itu membunuh adiknya sendiri… karena dia berharap pria yang dia sukai akan hadir dalam pemakaman.

Oh iya, yang membuat saya penasaran adalah semenarik apa si Alex Cross ini? Sampai-sampai banyak wanita merasa tertarik dengannya?

“Menghadapi anggota keluarga yang ditinggalkan akibat peristiwa pembunuhan selalu menghadirkan situasi sulit. Pada saat kau sangat membutuhkan informasi, mereka sama sekali tidak ingin membicarakan apa yang baru saja terjadi.”

“Dibutuhkan sikap dingin pada setiap lokasi pembunuhan, dan aku bisa merasakannya seperti kulit kedua yang kukenakan. Tapi dibutuhkan keseimbangan juga. Aku tidak pernah ingin melupakan bahwa ini mengenai manusia, bukan hanya mayat, bukan hanya korban. Kalau aku sampai kebal terhadap hal itu, aku tahu sudah waktunya bagiku untuk mencari pekerjaan lain.”


RATING 3/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar