Selasa, 13 Agustus 2013

[Book Review] Here, After by Mahir Pradana






Judul: Here, After
Pengarang: Mahir Pradana
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2012(cetakan kelima)
Tebal: 197 halaman

“Ya, aku meyakini bahwa ‘cinta’ hanyalah sesuatu yang semu. Hanya saja, kadang-kadang, kita terhanyut dan terpesona di dalam tipuan bayangannya.”

Buku ini mendapatkan kehormatan sebagai buku hadiah dari GagasMedia yang saya baca pertama. Dan ternyata saya sama sekali tidak salah menentukan pilihan. Ceritanya begitu unik.

Di dalam buku ini terdapat 10 tokoh yang akan menceritakan 10 kisah cinta mereka dengan berbagai rasa dan jenis. Manis, pahit, senang, sedih, sampai menyeramkan. 

Nah, yang lebih menarik adalah kesepuluh tokoh yang bercerita ini saling berkaitan satu sama lain. Misalnya, tokoh cerita dua pernah disebut-sebut di cerita pertama, tokoh cerita tiga menjadi cameo di cerita dua, begitu juga seterusnya.

Saya tidak akan menceritakan kisah-kisah cinta di dalam buku ini karena sedikit susah menceritakannya tanpa mengandung spoiler. Lebih baik kalian baca sendiri ;)

“Love? What is ‘love’ anyway? All I can remember is, he was so great in bed.”

Alasan saya memilih untuk membaca buku ini di antara buku-buku hadiah lain dari GagasMedia adalah, sudah lama sekali saya mengidamkan untuk membaca buku ini akibat “strategi pemasaran” yang dilakukan sang penulis di buku kumpulan cerita Menuju(h) telah berhasil mempengaruhi saya secara tidak langsung. Good job bang Mahir :D

Tidak ada komentar sama sekali dari saya soal cerita buku ini, kesemua kisahnya menakjubkan dan berhasil memberikan sensasi berbeda membaca buku. Tema-tema yang dipilih unik, sederhana dan apa adanya. Apalagi saya suka sekali dengan covernya yang tjakep, salah satu cover buku terbaik dari buku yang pernah saya baca.

Buat bang Mahir, ditunggu kerya selanjutnya, yang katanya sebentar lagi rilis dengan judul: Rhapsody.
Penampakan covernya(diambil dari fanpage Gagasmedia): 



MEMORABLE QUOTES:

  •  “Siapa pun diri kita atau orang yang bersama dengan kita sekarang, semuanya suatu saat hanya akan menjadi memori.” – Hal. 55
  • “Aku tak habis pikir mengapa para orangtua selalu mengkambinghitamkan alasan untuk-kebaikan-kamu dalam memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka.” – Hal. 83
  • “Mengapa seorang pria bisa mencintai seorang wanita, dan sebaliknya, walaupun jauh sebelumnya mereka tidak memiliki perasaan apa-apa sama sekali? Sebabnya ya, karena cinta itu seperti air, selalu mengalir untuk mengisi ruangan yang kosong. Ruangan yang kosong itu adalah hati manusia.” – Hal. 97
  • “Orang bijak selalu bilang, ada dua tipe kehidupan, yaitu kehidupan dengan cinta yang berlebih dan kehidupan yang kekurangan cinta.” – Hal. 178


RATING 4.5/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar