Selasa, 20 Agustus 2013

[Book Review] Memori by Windry Ramadhina






Judul: Memori
Pengarang: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 312 halaman

“Sejak detik aku menjejakkan kaki di rumah Papa, nasib buruk mencengkeram tengkukku dan aku tidak bisa melepaskan diri."

Mahoni, arsitek perempuan yang sedang meniti karirnya di Virginia terpaksa harus mengambil cuti dan kembali ke Indonesia ketika mendengar kabar kalau ayahnya dan istri ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil.

Mahoni lahir pada keluarga yang kurang harmonis sampai menyebabkan kedua orangtuanya berpisah, yang kemudian menyebabkan Mahoni membenci sosok orangtuanya dan berusaha mengubur memori pahitnya sendiri. Hal tersebut bahkan membuat Mahoni membenci adik tirinya, Sigi. 

Hal yang lebih buruk adalah dia terpaksa harus tinggal lebih lama di Indonesia untuk menjaga adik tirinya yang sering sakit-sakitan itu.

Belum lagi takdir kembali mempertemukannya dengan pria yang pernah mengisi hari-hari masa lalu, Simon. Namun sayang, Simon sudah punya partner dalam hubungan bisnis sesama arsitek maupun dalam kehidupan pribadi, Sofia.

“Nostalgia akan membuat siapa pun menjadi lemah dan tanpa sadar memaafkan kesalahan yang paling besar sekali pun, sementara aku belum ingin melakukan itu.”

Memori merupakan buku karya mbak Windry Ramadhina kedua yang saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca Orange-nya, tapi saya merasa kurang puas dengan Orange.

Dan menurut saya, di buku keduanya tulisan mbak Windry semakin mengalami peningkatan. Karakterisasi Mahoni di buku ini sangat kuat sampai berhasil membuat pembacanya bisa sangat mengerti apa sebenarnya yang dirasakan oleh Mahoni. Pokoknya Mahoni merupakan salah satu karakter fiksi yang sangat manusiawi sekali :D

Mungkin kata yang tepat menggambarkan buku ini: konsisten. Plot dan konfliknya sangat rapi dari awal sampai akhir :)) (*dan ya, endingnya memuaskan*)

Benar yang dikatakan kak @halidahanun, tulisan mbak Windry ini memang manis dan membuat perasaan hangat.

Satu yang kurang, buku ini tidak dilengkapi footnote yang menjelaskan istilah-istilah di dunia arsitektur. Sayang sekali, padahal cukup lumayan untuk menambah pengetahuan.

Overall buku yang menarik untuk dibaca. Direkomendasikan untuk para penggemar romance.

“Tidak ada perasaan yang bertahan selamanya. Aku belajar itu dari Papa. Cepat atau lambat, sesuatu yang kita miliki akan hilang dan yang tertinggal kemudian cuma rasa benci.”

RATING 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar