Sabtu, 14 Mei 2016

[Book Review] Kumpulan Budak Setan: Persembahan Bagi Penulis Horor Legendaris






Judul: Kumpulan Budak Setan
Pengarang: Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Februari 2010
Tebal: 174 halaman

“Kata istriku, bajang itu serupa musang, tapi ia mengeong serupa kucing. Hantu macam begitu sering mendatangi perempuan-perempuan bunting, merampok anak di dalam perutnya, atau membuatnya gila. Aku telah berkeliling kampung mencari secarik sutera hitam dan kukaitkan di pergelangan tangan istriku sebagai penangkal hantu bajang, tapi aku tetap mencemaskannya.” – Penjaga Malam - Eka Kurniawan

Iseng nge-search “Eka Kurniawan” di menu pencarian SCOOP ternyata membawa saya menuju harta karun tak terduga. Tanpa sengaja saya menemukan buku ini yang dijual dengan harga sangat murah. Dari semua buah karya Eka Kurniawan (yang fiksi) buku inilah yang belum saya punya. Kecuali Corat-Coret di Toilet, karena saya sudah pernah membaca cerpen-cerpen di dalamnya di Gelak Sedih, jadi tak punya pun rasanya tak apa :p.

Kumpulan cerpen ini boleh dibilang sebuah tribute untuk Abdullah Harahap, beliau merupakan penulis yang dikenal lewat novel-novel bertema horornya. Seingat saya, saya belum pernah membaca satu pun karyanya, tapi menyimpulkan dari bagian pengantarnya garis besar tema yang diangkat di novel-novel Abdullah Harahap yaitu horor dengan sedikit bumbu erotika.

Membaca buku ini seperti sedang menonton film omnibus horor yang setiap segmennya berisi lagi film-film pendek. Untuk itu, dalam review ini saya akan membahas per segmennya. Anyway, Kumpulan Budak Setan ini terbagi menjadi tiga segmen yang diracik oleh masing-masing penulis yang berkontribusi di dalamnya. Tiap segmen terdiri dari empat cerpen.

“Kini ia paham: orang banyak mengira selangkangan itu adalah bagian dari tubuh mereka, alat mereka, sesuatu yang digerakkan oleh hasrat mereka. Mereka keliru, tentu. Benda kecil di selangkangan itulah iblisnya. Laki-laki hanyalah inang.” – Hidung Iblis - Ugor Prasad

Dalam segmen pertama, Eka Kurniawan menulis cerpen-cerpen bertemakan mitos dan kepercayaan yang berhubungan dengan hal mistis. Mungkin karena tiga cerpen pertamanya sudah pernah saya baca di buku lain (Penjaga Malam, Taman Patah Hati, dan Riwayat Kesendirian), cerpen paling berkesan buat saya adalah cerpen terakhir di segmen ini yang berjudul Jimat Sero.

Selanjutnya, di segmen kedua, Intan Paramaditha menawarkan keseraman di kelas berbeda. Cerpen-cerpen yang ditulis olehnya lebih sadis dan cenderung disturbing. Keempatnya menjadi favorit tapi yang paling meninggalkan bekas tentu saja Si Manis dan Lelaki Ketujuh. Sampai saya menulis review ini, masih terbayang adegan dan penggambaran disturbing-nya -_-“.

Segmen terakhir, menurut saya yang paling lemah dibanding yang lain. Tapi di sini Ugoran Prasad berani mengambil ide cerita yang lebih beragam. Eh, mungkin “segman paling lemah” juga bukan kata yang tepat sih untuk menggambarkannya. Saya cuma kurang suka dengan gaya berceritanya yang kurang lugas. Favorit saya di segmen ini jatuh pada cerpen Hidung Iblis.

Tak salah saya mengidamkan buku ini sejak lama. Hasil setelah baca, saya sangat puas dengan suguhan kengerian yang sensasinya berbeda-beda. Tapi, ada satu kekurangan dari buku ini yang menonjol, typo-nya sudah masuk ke dalam ketegori mengganggu. Ada pula beberapa kali kesalahan penggunaan awalan “di”. Saya malah sempat bertanya-tanya: benarkah ini edisi final-nya? Untuk tata bahasa, baku tidak baku, terlepas itu disengaja atau tidak, saya tak mau berkomentar panjang lebar lagi ah, takut nanti dibilang sok tahu. xD

Akhir kata, buku ini saya rekomendasikan untuk yang mengaku pencinta kumpulan cerpen maupun karya fiksi bertema horor.

“Benar kata orang, lebih mudah menikah daripada bercerai. Dan lebih mudah mengatakan cinta daripada memutuskan tali asmara.” – Taman Patah Hati - Eka Kurniawan




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar