Minggu, 01 Mei 2016

[Book Review] Dekut Burung Kukuk: Kematian Janggal Sang Supermodel



Postingan terkait:








Judul: Dekut Burung Kukuk (The Cuckoo’s Calling)
Pengarang: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 520 halaman

“Kenapa kau lahir saat salju membuat langit bungkuk?
andai saja kau tiba ketika musim dekut burung kukuk,
atau saat buah-buah anggur di tandan meranum hijau,
atau, setidaknya, saat kawanan burung camar berkicau,
      sehabis menempuh perjalanan jauh yang ganas
      menyelamatkan diri dari serangan musim panas.

Kenapa kau mati saat bulu-bulu domba dipangkas?
andai saja kau pergi ketika buah-buah apel ranggas,
atau saat gerombolan belalang berubah jadi masalah,
dan lahan gandum semata hamparan jerami basah,
      dan napas angin berembus sangat berat
      sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat.”



Lula Landry, seorang supermodel yang sedang naik daun terjatuh dari balkon apartemennya. Dunia pun geger dibuatnya. Setelah kepolisian bekerja keras mencari tahu semua hal mengenai peristiwa tragis tersebut, kematian Lula kemudian ditetapkan sebagai kasus bunuh diri.

Tiga bulan kemudian kakak Lula yang meragukan kesimpulan dari pihak kepolisian menghubungi Cormoran Strike, seorang detektif partikelir. Dia bermaksud menyewa jasa Strike untuk menyelidiki kembali perihal kematian adiknya.

Strike merupakan seorang veteran perang yang punya luka fisik dan luka batin. Hidupnya kacau, dia baru ditinggalkan kekasihnya, belum lagi keadaan finansialnya yang cukup sulit yang kemudian membuat Strike menerima permintaan calon kliennya itu.

Dibantu oleh Robin, sekretaris baru sementaranya, Strike memulai penyelidikan. Penyelidikannya tidak akan mudah karena melibatkan orang-orang penting, para public figure.

Strike belum sadar kalau keputusannya ini nantinya akan membahayakan nyawanya sendiri. apa yang akan terjadi pada Strike dan Robin? Benarkah kematian Lula Landry bukan kasus bunuh diri biasa?

“Orang awam, menurut pengalaman Strike, akan terpaku pada motif; sementara kaum professional akan menempatkan kesempatan pada urutan pertama”

Beli buku ini di penghujung 2013, tepatnya sehari sebelum tahun baru. Saya masih ingat sekali hari itu Gramedia Pustaka Utama sedang mengadakan kuis cepet-cepetan tebak cover buku-buku yang diterbitkan sepanjang tahun 2013. Detail yang paling saya ingat adalah hari itu sinyal internet kacrut banget! Saya sampe misuh-misuh. Saya yang sudah ngincer buku ini langsung merasa gagal sudah kesempatan buat dapetinnya secara gratis. Kebetulan paginya saya sudah mendapat sms dari Mas di toko buku kecil di kota saya. Memang beberapa hari sebelumnya saya sudah meninggalkan nomor hp saya, minta dihubungi kalau Dekut Burung Kukuk sudah masuk di toko buku tersebut. Maklum, saya dulu masih mudah kemakan hype banget. Nggak mau sampai ketinggalan buat baca buku yang langsung nge-hits pas terbongkar kalau Robert Galbraith adalah pseudonim dari J.K. Rowling x))

Akhirnya jadilah saya nyerah ikut kuis tersebut dan memutuskan untuk beli saja bukunya. Hasilnya? Saya sama sekali tak kecewa menukarkan selembar uang merah untuk buku ini (dulu harga buku masih bersahabat, dan 99ribu itu sudah terhitung mahal).

Saya bukan penggemar cerita detektif-detektifan. Sherlock Holmes, saya kurang suka dengan versi novelnya, serial tv produksi BBC-nya jauh lebih enjoyable buat saya. Hercule Poirot, baru Misteri di Styles yang pernah saya baca. Itu pun susah sekali untuk menamatkannya.  Gaya bahasa kedua penulis legendaris yang menciptakan dua tokoh detektif tak kalah legendaris tersebut agak susuah untuk saya cerna. Namun berbeda dengan halnya Dekut Burung Kukuk. Saya terbuai dengan penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan Strike. Bagusnya dalam buku ini adalah petunjuk-petunjuk yang didapat oleh Strike dibeberkan ke pembaca, tak ditutup-tutupi. Tinggal bagaimana pembaca merangkai petunjuk-petunjuk tersebut untuk menemukan konklusinya.

Terjemahannya saya suka sekali. Terutama bagian-bagian yang diterjemahkan oleh Aan Mansyur. Penulisannya juga rapi. Saya tak ingat pernah menemukan kesalahan pengetikan di dalam buku ini.

Hal paling memorable tentu saja ending-nya. Inilah yang membuat saya di kemudian hari memutuskan menjadi penggemar dan (semoga) akan selalu membaca seri Cormoran Strike yang lain. Twist di ending-nya tak disangka-sangka. Saya pikir penulisnya hanya bermain-main ketika Strike menyatakan bahwa dialah pelakunya. Bravo!

Meski sekarang sudah membaca seri Cromoran Strike sampai buku ketiga, Dekut Burung Kukuk ini akan tetap tak terlupakan bagi saya. Kali pertama berkenalan dengan Strike. Pengalaman pertama bergadang demi membaca kisah detektif. Dan saya sudah tak sabar menanti serial televisinya!

“Tidak ada orang yang senang menerima kenyataan bahwa mereka menuai apa yang mereka tabur.”



*Review Dekut Burung Kukuk pernah saya post di blog ini. Ini merupakan versi baru dari review tersebut dengan banyak sekali suntingan dan penambahan di sana-sini.
**Tulisan ini diikutkan ke Lomba Resensi Cormoran Strike yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama. Untuk info selengkapnya bisa dilihat gambar di bawah ini (silakan klik untuk memperbesar).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar