Minggu, 25 Agustus 2013

[Book Review] London by Windry Ramadhina




Judul: London: Angel (Setiap Tempat Punya Cerita #5)
Pengarang: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 330 halaman

“Ah, aku gemas kepada diriku sendiri. Sebagai seorang penulis, terlebih aku adalah seorang penulis roman, seharusnya aku tahu hal utopis semacam ‘mengejar gadis ke London atas nama cinta’ hanya berjalan lancar dalam kisah-kisah fiksi.”

Ide ceritanya mungkin sangat sering ditemui di dunia fiksi maupun dunia nyata. Dua sahabat yang salah satunya memendam perasaan lebih. Itulah yang terjadi pada Gilang, karakter utama buku ini, seorang penulis yang masih berusaha menyelesaikan novel pertamanya.

Suatu malam, ketika di bawah pengaruh alkohol Gilang mengumumkankan di hadapan teman-temannya kalau dia akan mendatangi gadis pujaan sekaligus sahabatnya itu, Ning ke London dan menyatakan semua perasaan terpendamnya selama ini.

Karena terlanjur berkata di depan teman-temannya dan atas dukungan mereka, Gilang nekad pergi ke London.

Di London Gilang tidak hanya bertemu dengan Ning(yang mengharuskan Gilang menunggu cukup lama untuk bertemu karena urusan pekerjaan Ning). Tapi takdir juga mempertemukannya dengan gadis cantik nan misterius yang hampir selalu ditemuinya setiap hujan turun, Goldilocks dan juga Ayu, gadis jutek asal Indonesia yang sedang dalam perburuan mencari Wuthering Heights cetakan pertama.

“Terkadang, aku menyesali jawabanku itu. terkadang, aku bertanya-tanya, jika saat itu aku mencegah Ning pergi ke London, apakah kini segalanya akan berbeda?”

Walaupun punya tema yang bisa dibilang usang, menurut saya mbak Windry berhasil meracik kembali tema itu sedemikian rupa sehingga membuat cerita di buku ini tidak cheesy dan membosankan.

Untuk setting dan karakter tidak usah diragukan lagi. Mbak Windry berhasil “membawa” saya secara langsung ikut mengunjungi London Eye, Sungai Thames, Shakespeare’s Globe Teather dan merasakan jalanan London yang basah oleh gerimis.

Saya suka dengan karakter Gilang yang punya hobi memberikan julukan dari nama tokoh-tokoh fiksi ke orang-orang yang ditemuinya. Saya suka dengan ide untuk menambahkan sedikit bumbu fantasi di ceritanya. Saya juga suka cara mbak Windry menyajikan cerita cinta sampingan milik Mister Lowesley.

Dan yang paling penting, endingnya yang tidak kacangan! Keputusan yang diambil Gilang adalah solusi terbaik untuk situasi yang amat sangat rumit itu.

Selain Gilang, Goldilocks juga sudah menawan hati saya sejak kemunculannya di Shakespeare’s Globe Teather. Sampai sekarang masih cukup penasaran dengan gadis misterius itu :D

Setelah membaca buku ini, selain merasa puas saya juga merasa bingung. Bingung karena saya tidak tahu mana yang lebih saya sukai, London atau Melbourne. Dua-duanya berhasil menggalaukan saya–bahkan London sedikit lebih menggalaukan dari Melbourne ._.

MEMORABLE QUOTES:

  • “Itu kepercayaan lama, bukan sekadar dongeng. Agama-agama mengisyaratkan dalam kitab suci. Konon, hujan turun membawa serta malaikat surga.” – Hal. 126
  • “Kau harus mengatakannya segera. Jangan menunda. Jangan habiskan separuh hidupmu untuk menunggu waktu yang tepat. Seringnya, saat kau sadar, waktu yang tepat itu sudah lewat. Kalau sudah begitu, kau cuma bisa menyesal.” – Hal. 166
  • “Kau tidak belajar mencintai. Kau mencintai dengan sendirinya.” – Hal. 297
 
RATING 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar