Kamis, 03 Juli 2014

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya




Judul: Sabtu Bersama Bapak
Pengarang: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 278 halaman

“Meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenagan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf.”

Buku ini bercerita tentang dua saudara, Satya dan Cakra. Ketika usia mereka masih sangat kecil, Bapak meninggal karena mengidap kanker. Sebelum meninggal, Bapak yang terbiasa punya perencanaan matang menyiapkan rekaman-rekaman video untuk anak-anaknya.

Di rekaman-rekaman yang selalu mereka tonton setiap hari Sabtu itu, Bapak banyak mengajarkan kebaikan dan values tentang hidup lewat cerita-cerita pengalaman hidupnya sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, Satya telah menikah dan memiliki dua anak. Satya yang jarang pulang karena pekerjaannya, mulai dijauhi dan ditakuti keluarganya sendiri karena emosinya yang sering meledak.

Sedangkan Cakra, berhasil meraih karir cemerlang. Hanya satu di kehidupannya yang masih kurang, pendamping hidup. Entah mengapa Cakra tidak seberuntung kakaknya dalam hal cinta.

Setiap dua saudara ini bingung dengan berbagai macam persoalan yang mereka hadapi, mereka selalu kembali pada Bapak. Menonton kembali rekaman-rekaman yang disiapkan Bapak untuk mereka.

“Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai.”

Reaksi saya ketika membaca buku ini saya sangat terkesan. Tidak menyangka kalau seorang Adhitya Mulya yang saya kenal lewat novel kocaknya, “Jomblo”,  menghasilkan karya serius seperti buku ini. Tentu saja walaupun secara garis besar, buku ini bukan buku komedi, tetap banyak kok jokes segar khas Adhitya Mulya. Terutama ketika cerita sedang berpusat pada Cakra.

Tidak terlalu banyak waktu yang saya habiskan untuk menyelesaikan buku ini, karena gaya bahasanya yang mengalir, dan bukunya pun tidak terlalu tebal. Cocok untuk saya yang akhir-akhir ini mulai kehilangan minat membaca.

Ceritanya sebenarnya sederhana. Sering ditemui sehari-hari. Tapi pengemasannya yang unik, dengan beberapa flashback dan selingan tentang rekaman-rekaman video Bapak, membuat saya tidak bosan membaca buku yang punya cover kece ini.

Buku ini juga banyak berisi tentang ilmu parenting, lumayan buat modal di masa depan x)). Pesan-pesan yang disampaikan pun ngena dan tidak terkesan menggurui.
Menurut saya, buku ini salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini :))

“Dilepehin sama perempuan itu selalu lebih sakit daripada ditolak kerja.”


RATING 4/5
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar