Sabtu, 08 Desember 2012

[Book Review] Sembilan Pembawa Cincin by J.R.R. Tolkien







Judul Buku  : Sembilan Pembawa Cincin (The Lord Of The Rings #1)
Pengarang  : J.R.R. Tolkien
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  : 2012 (Cetakan kesembilan)
Tebal : 448 Halaman


ABOUT
Frodo Baggins, keponakan Bilbo Baggins yang diangkat anak oleh Bilbo Baggins mendapatkan warisan dari Bilbo berupa seluruh hartanya dan sebuah cincin yang sakti. Cincin yang bisa membuat pemakainya menghilang.
Bilbo menitipkan Frodo pada Gandalf, sang penyihir sahabatnya karena Bilbo ingin menghabiskan masa tuanya dengan berpetualang. Bilbo juga meminta Gandalf untuk menjaga Frodo agar menggunakan cincin yang diwariskannya dengan bijak.
Suatu hari  Gandalf menyadari kalau cincin ajaib itu adalah sebuah Cincin Utama milik Penguasa Kegelapan di negeri Mordor. Cincin itu dapat menguasai pemiliknya dan memberi Pengaruh yang sangat jahat. Hanya satu cara untuk menghancurkannya, dengan melemparkannya ke Celah Ajal di kedalaman Orodruin, Gunung Api.
Ditemani oleh Sam – anak tukang kebun Bilbo –, Merry, dan Pippin, Frodo memutuskan untuk menghancurkan cincin itu. Petualangan Frodo pun dimulai. Sempat terlintas rasa sesal di dalam pikiran Frodo karena perjalanannya yang ditempuhnya sangat sulit. Apalagi ternyata mereka diincar oleh para Penunggang Hitam yang merupakan utusan dari Penguasa Kegelapan.
Ketika kemudian mereka sampai di Rumah Elrond, sudah banyak yang berkumpul untuk mengadakan rapat. Dari hasil rapat itu, dibentuklah Sembilan Pembawa Cincin untuk memusnahkan Cincin Utama di Celah Ajal. Mereka terdiri dari Frodo, Sam, Gandalf, Legolas, Gimli , Aragorn, Strider, Merry, dan Pippin.
Namun, perjalanan mereka sesungguhnya tidak akan pernah berjalan mulus. Karena mereka tidak menyadari kalau ternyata mereka diincar oleh banyak kelompok. Tentu saja yang mereka incar adalah Cincin Utama yang tergantung di leher Frodo. Mereka mulai kelabakan manakala pasukan Orc menyerang, pasukan ini sangat kuat dan merupakan penyembah Penguasa Kegelapan.


THE REVIEW
Kalau The Hobbit ibarat prolog untuk kisah The Lord Of The Rings, maka seri pertamanya ibarat bab-bab awal dari kisah fenomenal ini.
Tapi, saya sarankan sebelum anda membaca buku ini lebih baik baca dulu The Hobbit. Karena buku ini bisa dibilang melanjutkan lagi kisah Bilbo Baggins – karakter utama di The Hobbit – tapi  dengan lebih banyak menyorot kisah Frodo.
Selain itu, pada bagian prolog buku ini diceritakan kembali kisah Bilbo ketika menemukan cincin ajaib. Maka sangat rugi bagi kalian yang belum membaca The Hobbit karena bagian ini sangat sangat mengandung spoiler.
Buku ini juga membeberkan fakta tentang asal muasal Gollum, sang pemilik Cincin Utama sebelumnya, dan bagaimana dia bisa mendapatkan cincin yang punya kekuatan jahat itu. Segelintir karakter yang muncul di The Hobbit pun tak ketinggalan untuk turut memeriahkan petualangan Frodo.
Sayangnya, J.R.R. Tolkien memberikan terlalu banyak detail yang membuat saya sedikit bosan membacanya. Untungnya lagu-lagu atau syair-syair di buku ini dapat membantu menghilangkan rasa bosan saya.
Karena buku ini tentang petualangan, tak heran kalau karakter buku ini banyak sekali. Jadi, cukup memerlukan konsentrasi tinggi untuk mengingatnya. Apalagi nama-nama karakter ataupun tempatnya agak mirip. Saya saja sering keliru membedakannya.
Tapi, dibalik kekurangannya buku ini tetap layak dibaca. Apalagi dengan sebuah ending yang semakin membuat penasaran pembacanya untuk mengikuti petualangan Frodo. Saya dibuat tidak sabar untuk segera membaca seri ke-2 nya.


MEMORABLE QUOTES

  • “Tetaplah di atas rumput hijau. Jangan mencampuri urusan batu-batu kuno atau Wight yang dingin, atau mengorek-ngorek rumah mereka, kecuali kalau kalian orang-orang kuat dengan hati yang tak pernah bimbang!” – Hal. 172

  • “Tapi kewaspadaan dan keraguan adalah dua hal yang berbeda. Kalian tidak akan pernah sampai ke Rivendell sendirian, dan mempercayaiku adalah kesempatan kalian satu-satunya.” – Hal. 210

  • “Aku tampak buruk dari luar, tapi terasa bagus di dalamnya. Begitukah? Emas belum tentu gemerlap, tak semua pengembara tersesat.” – Hal. 216

  • “Banyak sekali kekuatan di dalam dunia, untuk kebaikan atau untuk kejahatan.” – Hal. 273

  • “Dalam dirimu terdapat sesuatu yang lebih hebat daripada yang terlihat, seperti kukatakan kepadanya dulu.” – Hal. 403

  • “Pekerjaan yang belum dimulai adalah yang butuh waktu paling lama untuk diselesaikan.” – Hal. 443



RATING  4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar