Sabtu, 29 Desember 2012

[Book Review] Please Look After Mom by Kyung Sook Shin








Judul Buku  : Please Look After Mom (Ibu Tercinta)
Pengarang  : Kyung Sook Shin
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  : 2011
Tebal : 296 Halaman


ABOUT
Seberapa penting peran seorang ibu bagi hidup kita? Apa yang akan terjadi jika sang ibu tiba-tiba menghilang? 

Itulah yang akan disampaikan pengarang melalui buku yang indah ini.

Kejadiannya bermula ketika sang Ibu dan Ayah pergi ke kota, mereka bermaksud untuk mengunjungi anak-anak mereka sekaligus merayakan ulang tahun mereka berdua. Tapi ternyata sang Ayah tak menyadari kalau istrinya tertinggal di Stasiun Seoul. Sedangkan dia baru menyadari hal itu ketika sudah melewati beberapa stasiun.

Ibu Hilang. Semua orang bingung. Frustasi. Menyalahkan diri sendiri. Bahkan saling menyalahkan satu sama lain. 

Telah dikerahkan seluruh upaya untuk menemukan sang Ibu. Mulai dari memasang iklan di berbagai media, melaporkan ke polisi, mengecek ruang-ruang UGD setiap rumah sakit, bahkan mencetak selebaran dan menjanjikan uang hadiah bagi yang menemukan.

Seiring upaya pencarian mereka, satu persatu kenangan tentang Ibu/Istri bermunculan. Dan mereka mulai menyadari bahwa sedikit sekali yang mereka ketahui tentang wanita yang hilang ini. Wanita yang cerewet, bawel dan tak jarang membuat mereka kesal. Tapi wanita inilah tiang penyangga keluarga mereka. Wanita yang selalu menjadikan keluarganya sebagai prioritas utama.


THE REVIEW
Novel ini merupakan novel terjemahan korea kedua yang saya baca setelah Tango. Rencana untuk membaca The Moon That Embrace The Sun terpaksa tertunda karena tergoda untuk membeli buku ini. Sudah lama sekali ingin membaca buku ini dan secara tidak sengaja menemukannya di toko buku.

Banyak buku-buku yang bercerita tentang sosok seorang Ibu. Yang membuat buku ini berbeda adalah karakter sang Ibu yang memiliki sifat seperti Ibu pada umumnya di dunia nyata. Maksud saya sosoknya sederhana, cerewet, bahkan bawel. Tapi dia tahu kalau anak-anaknya adalah hal yang harus diutamakan dalam hidupnya.

Mungkin memang ciri khas novel asli Korea, banyak narasi dan minim dialog. Karena, seperti Tango, di dalam buku ini narasi yang lebih dominan berperan. Kehadiran dialognya bisa dibilang sangat sedikit.

Dan, menurut saya pengarangnya sangat pelit memberikan keterangan tentang tokoh-tokohnya, bahkan tidak semua tokoh di buku ini namanya dibeberkan. Dan tak jarang hal itu membuat saya sedikit bingung. Tapi inilah salah satu yang saya suka dari buku ini. Karena sifat pelit sang pengarang, buku ini jadi punya banyak kejutan di dalamnya.

Selain itu point of view yang digunakan di buku ini juga akan membuat pembacanya bingung, tapi kebingungan itu akan terjawab pada akhir cerita. Jadi, kunci membaca buku ini hanyalah bersabar dan nikmati saja setiap lembarnya. 

Yang paling banyak berperan di dalam buku ini adalah sang anak sulung, Hyong-Chol, sang anak perempuan yang telah menjadi pengarang novel sukses, Chi-Hon, dan sang Ayah. Kisah kenangan Chi-Hon dan Ibunya adalah yang paling saya suka dari semua bagian buku ini.

Akhir kata, buku ini merupakan salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini.


MEMORABLE QUOTES

  • “Jadi dengan memasang iklan di koran berarti kita sudah berusaha sebisanya?” – Hal. 15

  • “Kata orang, kalau kau menolong manusia, dia akan mengkhianatimu, tapi kalau kau menolong anjing, dia akan membalas budimu. Kurasa anjing itu mati untuk menggantikanku.” – Hal. 64

  • “Kalau kau hanya melakukan apa-apa yang kausukai, lalu siapa yang akan mengerjakan apa-apa yang tidak kausukai?” – Hal. 74

  • “Bagaimana kau bisa hidup kalau tidak bisa menaruh percaya pada orang lain? Lebih banyak orang-orang yang baik daripada yang jahat.” – Hal. 92

  • Waktu pertama kali memakaikan sepatu di kakimu, aku sangat bersemangat. Waktu kau berjalan tertatih-tatih menghampiriku, aku tertawa begitu keras; andai pun ada orang yang menghujaniku dengan tumpukan emas permata, tidak akan bisa membuatku tertawa seperti itu.” – Hal. 94

  • “Setelah Ibu hilang, aku baru sadar bahwa semua hal ada jawabannya. Bahwa sebenarnya aku bisa memenuhi semua keinginannya. Cuma urusan remeh-temeh. Entah kenapa aku selalu membuat Ibu kesal gara-gara hal-hal seperti itu. Aku juga tidak akan bepergian naik pesawat lagi.” – Hal. 135

  • “Kebiasaan kadang-kadang menjadi sesuatu yang menakutkan. Kau berbicara sengan sopan kepada orang-orang lain, tetapi kepada istrimu kata-katamu selalu ketus. Kadang-kadang kau bahkan memakinya. Kau bersikap seolah-olah sudah diputuskan bahwa kau tidak bisa berbicara baik-baik kepada istrimu. Itulah yang kau lakukan” – Hal. 150

  • “Rumah adalah benda yang sungguh aneh. Benda-benda lain jadi semakin usang kalau sering digunakan, dan kadang-kadang kita bisa merasakan racun seseorang kalau kita berada terlalu dekat dengannya, tetapi tidak demikian halnya dengan rumah. Bahkan rumah yang bagus pun akan hancur dengan cepat kalau tidak ada yang mampir mengunjunginya. Rumah hanya terasa hidup kalau ada orang-orang yang tinggal di dalamnya, menyentuhnya, menjadi penghuninya.” – Hal. 245



RATING 4.5/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar