Minggu, 01 November 2015

[Book Review] Kukila - M. Aan Mansyur






Judul: Kukila
Pengarang: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Oktober 2015 (Cetakan ketiga)
Tebal: 192 Halaman

“Masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang, untuk itu ia menitipkan surat—kadang kepada sesuatu yang tidak kita duga. Kita menyebutnya kenangan.”

Berkat pinjaman dari seorang teman, saya bisa mencoret buku ini di daftar buku-buku yang sudah lama sekali ingin saya baca. Kukila berisi 16 cerita pendek karya M. Aan Mansyur yang beberapa di antaranya pernah dipublikasikan di media lain.

Dalam review ini saya hanya akan membahas beberapa judul cerpen yang paling meninggalkan kesan bagi saya.

Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)
Cerita pendek yang cukup panjang sampai memakan hampir setengah bagian buku ini bisa dibilang versi panjang dari cerpen berjudul “Di Tempat Kau Berbaring Sekarang”. Cerpen tersebut pertama kali saya baca di buku kumpulan cerpen “Dari Datuk ke Sakura Emas” yang terbit beberapa tahun yang lalu. Bercerita tentang Kukila dan rahasia masa lalunya yang ingin dia bagi ke anak-anaknya lewat surat dan bagaimana rahasia itu akan berpengaruh ke kehidupan mereka sekarang.

Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan
Seorang suami yang baru saja kehilangan istrinya perlahan-lahan mengetahui hal mengejutkan tentang istrinya melalui tas yang dia pegang sebelum meninggal kecelakaan.

Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi
Atas permintaan suaminya, setiap suaminya pergi bekerja Rahasia harus memakai celana dalam yang terbuat dari besi yang dikunci dan kuncinya dibawa ke kantor. Alasan suaminya melakukan itu adalah untuk mencegah adanya aksi perselingkuhan di pernikahan mereka. Berhasilkah?

Lebaran Kali ini Aku Pulang
Dua puluh tahun tak pernah pulang ke kampung halaman, karakter utama cerpen ini menyadari banyak hal yang berubah dari apa yang dulu diingatnya, termasuk orang-orang yang dia kenal.

Hujan. Deras Sekali.
Saya sudah pernah baca cerpen ini sebelumnya di kumpulan cerpen berjudul “Perempuan yang Melukis Wajah”. Baca ulang jadi tambah suka. Cerpen ini mengambil sisi lain dari banjir dengan kocak dan satir.

Secara keseluruhan, semua cerpen di dalam buku ini bagus, masing-masing punya kelebihan yang menonjol, bahkan hampir semuanya menyajikan twist mengejutkan di endingnya. Tapi, mungkin karena saking bagusnya cerpen pertama, Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), setelah membaca cerpen-cerpen selanjutnya saya jadi tidak bisa tidak membandingkannya dengan cerpen pembuka yang dahsyat itu.

Di cerpen pembuka inilah saya paling mengenali ke-khas-an tulisan Aan Mansyur di mana setiap paragrafnya ditulis dengan indah ditambah dengan diksi yang bikin iri. Bukan berarti cerpen lain jelek, cuma menurut saya kedahsyatan cerpen pertama menutupi cerpen-cerpen yang disuguhkan setelahnya.

“Aku ingin mati di bulan September yang kemarau seperti bunga-bunga di halaman. Tetapi mati tidak bisa dipesan lalu seseorang mengantarnya serupa pesanan dari restoran cepat saji yang iklannya ada di televisi. Aku ingin ditebang serupa pohon mangga. Dibakar di tempat sampah dan abuku menyuburkan rerumputan liar di halaman. Tetapi mati yang kuinginkan separuhnya dibawa Rusdi pergi, selebihnya dibagi-bagi di antara kalian. Aku tubuh semata. Percuma. Tubuh kosong tanpa apa-apa lagi di dalamnya, kecuali perasaan-perasaan yang berubah kalimat-kalimat ini. Aku telah mati, rupanya. Aku telah mati jauh malam sebelum semua doa-doaku tiba di alamat Tuhan.”







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar