Senin, 01 Juni 2015

[Book Review] Minoel by Ken Terate






Judul: Minoel
Pengarang: Ken Terate
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 272 halaman

“Siapa sih yang mau sama cewek cacat? Ada cewek cacat yang dapat pasangan sempurna, aku tahu, tapi aku sendiri nggak yakin itu akan terjadi padaku. Maksudku, apa sih kelebihanku?”

Minoel tak pernah punya pacar. Tidak seperti dua sahabatnya, Yola dan Lilis. Apalagi Yola yang sering banget gonta-ganti pacar! Cowok-cowok selama ini cuma memandang Minoel dengan sebelah mata. Bahkan kerap mempermainkannya. 

Apa coba yang bisa dibanggakan dari Minoel untuk membuatnya percaya diri? Dia tidak pintar dalam pelajaran. Keadaan ekonomi keluarganya juga jauh untuk dibilang berkecukupan. Dan keadaan fisiknya tidak sempurna; kaki Minoel cacat. Satu-satunya yang mungkin bisa membuatnya bangga adalah Minoel pandai menyanyi. Dan dia sering mendapat bayaran dari suaranya itu dengan mengisi acara-acara hajatan.

Tiba-tiba Akang mendekati Minoel. Dia bilang suka dengan penampilan Minoel ketika dia bernyanyi. Hati Minoel berbunga-bunga kala Akang menyatakan cinta. Belum pernah ada seorang cowok yang bilang cinta padanya.

Namun ada harga yang harus dibayar untuk cinta Akang, Minoel harus berkorban. Berkorban hati, perasaan, dan.. ehem.. sebagian honor menyanyinya. Tak jarang Akang bersikap kasar pada Minoel atau tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas. Cowok itu mulai melarang Minoel melakukan ini-itu.

Tapi bukankah cinta butuh yang namanya pengorbanan? Akang sudah berkorban untuk memberikan cintanya buat Minoel yang cacat. Dan Minoel pun harus berkorban untuk Akang, kan? Itu yang namanya cinta kan?

“Pokoknya, Noel, begitu kamu melihat tanda-tanda kekerasan pada diri cowok, segeralah lari, sejauh mungkin. Jangan harap mereka berubah. Mereka tak akan berubah kecuali ada mukjizat yang entah kapan datangnya. Bisa-bisa setelah kamu mati terbunuh.”

Sejak membaca Jurnal Jo, saya sudah mendeklarasikan diri sebagai penggemar Ken Terate. Selalu ada hal-hal yang bisa dipetik dari tulisan-tulisannya walaupun dengan bahasa kocak seperti dalam Jurnal Jo.

Mengusung ide cerita tentang KDP (Kekerasan dalam Pacaran), buku ini ditulis dengan format semacam diary milik karakter utamanya, Minoel. Pembaca akan diajak untuk menyimak cerita-cerita acak yang dituturkan oleh Minoel tentang apa yang telah terjadi dalam hidupnya.

Isu kekerasan dalam pacaran ini memang sangat menarik untuk dibahas. Menurut saya KDP marak sekali terjadi, cuma banyak yang tidak terekspos dan bahkan tidak sadar kalau perlakuan sang pacar tersayang sudah termasuk KDP T_T. Semoga banyak yang baca buku ini dan sadar kalau KDP juga merupakan sebuah kejahatan serius. 

Jika kalian sudah membaca Dark Love, novel yang juga ditulis oleh mbak Ken Terate tentang MBA, buku ini lebih “gelap” lagi dari Dark Love. Dan lebih serius dan pedas lagi mengkritisi bagaimana pendapat orang-orang mengenai KDP (lebih parahnya pihak berwenang). Karena masih saja banyak yang mengkambing-hitamkan perempuan dengan hal-hal buruk yang terjadi pada perempuan *sigh*.

Karena konsepnya yang seperti diary, which means yang ditulis di sini benar-benar suka-suka hati Minoel, timeline cerita di buku ini terkadang bikin bingung. Tapi bisa dimengerti sih, mengingat kondisi Minoel pasca kejadian “itu”. *penasaran dong hal buruk apa yang dialami Minoel? Ayok, baca bukunyaaa x))*

Ide cerita apik. Ditulis dengan amat baik. Seharusnya pantas mendapatkan 5 bintang. Sayang cover-nya rada bikin ilfeel -___-, malah menurut saya jika gambar tiga remaja cewek di cover mengilustrasikan Minoel, Lilis dan Yola, agak nggak nyambung. Saya lupa detailnya yang jelas Minoel pernah bercerita kalau ada di antara mereka yang memakai jilbab (atau saya yang salah persepsi? ._.). Dan buku ini tak bisa dibilang rapi, tidak banyak typo-nya, tapi cukup mengganggu.

 “Untuk lepas dari suatu rasa sakit, kita butuh sakit dulu. Aneh, ya? aku harus kuat menahan sakit kecil ini untuk bisa lepas dari rasa sakit yang lebih besar.”


“Masalah dari bercerita adalah mengingat. Masalah dari mengingat adalah gelombang jeri, pedih, dan luka yang langsung bergumul dan bergulung-gulung melanda. Demi Tuhan, aku tak ingin mengingatnya lagi. Andai hari itu bisa dihapus dari kalender. Maksudku, dari ingatanku. Mungkinkah itu? Menghapus memori di otak seperti menghapus memori di HP?”


RATING 4.5/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar