Minggu, 15 Maret 2015

[Book Review] Kismet by Nina Addison






Judul: Kismet
Pengarang: Nina Addison
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 296 halaman

“Forgiveness may take a lifetime to come, Al. But it will come especially when there’s enough love at its stake.”

Alisya dan Cia pertama kali bertemu diawali dengan insiden yang melibatkan sebuah layangan tinju. Alisya yang saat itu sedang mencari tempat tinggalnya di New York kemudian menerima tawaran Cia untuk berbagi apartemen bersama. Pertemuan mereka disebut-sebut Cia sebagai kismet, takdir.

Sejak saat itu mereka sudah seperti keluarga, kebetulan mereka berdua sama-sama punya darah Indonesia. The Runaway Sisters julukan mereka, karena Alisya dan Cia sedang “kabur” dari keluarga mereka masing-masing. Dengan segala problematika yang dihadapi, malah membuat mereka tak terpisahkan.

Tapi sesuatu terjadi pada Cia, dan itu harus membuatnya kembali ke Indonesia. Kembali ke keluarganya. Bahkan benua yang berbeda tidak membuat hubungan mereka renggang. Sampai kemudian Raka muncul di antara mereka.

Raka, satu-satunya cowok yang mampu membuat Alisya jatuh cinta. Bisa membuat Alisya merasa kupu-kupu di perutnya, setruman listrik di sekujur tubuhnya. Raka yang ternyata juga berhubungan dengan orang yang pernah ada di masa lalunya. Sayang jatuh cinta pada Raka sama artinya dengan menghancurkan persahabatannya dengan Cia. Namun, cinta tidak butuh izin untuk ada, bukan? Dia datang mengendap-endap dari tempat gelap, dan bam! Tahu-tahu kamu sudah merasakannya tanpa kamu sadari. 

Apa keputusan yang diambil Alisya? Persahabatan? Cinta? Cari tahu jawabannya dalam Kismet ;)

“Itulah alasan kenapa kita pacaran, Al. To make sure that he is the guy worth the wait.”
Nah-uh. Itu namanya pedekate alias pendekatan. Pacaran adalah proses belajar ketika lo memasukkan dia ke dalam hidup lo. Ketika pelan-pelan lo buka hati lo buat dia. Kesimpulannya lo move on ke tahap berikutnya, atau putus karena memang nggak cocok.”

Hal pertama yang saya lakukan ketika membaca buku ini adalah: mengetikkan kata “kismet” di kolom pencarian Google. Dan ini yang saya temukan dari Urban Dictionary:
The word Kismet is of foreign origin and is used in Turkish, Urdu, Hindi and Arabic. In Hindi it would be pronounced more like kismat, and it means "fate" or "destiny". The meaning is exactly the same in English. So instead of saying, "it is fate", you could say "it is kismet".

Menurut saya selain cover, judul buku juga bisa menjadi salah satu pertimbangan seseorang untuk memutuskan akan membaca buku tersebut atau tidak. Dan, buat saya sendiri judul buku ini sudah berhasil membangkitkan kekepoan calon pembaca.

Kismet bukan tulisan pertama dari mbak Nina Addison yang saya baca. Sebelumnya saya sudah pernah membaca dua cerpennya di dua kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh GPU; Autumn Once More dan Cerita Cinta Indonesia. Cerpen Perkara Bulu Mata di Autumn Once More jadi salah satu favorit saya di kumcer tersebut :D tapi sayang Karena Darren di Cerita Cinta Indonesia, walaupun lucu, ceritanya kurang berkesan.

Kembali membahas Kismet, di bagian awal saya mempertanyakan kenapa buku ini diberi label Metropop, karena usia Alisya & Cia yang masih muda—21-22 tahun—biasanya stereotype tokoh-tokoh Metropop itu biasanya wanita dewasa dengan karir cemerlang. Ternyata, timeline buku ini cukup lama. Bahkan konflik utamanya terjadi bertahun-tahun kemudian setelah pertemuan pertama Alisya dan Cia.

Bukunya ringan seperti Metropop pada umumnya, gaya penulisan mbak Nina berhasil membuat saya terhanyut dengan kisahnya. Dan saya harus mengucapkan selamat kepada kakak editor juga—kak Dinoy, buku ini benar-benar rapi, saya tidak menemukan ada typo di buku ini. Good job kak Dinoy ;)

Yang bikin kurang nyaman adalah ketika tiba-tiba terjadi perubahan sudut pandang melalui Ethan dan Raka. Porsinya memang sedikit, dan mungkin dimaksudkan agar adegan “menyedihkan” itu lebih nyampe ke pembacanya. Tapi malah menurut saya lebih baik kalau tetap memakai sudut padang Alisya saja yang menceritakan bagian tersebut. Soalnya berasa nanggung kalau porsi bercerita mereka cuma di bagian itu.

Untuk endingnya, saya benar-benar puas. Karena di buku-buku romance seperti ini, yang jadi masalah biasanya ada pada endingnya. Diakhiri dengan begitu saja yang penting happy ending. Tapi tidak dengan Kismet. Mbak Nina tidak terkesan buru-buru mengakhiri kisah Alisya.

Bagian favorit saya adalah ketika Alisya mengunjungi ibunya di Houston. Dialog-dialog di bagian itu quotable banget! Dan juga bagian klimaks ketika penyelesaian konfliknya (yang setting-nya di Bryant Park). Lucu dan bikin terharu.

Overall, buku ini jadi salah satu Metropop favorit saya. Pantas mendapat 4 bintang. Dan buat mbak Nina, seperti pembaca lain juga, akan menyenangkan buat saya kalau bakalan ada kisah sendiri tentang Ethan. Saya sudah terbayang bukunya bakal bertebaran dengan hidangan-hidangan yang bikin ngiler. Atau, versi panjang Perkara Bulu Mata juga boleh loh mbak. Pleaseeeee ... *puppy eyes*

MEMORABLE QUOTES:

  • “Buat aku sih konsep kue, lilin, dan kado untuk perayaan ulang tahun anak-anak masih masuk akal. Karena setiap tahun punya arti yang menyenangkan; tambah tinggi, tambah pintar, tambah kebisaan, naik kelas, tambah piala, dan lain-lain. Tapi ketika kita sudah dewasa, apa sih arti bertambah umur selain tanggal expired yang semakin dekat? Kalau ada yang bisa kita rayakan, itu adalah menjadikan keberadan kita di dunia ini jadi lebih berarti.” – Hal. 74-75
  • “Banyak orang terjebak ilusi bahwa mereka bisa atau bahkan berhak untuk mengoreksi pandangan orang lain. Padahal apa yang harus dikoreksi jika definisi benar dan salah sendiri berbeda bagi setiap orang?” – Hal. 113
  • “The thing about love, Al, it requires hard work to maintain it. Because in life, people are constantly changing. That’s just what life does to us, it changes us.” – Hal. 259
  • “We took a chance, dear. Isn’t that what life is all about? Atau kamu lebih memilih wondering about the ‘what if’ seumur hidupmu?” – Hal. 262
  • “Lo pikir di dunia ini yang namanya cinta sejati tuh kayak apa? Yang penghuninya nggak pernah berantem? Yang mulus dan lancar, macam ‘a walk in the park’? salah, Al! Cinta sejati itu penuh bompel-bompel, growakan, tambal sana-sini, retak sana-sini, but guess what? Ketika dia masih bernyawa, dia akan tambah kuat selepas tiap cobaan yang datang.” – Hal. 278


RATING 4/5



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar