Rabu, 31 Juli 2013

[Review Borongan] Setiap Tempat Punya Cerita (GagasMedia)


note: review saya tentang Paris(STPC #1) bisa dilihat di sini






Judul: Roma: Con Amore(Setiap Tempat Punya Cerita #2)
Pengarang: Robin Wijaya
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 384 halaman

“Aku hanya perlu satu. Keberadaanmu. Di sisiku...”

Leonardo Halim, pelukis asal Indonesia yang juga sukses di luar negeri dan karya-karyanya banyak diminati oleh penikmat seni di berbagai belahan dunia. Punya pacar yang setia dan mendukung profesinya, bernama Marla.
Felice Patricia, tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di salah satu perusahaan di Italia, juga sudah punya kekasih bernama Franco.
 
Suatu hari sebuah kesalahan dalam pengiriman lukisan karya Leo ke pembeli, membuatnya bertemu Felice di Roma, Italia. Waktu itu, Felice yang keras kepala dan tidak mau mengaku salah sempat membuat Leo sedikit kesal.
Ketika kemudian mereka bertemu kembali di Bali, pertemuan-pertemuan itu membuat mereka menyadari ada yang berubah di hati mereka masing-masing.

“Setiap orang punya ruang dan tempat tersendiri. Mereka yang pergi dan datang tak akan pernah bisa saling menggantikan”



Sebenarnya saya sudah sedikit lupa dengan jalan cerita buku ini :D bahkan quotes-nya saja saya comot langsung dari goodreads.

Mari kita mulai dengan hal yang saya suka di buku ini. Saya suka covernya, sketsa-sketsa yang ada di dalamnya juga kartu pos yang memang menjadi bonus di setiap seri Setiap Tempat Punya Cerita dari GagasMedia.

Hal yang saya tidak suka, menurut saya cerita di buku ini terlalu bertele-tele dan tidak meninggalkan kesan sama sekali. Boleh saja kalau penulisnya mendeskripsikan sesuatu dengan detail, tapi di buku ini deskripsinya terlalu detail sehingga membuat saya bosan ._.

Terakhir, saya memang bukan penggemar kalimat manis nan melankolis, dan kalimat-kalimat yang terdapat di bawah judul setiap chapter sukses membuat saya ilfeel.


RATING 2.5/5





Judul: Bangkok: The Journal(Setiap Tempat Punya Cerita #3)
Pengarang: Moemoe Rizal
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 436 halaman


“Tidak semua orang punya kesempatan untuk bertemu orangtua setiap hari. Tapi, ada saja orang yang dengan sengaja melepaskan kesempatan itu untuk ego pribadi."

Edvan, seorang arsitek sukses tiba-tiba mendapatkan sms singkat dari seseorang ketika dia sedang merayakan keberhasilannya membangun sebuah gedung di Singapura. Orang yang mengirim sms tersebut adalah adiknya, Edvin.

Sudah lama Edvan tidak bertemu dengan Ibu dan adiknya, sampai kemudian sms yang diterimanya itu mengabarkan kalau sang Ibu sudah meninggal dunia.

Walaupun masih menyimpan benci dengan keluarganya, Edvan akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia untuk menghadiri pemakaman ibunya.

Singkat cerita, ketika Edvan bertemu kembali dengan Edvin, sang Ibu sudah menitipkan sebuah warisan untuk Edvan. Uniknya, warisan itu berupa kalender tua yang ditulisi jurnal oleh ibunya. Jurnal-jurnal itu berisi tentang pengalaman ibu mereka di Bangkok juga tentang pertemuan ibu mereka dengan cinta sejatinya. 
Edvan ditugaskan untuk mencari 6 jurnal lain yang tersebar di Bangkok, Thailand. Petunjuk tempat menemukan jurnal-jurnal itu terdapat pada tulisan di jurnal setelahnya.

Tentu saja Edvan awalnya menolak tugas konyol itu, tapi ada hal lain yang mendorongnya untuk mencari jurnal-jurnal itu di Bangkok.


“I’m not Cinderella. Hik!” | “But I know where she is.”
“Not in Disneyland!”

Salah satu yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah karena kota yang dipilih oleh bang Moemoe Rizal untuk seri STPC-nya ini adalah kota di Asia, bukan kota-kota eksotis di Eropa.

Dari awal tokoh Edvin muncul, saya sudah memutuskan untuk menyukai buku ini :), apalagi dengan gaya penceritaan bang Moemoe yang kocak dan mengalir, membuat saya makin tidak bisa melepaskan buku ini sebelum menyelesaikannya.

Cerita di buku ini secara garis besar tentang keluarga, walaupun dibumbui dengan sedikit unsur romance.
Oh iya, saya merasa sedikit terkejut dengan kemunculan tokoh dari Fly to the Sky sebagai cameo. Juga cara bang Moemoe “mempromosikan” karya-karyanya yang lain dengan menjadikan judul karya tersebut sebagai judul bab-bab di buku ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah jurnal-jurnal yang ditemukan Edvan itu berisi kode harta karun? *intonasi feni rose* *mata melotot Leily Sagita*.


“Buatku, waria seperti anakku yang sering menghormati aku, jauh lebih baik dibanding laki-laki jantan yang berdosa terhadap ibunya sendiri.”



RATING 4/5




Judul: Melbourne: Rewind(Setiap Tempat Punya Cerita #4)
Pengarang: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 340 halaman


“Isn't that what love is? Being scared, then being brave, because of that one person?”

Max dan Laura, mantan sepasang kekasih, bertemu kembali di Melbourne setelah bertahun-tahun tak bertemu.

Sekarang Max sudah mewujudkan impiannya berkerja di bidang cahaya, salah satu hal yang digilainya. Sedangkan Laura bekerja di sebuah stasiun radio di Melbourne.

Pertemuan itu kembali mendekatkan mereka, bahkan secara alami kebiasaan mereka “nongkrong” di Prudence seperti ketika mereka masih bersama, dianggap sebagai hal biasa.

Namun ternyata, tanpa Max duga, Laura kemudian menyukai seorang laki-laki yang dianggapnya sebagai belahan jiwa karena merek mempunyai banyak kesamaan akan hal-hal yang mereka sukai.
Kelanjutan ceritanya? Baca sendiri di Melbourne ;)


“Gue percaya definisi first love adalah rasa pertama, saat lo melihat jauh ke dalam mata seseorang, dan memutuskan bahwa masa depan dan kebahagiaan lo ada bersamanya.”

Buku ini merupakan seri STPC yang paling galau, sekaligus paling saya favoritkan (sebelum baca Melbourne saya sempat memfavoritkan Bangkok. Iya, saya tahu saya labil ._.)

Yang paling saya suka dari buku ini adalah sudut pandangnya diambil dari dua karakter, Max dan Laura. Hal itu membuat saya jadi mengerti bagaimana perasaan masing-masing karakter dan hanyut oleh pergolakan batin mereka.

Penyebab pisahnya hubungan Max dan Laura baru diceritakan ketika sudah memasuki pertengahan buku, dan saya dibuat penasaran oleh bagian itu. Ternyata alasannya cukup simple :D

Dan yang paling penting adalah endingnya. Saya suka kalimat satu paragraf sebelum paragraf terakhir di bagian endingnya.

Melbourne sangat direkomendasikan untuk kalian penggemar cerita-cerita manis dengan karakter yang juga manis xD

"If there's anything I learn from this old life of mine, it is that love is not to be feared, but to be embraced, I hope you conside this as advice from a friend, not a fortune teller."


RATING 4/5


Dan, tujuan selanjutnya seri STPC adalah: (*trak trak trak dung cess..*) LONDON!!! Yang ditulis oleh Windry  Ramadhina!!! 


 
penampakan cover London

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar