Kamis, 25 Juli 2013

[Book Review] Macaroon Love by Winda Krisnadefa






Judul: Macaroon Love
Pengarang: Winda Krisnadefa
Penerbit: Penerbit Qanita
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 264 halaman

Oke, saya harus mengaku kalau sebelum membaca buku ini, saya mengira kalau macaroon itu adalah makanan sejenis macaroni (karena namanya yang mirip). Dan ternyata, saya salah BESAR. Macaroon itu merupakan jenis kue dari Perancis yang bentuknya mirip seperti burger mini.

penampakan macaroon, gambar diambil di sini


Kembali ke bukunya, buku ini bercerita tentang seorang food writer yang bernama Magali. Salah satu keunikan yang dimiliki Magali adalah: dia membenci namanya sendiri :D yah memang saya pernah mendengar kalau “nama merupakan salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang paling sering ditemui.”, contohnya saya yang (sampai sekarang) masih mengidamkan punya nama yang terdiri dari dua kata. Tak sedikit orang yang benci dengan namanya sendiri seperti Magali.

Suatu hari, Magali bertemu dengan Ammar, pemilik restoran (yang anehnya) bernama Suguhan Magali.  Karena restoran ini memiliki menu-menu yang unik, Magali langsung mengajukan diri untuk meliput restoran Suguhan Magali.

Hal itulah kemudian yang menjadi titik balik kehidupan Magali mulai dari mempunyai rubrik sendiri di majalah tempat dia bekerja sampai kemudian dia merasakan sesuatu yang disebut cinta.

(lagi) penampakan kue macaroon (source)

Jujur saja, yang membuat saya tertarik membaca buku ini adalah embel-embel “Naskah Unggulan dalam Lomba Penulisan Qanita Romance” yang terdapat di kavernya. Dan ternyata pilihan saya tidak keliru. Buku ini punya cerita yang sangat ringan dan mudah dicerna. Pantas sekali menjadi naskah unggulan.
Selain itu, penggambaran karakter tokohnya sangat kuat. Hal inilah yang kemudian membuat saya jadi menyukai tokoh Magali, walaupun saya agak sedikit ilfeel ketika tahu kalau Magali suka makan kentang goreng yang dicolek sundae -____- sangat aneh menurut saya. *membaca bagian itu, malah membuat saya teringat nenek saya dulu yang hobi makan kerupuk dicelup kopi*.

Selain Magali, tokoh yang juga saya sukai adalah Beau. Sepupu Magali yang (katanya) cakep dan berkarakter tak kalah unik dari Magali.

Sayangnya, saya kurang suka dengan judulnya. Karena, macaroon hanya dibahas sedikit sekali di buku ini, jadi rasanya kurang cocok menjadikan macaroon sebagai judulnya. Atau penggunaan macaroon karena memang kue imut yang satu ini memang lagi trend kali ya? Bisa juga agar judulnya mudah diingat *sotoy*. Kalau itu tujuannya, saya rasa cukup berhasil walaupun bagi saya masih kurang cocok.

Tapi walaupun saya masih dibuat geregetan dengan judulnya, buku ini masih berhasil menghibur saya.

RATING 3.5/5

p.s.: fakta yang cukup mengejutkan  adalah, ternyata restoran Suguhan Magali benar-benar ada, tepatnya di Jakarta Selatan.
  Suguhan Magali di dunia nyata. (source)
p.p.s.: tidak dianjurkan untuk membaca buku ini ketika berpuasa xD

Postingan ini diikutkan di "Lomba Review Macaroon Love Bersama Smartfren dan Mizan". Info selanjutnya bisa dilihat di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar