Tampilkan postingan dengan label Reading Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reading Challenge. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2016

Wrap Up NARC 2015






Posting pertama di tahun 2016. Blog ini jadi semakin terbengkalai deh. Niatnya kemarin saya mau bikin rekapan bacaaan saya di tahun 2015, tapi sungguh banyak sekali pekerjaan yang menyita waktu (bahkan sampai menyita waktu tidur T_T).

Tahun 2015 kemarin saya ikutan New Author Reading Challenge yang diselenggarakan oleh Mbak Ren. Cukup menantang, dan berkat challenge ini saya bisa kenalan dengan lebih banyak lagi penulis dalam maupun luar negeri yang layak dinantikan karya terbaru mereka.

Dan inilah wrap up NARC 2015, tidak smeua bukunya saya review di blog, ada banyak yang saya review atau rate di akun goodreads saya saja. Eh iya, dua kategori khusus yang saya ikuti ada E-Book Lover dan Support Local Author. Untuk buku-buku yang saya baca lewat iJak akan saya masukkan ke kategori E-Book Lover.

#1 The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo (Januari) /E-Book Lover
#2 This Song Will Save Your Life – Leila Sales (Januari) /E-Book Lover
#3 Stolen Songbird – Danielle L. Jensen (Februari)
#4 The Marriage Roller Coaster – Nurilla Iryani (Februari) /Support Local Author
#5 Warna Hati – Sienta Sasika Novel (Februari) /Support Local Author
#6 Romansick – Emilya Kusnaidi (Maret) /Support Local Author
#7 Kata Kota Kita – 17 Penulis Terpilih GWP Batch 1 (April) /Support Local Author
#8 To All the Boys I’ve Loved Before – Jenny Han (April) 
#9 Perfection – Farrahnanda (Mei) /Support Local Author
#10 Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe – Benjamin Alire Saenz (Juni) /E-Book Lover
#11 Kahve – Yuu Sasih (Juni) /Support Local Author
#12 Wonderstruck – Brian Selznick (Juni)
#13 2 States – Chetan Bhagat (Juli)
#14 Above the Stars – D. Wijaya (Juli) /Support Local Author
#15 Finding Audrey – Sophie Kinsella (Juli)
#16 The Girl on theTrain – Paula Hawkins (Agustus) /E-Book Lover
#17 Girls in the Dark – Akiyoshi Rikako (Agustus)
#18 Kambing & Hujan – Mahfud Ikhwan (September) /Support Local Author
#19 2 Sisi Cinta – Rhesy Rangga (September) /Support Local Author
#20 Mawar Hitam – Candra Malik (September) /Support Local Author
#21 Between Shaded of Gray – Ruta Sepetys (September)
#22 Dilan – Pidi Baiq (September) /Support Local Author
#23 Puya ke Puya – Faisal Oddang (Oktober) /Support Local Author
#24 Sudut Mati – Tsugaeda (Oktober) /Support Local Author
#25 The Thing About Jellyfish – Ali Benjamin (Oktober) /E-Book Lover
#26 So, I Married the Anti-fan – Kim Eun Jong (Oktober)
#27 Where’d You Go, Bernadette? – Maria Semple (Oktober)
#28 Simon vs. the Homo Sapiens Agenda – Becky Albertalli (November) /E-Book Lover
#29 Kilah – Vinca Callista (November) /Support Local Author
#30 Tanah Tabu – Anindita S. Thayf (November) /Support Local Author
#31 The Rosie Project – Graeme Simsion (Desember)
#32 Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang – Guntur Alam (Desember) /E-Book Lover
#33 Di Balik Kerling Saatirah – Ninik M. Kuntarto (Desember) /E-Book Lover
#34 Semua untuk Hindia – Iksaka Banu (Desember) /E-Book Lover

Yak, itu dia wrap up NARC 2015 dari saya. Lumayan juga ada 34 buku, mengingat pas saya daftar, saya milih level easy (1-15 buku). Jadi dengan ini dinyatakan reading challenge yang satu-satunya saya ikuti di tahun 2015, SUKSES! \o/

Minggu, 03 Mei 2015

NARC 2015 Progress Update





Lagi baca-baca kicauan-kicauan di timeline twitter, eh baru inget kalo belum sempat bikin post untuk update progress NARC 2015. Setelah ngepoin beberapa blogger lain yang berpartisipasi jadi agak sedikit minder sik dengan progress saya x))
Dari  bulan Januari sampai April, inilah buku yang saya baca untuk NARC 2015:


  1. The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo (Januari)
  2. This Song Will Save Your Life – Leila Sales (Januari)
  3.  Stolen Songbird – Danielle L. Jensen (Februari)
  4.  The Marriage Roller Coaster – Nurilla Iryani (Februari)
  5.  Warna Hati – Sienta Sasika Novel (Februari)
  6.  Romansick – Emilya Kusnaidi (Maret)
  7.  Kata Kota Kita – 17 Penulis Terpilih GWP Batch 1 (April)
  8.  To All the Boys I’ve Loved Before – Jenny Han (April) 

Dan untuk kategori tambahan:
E-book Lover: The Miraculous Journey of Edward Tulane, This Song Will Save Your Life.
Support Local Author: The Marriage Roller Coaster, Warna Hati, Romansick, Kata Kota Kita.

Dikit kan? Jadi malu sendiri sik kalo blog walking di update-an peserta lain :D semoga di bulan berikutnya saya bisa lebih banyak lagi baca bukunya :))

Rabu, 25 Februari 2015

[Book Review] Warna Hati by Sienta Sasika Novel




Judul: Warna Hati
Pengarang: Sienta Sasika Novel
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 203 halaman

“Mungkin keikhlasan adalah jalan terbaik dibandingkan kehilangan.”

Setiap cinta akan menggoreskan warna sendiri, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi saat kita memilih satu di antara dua hati. Mereka memiliki ruangnya sendiri, memiliki waktunya sendiri, dan memiliki lintasannya sendiri.

Kita pun tidak akan mampu memilah cinta mana yang akan mengembuskan rona-rona kebahagiaan atau justru luka-luka yang akan tergores. Ya, cinta terkadang seperti kembang gula terasa manis, tapi cinta juga terkadang terasa getir.

Dan saat dihadapkan dengan luka, akankah cinta tetap bertahan di tempatnya? Atau berlari menyusuri masa lalu dan kembali pada hati yang dulu tidak ia pilih?

Namun, cinta bukan melulu tentang perasaan yang meluap-luap, cinta juga bicara tentang keyakinan akan benang merah yang telah mengikat.

“Mas tidak mampu menjadi suami yang bertanggung jawab, Mas hanya bisa menjadi laki-laki setia, ah ... tapi setia sudah tidak dibutuhkan lagi ya?”

Sengaja saya tidak membeberkan kisah yang ada di buku ini karena jika saya ceritakan, nanti malah jadi ketahuan kejutan di endingnya :D jika kalian mengira kalau kisahnya tentang cinta, kalian sama sekali tidak salah. Lebih tepatnya lagi, buku ini bercerita tentang pilihan.

Di dalam hidup pasti kita dihadapkan dengan yang namanya pilihan, dan pilihan itu secara langsung nantinya akan memengaruhi kehidupan kita di masa yang akan datang. Seperti tokoh utama di buku ini, Tavita. Melalui Tavita, penulis berhasil menggambarkan bagaimana pilihan yang ia buat itu dapat mengubah hidupnya kelak.

Awalnya ketika saya membaca buku ini, tepatnya di bagian pertama; Jingga. Saya pikir buku ini hampir mirip dengan The Marriage Roller Coaster-nya Nurilla Iryani, bedanya kehidupan pernikahan yang diceritakan bukan berkonflik pada waktu dan perhatian, tapi lebih pada ekonomi rumah tangga. Pendapat saya langsung berubah seketika saya mulai membaca bagian keduanya; Biru. Salut buat penulis yang punya konsep unik buat buku ini. Walaupun ketika memulai bagian keduanya saya agak dibuat bingung sik :D 

Keunggulan lain yang dimiliki di buku ini adalah ceritanya memang realistis sekali, banyak ditemukan di kehidupan nyata. Mulai dari mertua cerewet yang selalu membandingkan menantunya, sepupu yang segalanya pengin dipamerin, dan lain-lain.

Sayangnya, ketika membaca buku ini saya cukup terganggu dengan typo-nya yang bertebaran di sepanjang halaman, cukup banyak yang saya temukan, akan terlalu panjang jika saya tulis satu-persatu di sini. Termasuk kesalahan penggunaan “di” untuk menyatakan tempat atau sebagai kata kerja pasif. Selain itu, kata-kata yang ditulis dengan huruf double-double juga, seperti “PPPPRRRAAAAANNNNKKKKKKKKK”, “Aaaaarrrrggghhhh” cukup bikin risih pas baca.
Overall, bukunya lumayan kok, cukup menghibur. Dan nggak berat-berat amat, jadi cukup mudah bagi saya menyelesaikannya di saat mood baca lagi turun seperti sekarang :( *ujung-ujungnya curcol x))*

“Pilihlah warna mimpimu sendiri, karena ... warna apa pun yang kau pilih, ia akan tetap meninggalkan jejaknya di hidupmu.”

 
RATING 3/5

Selasa, 03 Februari 2015

[Book Review] The Marriage Roller Coaster by Nurilla Iryani






Judul: The Marriage Roller Coaster
Pengarang: Nurilla Iryani
Penerbit: Stiletto Book
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 206 halaman

“Buat apa kita menikah kalau bertemu saja susah begini? Buat apa kita menikah kalau tetap merasa sendirian dan kesepian? Ah ternyata pernikahan jauh sekali dari bayanganku sebelumnya.”

Kehidupan pernikahan itu bagaikan roller coaster. Yes? No? Jungkir balik! Kadang di atas, kadang di bawah. Ada yang menikmati dan tertawa bahagia, ada juga yang tersiksa dan menangis tersedu. Setelah mencobanya, setiap orang punya pilihan masing-masing: ingin terus mencoba atau justru kapok luar biasa.

Bagaimana dengan Audi dan Rafa? Kehidupan urban yang dijalani pasangan ini memberi tantangan lebih pada pernikahan mereka. Bagaimana mencari waktu untuk bersama di tengah kesibukan mereka. Bagaimana mengatur mood setelah semua energi positif hilang di kantor. Bagaimana menahan godaan dari orang yang pernah hadir di masa lalu.

Akankah mereka terus mencoba dan bertahan? Atau justru kapok dan menyerah?

“Mungkin sekarang aku masih cinta sama kamu, tapi bagaimana cintaku bisa bertahan kalau kamu bahkan nggak pernah ada buatku? Kata orang, cinta bisa datang karena terbiasa. Bagiku, cinta bisa hilang karena terbiasa nggak ada.”

Ini merupakan buku terbitan Stiletto pertama yang saya baca :D kisahnya nggak baru-baru amat sih, tentang lika-liku kehidupan pernikahan yang menghadapi berbagai cobaan mulai dari waktu yang tersita perkerjaan, sampai dengan kehadiran orang di masa lalu.

Kerennya, buku ini bisa saya habiskan dalam waktu sehari saja. Waktu yang singkat untuk ukuran saya. Mungkin karena bukunya ringan alias nggak terlalu berat untuk dicerna, yang jelas penulisnya berhasil mendistraksi saya untuk tetap baca buku ini, konflik yang dihadirkan seru dan emosi yang dirasakan karakter Audi nyampe ke saya.

Tapi sayang, ketika sampai di puncak konflik, belum lama udah sampe ending aja nih -_- saya setuju dengan review-review orang yang bilang kalau endingnya buru-buru banget. Kecepetan! Seharusnya bisa dipanjangin sedikit lagi sik, biar kesannya Audi nggak terlalu gegabah mengambil keputusan.

Dan seperti chicklit pada umumnya, buku ini juga punya “bahasa gado-gado” alias ada sedikit-sedikit menggunakan bahasa Inggris. Nggak masalah sik kalo nyambung dengan konteksnya atau nggak keliatan aneh. Tapi saya menemukan ada yang janggal, seperti kalimat yang kurang lebih begini: “Aku bahkan curiga deep down inside aku merindukan meeting dengan Yoga di tempat ini.” Menurut saya janggal kalimatnya, kenapa nggak pake “jauh di dalam lubuk hatiku” atau kalimat bahasa Indonesia yang lain? Nggak terlalu penting sik, cuma sedikit mengganggu saya :D

Yang paling saya sayangkan ya masalah penyelesaian konfliknya yang kecepetan, atau bisa dibilang saya mengharapkan buku ini akan lebih panjang :D jadi, 3 bintang pantas diberikan buat buku ini :))

“Women think their man will change. Wrong! And men think their woman won’t change. Wrong!.”


RATING 3/5