Tampilkan postingan dengan label 3 bintang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3 bintang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2016

[Book Review] Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu: Sehimpun Puisi Jokpin 1980-2012





Judul: Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu
Pengarang: Joko Pinurbo
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Agustus 2016
Tebal: 136 halaman


“Mataku berhutang kepada matamu.
Mataku sering meminjam cahaya matamu
untuk menulis dan membaca
ketika tubuhku padam dan gelap gulita” – Kepada Helen Keller


Saya masih keukeuh memercayai anggapan bahwa buku itu sama kayak jodoh, kalo emang sudah ditakdirkan untuk kita baca, bagaimana pun jalannya pasti kita diberi kesempatan untuk membacanya. Bisa lewat nggak sengaja kebeli pas iseng mengunjungi toko buku, pinjaman dari teman, atau dapet gratisan. Buku kumpulan puisi ini juga, saya mendapatkannya dari SCOOP lewat kuis #SCOOPWishlist beberapa waktu yang lalu.

PUISI. P-U-I-S-I. Mungkin tak peduli berapa kali pun saya membaca buku puisi, dan mereview-nya, saya tetap akan membicarakan hubungan unik saya dengan puisi, bagaimana saya tetap berjodoh dengan buku-buku puisi meski jarang menemukan yang benar-benar bisa saya nikmati. Bagaimana sebuah buku kumpulan puisi bisa begitu memukau saya dengan ke-relate-annya dengan kehidupan saya. Bagaimana sebuah buku puisi meski sudah memusingkan otak saya ketika membacanya, tak membuat saya kapok untuk membaca buku kumpulan puisi yang lain.

Jika menengok lagi sejarah hidup saya, ketika saya masih di bangku sekolah, masih menjadi remaja kinyis-kinyis *silakan kalau mau muntah, saya saja yang nulis jijik sendiri kok*, saya paling benci diberi tugas menulis puisi. Saya jauh lebih suka tugas menulis cerpen yang cukup memerlukan imajinasi dan kata-kata sederhana untuk menceritakannya. Kalau puisi, entahlah sampai sekarang pun anggapan saya puisi adalah sesuatu yang sakral, salah pemilihan satu kata pun akan mengurangi esensinya, akan berkurang keelokannya.


Saya pernah, pake shampo lain, ketombe balik lagi *abaikan saja* memberikan puisi karya saya sendiri untuk seseorang yang sedang berulang tahun, sebagai hadiah. Katanya sih, dia suka, saya senang sih, tak peduli entah itu memang dari hatinya atau sekadar basa-basi demi kesopanan semata. Sudah ah, dilarang baper, saya kan sudah mupong x)) Mari bahas buku kumpulan puisi berjudul menarik ini saja.

“...
Pohon keramat itu selalu ramai dikunjungi peziarah
yang datang untuk memohon berkah dan tuah.
Dan kata orang, hanya yang kudus dan bersih hidupnya
boleh ke sana. Sedangkan aku seorang pendosa
yang ketika lahir saja sudah tega menyiksa
dan melukai seorang wanita.
...” – Pohon Perempuan

Berbicara mengenai buku puisi ini, cerpen-cerpen di dalamnya ditulis oleh Joko Pinurbo dalam kurun waktu 1980an-2012. Sebagian puisi-puisi yang ditulis dalam kurun waktu tersebut telah dihimpun di dalam buku puisinya yang berjudul Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, sebagiannya lagi ada di dalam buku ini.

Untuk puisi-puisinya, saya malu mengakui kalau sedikit sekali puisi di dalamnya yang saya sukai. Bukan. Bukan karena jelek, tapi puisi-puisi di dalam buku ini sudah berada di kelas berbeda dari yang bisa saya cerna. Sungguh, banyak yang tidak saya mengerti maksud puisi tersebut, terutama yang panjang-panjang sampai beberapa halaman. Makanya saya yakin, pencinta puisi sejati pasti akan menyukai buku ini.

Beberapa puisi yang saya suka di antaranya ada Tuhan Datang Malam Ini, Pohon Perempuan, Doa Mempelai, Selamat Tidur, Kepada Hellen Keller, dan Ingatan. Namun sayang, puisi yang kemudian dipilih menjadi judul buku ini terpaksa harus masuk ke kategori belum berhasil saya cerna sampai sekarang. Padahal sepertinya (((sepertinyaaa x))), puisi ini bagus dan punya makna mendalam.

Untuk puisi paling memukau, saya menjagokan puisi berjudul Selamat Tidur. Puisi ini ditulis di tahun 2003 ajaibnya amat sangat sesuai sekali dengan kondisi sekarang. Temanya biasa, tapi sindirannya amat terasa. Saya takjub sekaligus kagum. Keren deh. 

Terima kasih juga buat SCOOP atas hadiahnya, e-book memang menjadi solusi untuk berbagai persoalan pembaca buku mulai dari mood baca menurun (e-book bisa dibaca di mana saja, kapan saja), sampai rasa penasaran pada buku-buku yang baru terbit namun tak ingin kamu punya karena rak bukumu yang sudah terlalu penuh. Sebagai penutup review ini, saya sertakan puisi favorit yang telah saya sebutkan tadi.

Selamat Tidur
Telepon genggam mau tidur. Capek.
Seharian bermain monolog. Banyak peran.
Konyol. Enggak nyambung.

Paling pusing bicara dengan bahasa siluman.
Serba akronim dan singkat.
Maunya hemat waktu. Enggak hemat pikiran
dan perasaan. Sok cerdas. Pemalas.

Paling seru bisa ngakak-ngakak sendirian.
Ha-ha-ha. Atau mengumpat. Bangsat.
Brengsek. Asu. Gombal. Rasain. Mampus.
Paling berat bikin rayuan. Aduh cakepnya.
Pinjam senyumanmu dong. Mabuk yuk. Sip.

Paling senang sebelum tidur bisa memainkan
beragam musik yang semuanya sesungguhnya
hanya variasi suara tangisan seorang bayi.

Beethoven, telepon genggam mau tidur.
Boleh dong pinjam telingamu yang tuli
untuk menampung bunyi.

(2003)





Senin, 04 Juli 2016

[Book Review] Di Tanah Lada: Cerita Kelam yang Dikisahkan dengan Unik






Judul: Di Tanah Lada
Pengarang: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 244 halaman

“Menurutku, Papa mirip hantu. Papa mirip hantu karena aku takut hantu, dan aku tahu Mama takut hantu. Dan aku takut Papa. Dan aku tahu kalau Mama juga takut Papa.”

Salva—bukan Saliva—atau biasa dipanggil Ava, adalah seorang gadis kecil berumur enam tahun yang punya hobi membaca kamus Bahasa Indonesia. Kecintaannya tersebut tumbuh karena Kakek Kia yang memberinya kamus itu di hari ulang tahunnya. Kata Kakek Kia, orang yang berbicara dengan baik akan lebih disegani oleh orang lain. Setiap hari Ava membaca kamusnya, mempelajari banyak kata-kata baru.

Namun Kakek Kia meninggal, dia meninggalkan banyak uang untuk papa Ava. Papa Ava adalah seorang tukang judi. Dia jahat, membenci Ava, dan selalu berbicara dengan jelek. Tidak seperti mamanya, mama Ava cantik dan baik, dan sayang pada Ava.

Setelah mendapatkan banyak uang, papa Ava menjual rumah mereka dan pindah ke Rusun Nero yang letaknya dekat dengan tempat perjudian. Ava tidak suka dengan Rusun Nero. Tempatnya kotor dan kumuh, dan di sana dia tidak punya kasur, apalagi sebuah kamar. Tapi di sana dia bertemu dengan seorang anak umur sepuluh tahun yang hobi bermain gitar, namanya P. Ya, namanya memang sependek itu, hanya satu huruf.

Mudah saja bagi mereka untuk menjalin persahabatan. Dan persahabatan mereka ini nantinya akan menjadi awal dari sebuah petualangan tak terduga yang akan mereka lalui bersama.

“’Itu punya kamu?’ tanyaku, menunjuk sepeda itu.
Dia mengangguk. ‘Iya. Aku dapat dari orang sebelah.’
‘Ih, serem!’
‘Seremnya kenapa?’
‘Iya. Orangnya cuma sebelah, kan? Badannya... cuma ada sebelah, kan?’”

Hmmm... dari mana dulu saya harus membicarakan buku ini? Kesan saya setelah membacanya? Menurut saya bukunya bagus, ide ceritanya menarik, dan diceritakan dengan menarik pula; lewat narasi bocah berumur enam tahun. Tapi ada beberapa hal yang membuat kekaguman saya pada buku ini berkurang. Di antaranya:

Karakter Ava yang agak nggak masuk akal. Ini mungkin dibahas hampir oleh semua orang yang pernah baca buku ini, menurut saya Ava di sini karakternya dibuat terlalu pintar untuk ukuran anak kecil yang baru berumur enam tahun. Pertama, rasanya aneh saja mengetahui hobi membaca kamusnya. Ini kamus lho, yang isinya tulisan kecil-kecil nan rapat dan tidak terdapat gambar di dalamnya. Selanjutnya, ingatannya yang amat sangat kuat, bisa hafal dengan kalimat-kalimat panjang yang pernah diucapkan orang lain kepada dia sampai ke titik koma. Kalau saya sih, seringnya melihat malah karakter Ava di sini bukan sebagai anak kecil yang terlalu cepat dewasa, tapi malah kayak orang dewasa yang kekanakan.

Lalu mamanya Ava. Saya nggak ngerti lagi deh sama pola pikirnya. Emang umurnya berapa sik? 17? 18? 19 tahun? Lalai bener -____-

Dan, ini juga bisa dibilang sering jadi kendala jika menggunakan POV 1, di beberapa bagian kelihatan sekali kalau penulisnya yang sedang bersuara, bukan si Ava-nya.

Endingnya. Untuk pembenci ending tragis, saya amat tidak menyarankan kalian untuk baca buku ini ya. Saya tidak benci endingnya kok, tapi tetep nggak tega bacanya T_T 

Tapi terlepas dari itu semua, buku ini sama sekali tidak bisa dibilang jelek, at least berhasil bikin hati saya trenyuh. Mungkin saya aja bacanya terlalu serius ._. Hal-hal yang saya suka dari buku ini seperti: percakapan Ava dan P yang lugu, kadang kocak. Ketika P menceritakan pada Ava cerpennya Andy Weir yang berjudul The Egg, yah meski percakapan mereka masih berasa terlalu dalem untuk anak seumuran mereka. Dan ketika mereka membicarakan reinkarnasi. Satu lagi, judulnya. Saya takjub pas baca bagian yang bikin saya sadar kenapa diberi judul "Di Tanah Lada". Keren deh bisa kepikiran sampe sana.

“’Ditulisnya ‘M. Poirot’. Menurut kamu, ‘M’ itu apa, ya? Eh, apa mungkin itu cuma ‘M’ saja? Seperti namaku, P saja. Dia cuma M saja. M. Poirot.’
‘Bukan. M itu kependekan Muhammad,’ kataku. ‘Teman-temanku di sekolah juga punya nama yang depannya ada ‘M’-nya. Mereka bilang, itu kependekan dari Muhammad.’
‘Muhammad Poirot. Boleh juga, ya, namanya.’”




Kamis, 26 Mei 2016

[Book Review] The Vegetarian: Bukan Buku Tentang Gaya Hidup Sehat






Judul: The Vegetarian
Pengarang: Han Kang
Penerbit: Hogarth
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 188 halaman

“Her profile swam toward me out of the darkness. I took in her eyes, bright but not feverish, as her lips slowly parted.
‘I had a dream.’
Her voice was surprisingly clear.”

Akhir-akhir ini mood baca saya kembali menurun. Semua ini disebabkan oleh banyaknya drama-drama Korea bagus yang wajib banget buat diikutin >.< Gini deh kalo udah nemu tontonan menarik, bacaan jadi terbengkalai. Untungnya saya kemudian nimbrung maksa ikutan baca bareng Mbak Desty sama Mbak Vina pas saya tahu kalau mereka lagi baca bareng buku ini. Ketertarikan awal pada buku ini lebih karena keberhasilannya menyabet penghargaan Man Booker Prize 2016. Saya penasaran sebagus apa buku yang berhasil mengalahkan Man Tiger dan nominator lain ini.

Konsep review untuk baca bareng buku ini agak beda. Jadi kan buku ini terbagi menjadi tiga babak dengan sub judul berbeda, The Vegetarian yang diceritakan dengan pov pertama suami dari sang tokoh utama, Yeong Hye. Babak kedua Mongolian Mark yang bercerita dengan pov ketiga lewat kakak ipar Yeong Hye. Dan selanjutnya Flaming Trees, babak pamungkas yang juga menggunakan pov ketiga, kali ini lewat kakak perempuan Yeong Hye, In Hye. Kami bertiga memutuskan untuk masing-masing me-review satu sub judul.

Nah, saya lalu milih yang pertama. Alasan (biar kedengeran) kerennya, bagian ini yang menurut saya paling intens, bisa jadi karena mengunakan pov pertama. Alasan sebenarnya, saya paling ngertinya di bagian ini sik x)) semakin ke belakang bukunya semakin absurd, di bagian terakhir banyak yang saya nggak ngerti. Hahaha. Tapi sekarang sedikit banyak udah ngerti melalui rumpian diskusi kecil-kecilan sama Mbak Desty dan Mbak Vina.

The Vegetarian ini bacaan yang bagus sebenarnya, di awal saja sudah bikin saya kepincut. Berikut saya kutip kalimat pertamanya: “Before my wife turned vegetarian, I’d always thought of her as completely unremarkable in every way.”. Gimana? Sudah bikin bertanya-tanya kan? ;))

Saya ingatkan, buku ini sama sekali bukan buku tentang gaya hidup sehat yaa. Malahan ini termasuk buku yang sakit. Lebih tepatnya sih orang-orang yang diceritakan di dalamnya yang sakit x(. Di bagian pertama ini kisahnya sendiri berpusat ke Yeong Hye yang di suatu malam, ketika suaminya terbangun untuk ke kamar mandi di melihat Yeong Hye berdiri di depan kulkas yang terbuka dengan fokus tatapannya ke kantong-kantong daging di dalam kulkas. Teguran dari suaminya pun tak digubrisnya, suaminya pun mengabaikan, dia menganggap Yeong Hye hanya sedang berjalan dalam tidur. Ternyata dugaan suaminya salah, sejak itu kelakuan Yeong Hye semakin aneh. Dia membuang semua persediaan daging, telur, dan susu lalu mengatakan pada suaminya kalau dia memutuskan untuk menjadi vegetarian. Suaminya makin merasa bingung ketika Yeong Hye mengatakan alasannya karena sebuah mimpi. Mimpi seperti apa yang dialami Yeong Hye? Cari tahu sendiri dong xP

Yang menarrik dari bagian pertamanya ini, semakin jauh membaca, semakin dibuat bertanya-tanya. Dan memang baca buku ini tuh harus sabar memang, karena beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itu menyebar dari tengah sampai di akhir bukunya.
 
Ngomong-ngomong, tadi saya sempat bilang kalau bagian pertama ini yang paling intens kan? Sebenarnya bukan karena di bagian ini menggunakan pov pertama saja. Tapi, ada beberapa bagian-bagian yang menjadi porsi Yeong Hye yang bercerita. Dan ini bagian terbaiknya, pembaca ikut tersesat di labirin pikiran Yeong Hye. Saya nggak mau spoiler, tapi ada bagian yang cukup membuat tak nyaman di babak pertama ini x(

Alur penceritaannya nyambung dari babak satu sampai terakhir, tapi dengan timeline yang maju mundur cantik. Dan masih tetap berpusat ke Yeong Hye. Penasaran dengan seperti apa cerita di Mongolian Mark dan Flaming Trees? Baca review Mbak Desty dan Mbak Vina di tautan yang telah saya buat di bawah ini ;)

Namun sebelumnya, izinkan saya ngasih rating untuk bukunya. Ketika membaca babak pertamanya, saya sudah putuskan untuk memberi 4 bintang, tapi... semakin ke belakang semakin membingungkan, bahkan sampai saya nulis review ini saya masih belum menangkap maksud dari sang pengarang menulis buku ini x)) jadi, 3 bintang untuk The Vegetarian.

 “Everything starts to feel unfamiliar. As if I’ve come up to the back of something. Shut up behind a door without a handle. Perhaps I’m only now coming face-to-face with the thing that has always been here. It’s dark. Everything is being snuffed out in the pitch-black darkness.”


“Can only trust my breasts now. I like my breasts, nothing can be killed by them. Hand, foot, tongue, gaze, all weapons from which nothing is safe. But not my breasts. With my round breasts, I’m okay. Still okay. So why do they keep on shrinking? Not even round anymore. Why? Why am I changing like this? Why are my edges all sharpening—what I am going to gouge?”






Rabu, 11 Mei 2016

[Book Review] Always the Bride: Tak Ada Kehidupan yang Sempurna, Terutama Kehidupan Pernikahan






Judul: Always the Bride: Pengantin Baru (Lagi)
Pengarang: Jessica Fox
Penerbit: Esensi
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 240 halaman

“Aku hanya akan menikah satu kali. Aku benar-benar percaya bahwa pernikahan adalah untuk seumur hidup. Kau sendiri yang mengatakannya, kan?”

Alih-alih penari striptis, kejutan yang didapat oleh Zoe di acara pesta lajangnya adalah seorang cenayang. Zoe senang tidak kedatangan penari striptis. Tapi... belakangan dia menyesali apa yang terjadi di malam itu. Lebih tepatnya, apa yang diramalkan oleh Angela sang cenayang. Bagaimana tidak? Dia diramalkan akan menikah dua kali! 

Padahal Zoe yang perfeksionis menganggap kalau Steve, suaminya adalah orang yang sempurna untuknya. Mereka bisa melengkapi satu sama lain. Maka, sangat tak mungkin kalau apa yang diramalkan oleh cenayang tersebut akan menjadi kenyataan.

Sampai kemudian Zoe sadar kalau kehidupan pernikahannya terancam. Jadi, Zoe terlibat dalam produksi film BBC sebagai penulis skrip, dan Steve adalah sutradaranya. Karena suatu hal, pemeran utama prianya diganti dengan Luke Scottman, aktor seksi pujaan hampir semua wanita di dunia. Parahnya, Luke pernah menjadi kesalahan di masa lalu Zoe. Nah lho!

Dan, tanpa diduga, Steve yang manis dan mudah ditebak, ternyata juga menyimpan masa lalu yang akan semakin mengancam pernikahan mereka. Akankah ramalan si cenayang menjadi kenyataan?

“Semua hal harus sempurna bagimu. Sama sekali tidak ada toleransi untuk kesalahan atau kekhilafan alami manusia dalam duniamu. Benar begitu, bukan?”

Buku ini punya formula klise yang khas chicklit banget. Mulai dari konfliknya yang drama, dengan tokoh utama wanita tangguh, dan tak ketinggalan, seorang tokoh pria seksi. Saya jadi rindu untuk membaca lagi chicklit terjemahan setelah membaca Always the Bride ini. Meski premisnya klise, menurut saya cukup menarik. Prolognya sudah menyimpan misteri yang menanti untuk diungkap.

Hal yang saya suka dari buku ini adalah tokoh-tokohnya yang menonjol. Karakterisasinya keren. Saya sampai benci setengah mati dengan Rufus -_- dan tokoh terfavorit saya adalah Libby, adik Zoe.

Tapi, tentu saja buku ini setaksempurna kehidupan pernikahan Zoe. Ceritanya memang ringan, khas chicklit banget. Dan agak berputar-putar. Konfliknya juga terlalu drama buat saya. Masalah selera sih :D soalnya dari awal saya pikir akan semanis Bridget Si Ratu Sekolah ^^,

Hal yang saya pelajari dari membaca dua buku terbitan Esensi. Kelebihannya, cover-covernya cantik-cantik. Terjemahannya juga enak. Tapi di sisi lain ukuran font-nya sedikit terlalu kecil. Dan tak dilengkapi dengan bookmark. Bookmark memang terkesan remeh, tapi tetap rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran bookmark yang matching dengan cover bukunya :D

Menurut saya sih, buku ini sendiri dari segi ceritanya diselamatkan oleh endingnya. Saya sendiri meskipun tak menyangka akhirnya akan seperti itu, saya cukup suka dengan bagaimana cara penulisnya menutup kisah Zoe sampai Epilog. Cocok dengan ide besar yang dari awal coba untuk disampaikannya. Bahwa tak ada kehidupan yang benar-benar sempurna.

“Kepercayaan adalah sesuatu yang harus kau miliki dalam pernikahan.”