Selasa, 08 September 2015

[Book Review] Girls in the Dark by Akiyoshi Rikako






Judul: Girls in the Dark
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 279 Halaman

“Sampai sekarang pun saya sering bermimpi. Tentang Itsumi yang telungkup dengan tubuh bersimbah darah....”

Klub Sastra di SMA Katolik Putri Santa Maria adalah klub elit yang diketuai oleh Shiraishi Itsumi. Seluruh siswi SMA tersebut ingin dapat menjadi salah satu anggota Klub Sastra yang perekrutan anggotanya ditunjuk langsung oleh Itsumi. 

Suatu hari Itsumi ditemukan meninggal secara misterius dengan penyebab yang tidak diketahui. Untuk mengenang sang ketua klub, wakil ketua Sumikami Sayuri mengadakan pertemuan yang memang rutin diadakan setiap tahun.

Dalam pertemuan itu, para anggota klub ditugaskan untuk membacakan satu per satu cerita pendek yang mereka tulis terkait dengan kejadian naas yang menimpa Itsumi.

Yang menarik adalah keenam anggota klub mencurigai satu sama lain yang menjadi pembunuh Itsumi karena masing-masing punya motif tersendiri. Dan berdasarkan satu clue: setangkai bunga Lily of the Valley yang digenggam Itsumi ketika meninggal.

“Kalau kesialan seseorang itu adalah madu yang manis, rahasia seseorang itu adalah rempah-rempah berkualitas tinggi. Rahasia akan menjadikan kehidupan orang yang mengetahuinya menjadi harum dan memberikan rasa yang penuh akan cita rasa.”

Buku yang mendadak hits lagi karena terbitnya karya terbaru si penulis (The Dead Returns) ini ditulis dengan gaya narasi yang sedikit banyak mengingatkan saya akan film thriller Jepang favorit saya: Confession. Karakter-karakternya punya andil untuk bercerita melalui sudut pandang mereka di masing-masing chapter berbeda.

Saya suka banget dengan style bercerita ala cerpen yang digunakan oleh penulis. Juga bagaimana cara penulis menggunakan bunga Lily of the Valley sebagai benang merah cerita yang diinterpretasikan secara berbeda oleh masing-masing karakter.

Tapi...

Saya nggak bisa nggak komplain dengan endingnya. Mungkin karena tidak sesuai dengan harapan saya makanya agak sedikit kecewa, walaupun ada twist mengejutkan sih, twist-nya berlapis lagi. Tapi tetap, rasanya ada yang kurang. Saya Lebih suka endingnya dibuat berdarah-darah, bukan dengan kegilaan lain. 

Walau kecewa dengan endingnya, waktu tidur saya yang berkurang akibat maksa nyelesaiin buku ini cukup terbayar. Bukunya emang jenis buku yang akan membuat terjaga sepanjang malam saking kepingin tahu apa yang terjadi selanjutnya. Jadi senapsaran dengan The Dead Returns!

“Manusia bukan hidup karena adanya jiwa. Manusia hidup karena dia menarik napas, mengalirkan oksigen di sekujur tubuh, mengeluarkan hormon, mengalirkan darah, melakukan reaksi kimia di salam tubuh. Lewat pembedahan, aku sadar bahwa hidup hanyalah sebuah proses fisika.”


RATING: 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar