Rabu, 02 Januari 2013

[Book Review] Camar Biru by Nilam Suri








Judul Buku  : Camar Biru
Pengarang  : Nilam Suri
Penerbit  : GagasMedia
Tahun Terbit  : 2012
Tebal : 279 Halaman


ABOUT
Nina, berprofesi sebagai ilustrator. Tidak suka dandan. Punya seorang sahabat setia bernama Adith.

Adith, seorang dosen. Penggila hal-hal yang berbau jepang. Selalu rela untuk membantu setiap kesulitan sahabatnya, Nina.

Sepuluh tahun lalu, dibawah pengaruh alkohol, Adith dan Nina membuat janji jika sepuluh tahun yang akan datang mereka belum menikah, mereka sepakat untuk menikah.

Tapi akhirnya mereka sadar, keputusan untuk menikah tidak semudah itu. Dan dengan memutuskan menikah, mereka terpaksa kembali mengingat memori kelam masa lalu. Tragedi yang sudah merusak sisi-sisi persahabatan bujur sangkar mereka. Persahabatan yang terdiri dari Nina, Adith, Naren– kakak Nina, dan Sinar– kakak Adith.

Belum lagi mereka harus berurusan kembali dengan kedua orangtua Nina yang memilih untuk mencampakkan anaknya sendiri karena tragedi naas itu.


THE REVIEW
Sudah lama sekali saya tidak membaca novel percintaan seperti ini. Karena menurut saya novel asli Indonesia yang mengangkat tema percintaan itu kebanyakan klise. Tapi, untuk buku ini, dua jempol deh. Keren abis. Terakhir saya baca buku bertema serupa yang juga keren adalah Antologi Rasa karya Ika Natassa. 

So, kalo kamu suka buku percintaan yang keren, nggak cengeng, apalagi lebay, kamu kudu wajib harus baca buku ini. Apalagi dengan petikan lirik-lirik lagu yang nyambung dengan ceritanya di setiap bab, menambah kekerenan buku ini.

Kalimat-kalimat di buku ini sederhana, tapi terkadang punya makna mendalam. Jujur saya lebih suka yang seperti ini daripada kalimat-kalimat yang berbunga-bunga, (sok) filosofis, bahkan lebay tapi isinya kosong, nol.

Sayangnya buku ini mudah ditebak. Saya bisa dengan mudah menebak rahasia kelam Nina yang tak mau dia ceritakan pada orang lain karena sang penulis tidak sengaja (ataupun sengaja), menebar banyak sekali “clue” tentang rahasia itu.

Walaupun sang penulis berusaha membantu pembacanya dengan membuat style huruf yang berbeda setiap berganti POV, saya masih merasa kurang suka dengan multiple POV yang dipakai. 

Akhirnya, tanpa banyak bacot lagi lebih baik saya akhiri saja review ini. Pokoknya dibalik kekurangan buku ini, buku ini tetap layak untuk dibaca. Sangat layak malah.


MEMORABLE QUOTES

  • “Bahwa hati bisa saja berhenti berfungsi, tetapi tetap nyeri. Jantung bisa saja terasa meledak, tetapi ternyata tetap berdetak.” – Hal. 65

  • “Sengaco apa pun elo, tetap aja buat gue lo sempurna.” – Hal. 134

  • “Gue membisikkan permintaan, lalu asap akan membawanya bersama udara, ke angkasa, dan akhirnya, gue harap, permintaan gue itu akan mencapai tempat yang tepat. Lalu, dikabulkan. Makanya gue butuh asap, karena asap membubung sampai ke langit.” – Hal. 155

  • “Ternyata, selamanya itu emang terlalu lama.” – Hal. 234

  • “It's sad, don't you think? Since each of us only have one time to live.” – Hal.  245

  • “Kamu terlalu sibuk dengan penderitaanmu sehingga kamu nggak menyadari bahwa dengan menutupinya kamu bikin orang-orang di sekeliling kamu ikut menderita bersamamu. Kamu membuat kami merasa nggak berdaya, nggak berguna.” – Hal. 249



RATING 4/5



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar