Selasa, 02 Juni 2015

[Marry Now, Sorry Later Blog Tour] A Short Interview With Christian Simamora






Selamat pagi! Hari ini merupakan giliran saya sebagai host terakhir dari blog tour buku terbaru Christian Simamora; Marry Now, Sorry Later untuk mem-post 3 postingan terkait dengan blog tour ini. Seperti para host sebelumnya, postingan pertama adalah wawancara alias interview singkat dengan sang penulis.

Sayang sekali jatah pertanyaannya hanya 5 saja :D banyak sekali hal-hal yang ingin saya kepoin dari sosok Abang Ino ini terkait dengan kiprahnya di dunia perbukuan. Silakan menyimak wawancara singkat di bawah ini :))

Pertanyaan saya yang pertama, mungkin yang paling sering ditanyakan, sejak umur berapa Bang Ino menyadari kalau abang menikmati kegiatan menulis?
Sejak SD, Abang sudah suka kegiatan tulis-menulis. Guru Bahasa Indonesia Abang punya andil besar karena seingat Abang ya, satu caturwulan penuh kegiatan di kelas didominasi tugas mengarang. Setiap murid diharuskan mengumpulkan karangan dengan tema tertentu dan guru Abang itu akan membacakan sepuluh terbaik setiap minggunya. Abang selalu kepengen jadi bagian dari sepuluh terbaik itu, bagaimana pun caranya. Bukan karena alasan pengen tenar atau gimana, tapi lebih karena tergiur nilai bagus, haghaghag!
Ketika menulis novel pertama pun, motivasinya juga nggak tulus. Waktu itu tahun terakhir Abang kuliah dan skripsi Abang stuck karena kurang responden. Untuk mengisi waktu luang, Abang menulis novel. Buku kedua juga nggak tulus, soalnya itu adalah ‘tugas akhir’ program beasiswa menulis kreatif yang diadakan Agromedia Group.
Jadi... Abang baru benar-benar menikmati kegiatan menulis itu ketiga mengerjakan novel Macarin Anjing. Haghaghag, lama juga ya.

Lalu, adakah penulis yang menjadi inspirasi abang sehingga membuat abang memutuskan untuk menjadi seorang penulis?
Meg Cabot. Tentu saja Abang akan selalu mengingat nama penulis yang satu ini karena karyanyalah yang mematahkan semua mitos tentang penulis yang Abang percaya selama ini (jadi penulis harus pinter banget, mikir ribet, dan suka menulis di tempat-tempat sepi dan terpencil). Kalau ngikutin blog-nya, kebayang deh betapa fun-nya keseharian Meg Cabot di sela-sela pekerjaannya sebagai penulis. Abang nggak mikir panjang untuk mengikuti jejaknya—sampai sekarang.

Bicara tentang #jboyfriend, bagaimanakah awal mula #jboyfriend terbentuk? Apakah awalnya proyek ini hanya iseng atau memang sudah direncanakan dari awal?
Setelah menulis enam buku, Abang merasa sudah saatnya punya serial sendiri. Menyiapkan serial itu nggak gampang, karena pada kenyataannya Abang harus riset banyak hal dan berdiskusi dengan rekan penulis dan editor. Akhirnya, terpikir deh untuk membuat seri #jboyfriend.
Ketika Pillow Talk keluar (2010), Abang memang nggak bilang-bilang ini adalah bagian dari serial. Baru setelah Good Fight rilis, Abang mengumumkan tentang #jboyfriend. Syukurnya, ketika itu, respon teman-teman pembaca cukup baik. Dan dukungan penuh pembaca jugalah yang membuat #jboyfriend bertahan sampai lima tahun begini.


Adakah alasan spesial Bang Ino memilih untuk menulis novel bergenre komedi romantis?
Actually, bukan Abang yang memilih genre romantic comedy tapi justru genre itu yang memilih Abang. :)
Di bawah payung romance, banyak sekali subgenre yang nggak kalah menarik. Tapi di antara semua itu, rasanya hanya romantic comedy yang cocok dengan gaya menulis maupun kepribadian Abang. Dari dulu, Abang selalu menghindari novel sad ending. IMHO, hidup sudah berat, ngapain sih menambah beban dengan baca yang sedih-sedih dan ngajak nangis? Yah, akhirnya berkenalan deh dengan genre romantic comedy. Genre dengan tokoh-tokoh yang witty dan kadang sarkastik, dan selalu ada optimisme terselip di cerita-ceritanya. My kind of genre, putus Abang ketika itu.

Pertanyaan terakhir nih, ada pepatah yang bilang "There's nothing new under the sun", begitu pula di dalam dunia perbukuan. Ide cerita yang berulang sering sekali ditemukan. Menurut Abang perlukah membuat sebuah pembeda di dalam novel walaupun ide ceritanya sudah sering dipakai?
Sebenarnya, sejak awal pun, tema yang kamu pilih adalah adalah sesuatu yang familiar bagi kamu dan calon pembacamu kelak. Yang kemudian membuat tulisanmu terasa berbeda biasanya karena:


  • Tulisanmu nggak menggurui. Semakin kuat keinginanmu untuk ‘berkhotbah’ lewat ceritamu, semakin lemah tema cerita yang kamu angkat.

  • Kamu berhenti jadi penulis pengecut. Nggak sedikit penulis yang urung menulis tema pilihannya karena khawatir pada pandangan orang kelak terhadap dirinya.

  • Seperti traveling, seberapa jauh kamu bersedia berjalan menentukan seberapa banyak hal yang bisa kamu temukan di temamu itu. Dan bebaskan dirimu dari keinginan menghakimi. Misalnya: orang yang sejak awal membenci ketidaksetiaan sampai kapan pun nggak akan bisa menulis novel bertema perselingkuhan yang menarik. Dia memilih untuk berdiri di atas opininya, alih-alih keluar dari zona nyamannya dan mencoba memahami perselingkuhan dari sisi orang yang melakukannya. 





CHRISTIAN SIMAMORA

Penulis berzodiak Gemini, kelahiran 9 Juni 1983. Menyukai hot chocolate dan parfum beraroma manis. Kalau tidak sedang menulis, dia menghabiskan waktu senggang dengan membaca, browsing, atau menonton serial televisi kesukaan.   

#jboyfriend yang sudah terbit: Pillow Talk (Jo), Good Fight (Jet), With You (Jere), All You Can Eat (Jandro), Guilty Pleasure (Julien), Come On Over (Jermaine), dan As Seen On TV (Javi).

Marry Now, Sorry Later (Jao) adalah novelnya yang keempat belas.


Twitter: @09061983

E-mail: ino_innocent@yahoo.com




Oke, terima kasih Bang Ino sudah meluangkan waktu meladeni pertanyaan-pertanyaan wawancaranya. Sukses selalu buatmu, semoga karya-karyamu selanjutnya akan semakin disukai oleh pembaca di Indonesia dan lebih nge-hits lagi dari Marry Now, Sorry Later ^^

Setelah ini, postingan selanjutnya adalah review buku Marry Now, Sorry Later. Dan jangan lupa, di postingan bagian akhir bakal ada giveaway. Ditunggu yaaa... :))

Senin, 01 Juni 2015

[Book Review] Minoel by Ken Terate






Judul: Minoel
Pengarang: Ken Terate
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 272 halaman

“Siapa sih yang mau sama cewek cacat? Ada cewek cacat yang dapat pasangan sempurna, aku tahu, tapi aku sendiri nggak yakin itu akan terjadi padaku. Maksudku, apa sih kelebihanku?”

Minoel tak pernah punya pacar. Tidak seperti dua sahabatnya, Yola dan Lilis. Apalagi Yola yang sering banget gonta-ganti pacar! Cowok-cowok selama ini cuma memandang Minoel dengan sebelah mata. Bahkan kerap mempermainkannya. 

Apa coba yang bisa dibanggakan dari Minoel untuk membuatnya percaya diri? Dia tidak pintar dalam pelajaran. Keadaan ekonomi keluarganya juga jauh untuk dibilang berkecukupan. Dan keadaan fisiknya tidak sempurna; kaki Minoel cacat. Satu-satunya yang mungkin bisa membuatnya bangga adalah Minoel pandai menyanyi. Dan dia sering mendapat bayaran dari suaranya itu dengan mengisi acara-acara hajatan.

Tiba-tiba Akang mendekati Minoel. Dia bilang suka dengan penampilan Minoel ketika dia bernyanyi. Hati Minoel berbunga-bunga kala Akang menyatakan cinta. Belum pernah ada seorang cowok yang bilang cinta padanya.

Namun ada harga yang harus dibayar untuk cinta Akang, Minoel harus berkorban. Berkorban hati, perasaan, dan.. ehem.. sebagian honor menyanyinya. Tak jarang Akang bersikap kasar pada Minoel atau tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas. Cowok itu mulai melarang Minoel melakukan ini-itu.

Tapi bukankah cinta butuh yang namanya pengorbanan? Akang sudah berkorban untuk memberikan cintanya buat Minoel yang cacat. Dan Minoel pun harus berkorban untuk Akang, kan? Itu yang namanya cinta kan?

“Pokoknya, Noel, begitu kamu melihat tanda-tanda kekerasan pada diri cowok, segeralah lari, sejauh mungkin. Jangan harap mereka berubah. Mereka tak akan berubah kecuali ada mukjizat yang entah kapan datangnya. Bisa-bisa setelah kamu mati terbunuh.”

Sejak membaca Jurnal Jo, saya sudah mendeklarasikan diri sebagai penggemar Ken Terate. Selalu ada hal-hal yang bisa dipetik dari tulisan-tulisannya walaupun dengan bahasa kocak seperti dalam Jurnal Jo.

Mengusung ide cerita tentang KDP (Kekerasan dalam Pacaran), buku ini ditulis dengan format semacam diary milik karakter utamanya, Minoel. Pembaca akan diajak untuk menyimak cerita-cerita acak yang dituturkan oleh Minoel tentang apa yang telah terjadi dalam hidupnya.

Isu kekerasan dalam pacaran ini memang sangat menarik untuk dibahas. Menurut saya KDP marak sekali terjadi, cuma banyak yang tidak terekspos dan bahkan tidak sadar kalau perlakuan sang pacar tersayang sudah termasuk KDP T_T. Semoga banyak yang baca buku ini dan sadar kalau KDP juga merupakan sebuah kejahatan serius. 

Jika kalian sudah membaca Dark Love, novel yang juga ditulis oleh mbak Ken Terate tentang MBA, buku ini lebih “gelap” lagi dari Dark Love. Dan lebih serius dan pedas lagi mengkritisi bagaimana pendapat orang-orang mengenai KDP (lebih parahnya pihak berwenang). Karena masih saja banyak yang mengkambing-hitamkan perempuan dengan hal-hal buruk yang terjadi pada perempuan *sigh*.

Karena konsepnya yang seperti diary, which means yang ditulis di sini benar-benar suka-suka hati Minoel, timeline cerita di buku ini terkadang bikin bingung. Tapi bisa dimengerti sih, mengingat kondisi Minoel pasca kejadian “itu”. *penasaran dong hal buruk apa yang dialami Minoel? Ayok, baca bukunyaaa x))*

Ide cerita apik. Ditulis dengan amat baik. Seharusnya pantas mendapatkan 5 bintang. Sayang cover-nya rada bikin ilfeel -___-, malah menurut saya jika gambar tiga remaja cewek di cover mengilustrasikan Minoel, Lilis dan Yola, agak nggak nyambung. Saya lupa detailnya yang jelas Minoel pernah bercerita kalau ada di antara mereka yang memakai jilbab (atau saya yang salah persepsi? ._.). Dan buku ini tak bisa dibilang rapi, tidak banyak typo-nya, tapi cukup mengganggu.

 “Untuk lepas dari suatu rasa sakit, kita butuh sakit dulu. Aneh, ya? aku harus kuat menahan sakit kecil ini untuk bisa lepas dari rasa sakit yang lebih besar.”


“Masalah dari bercerita adalah mengingat. Masalah dari mengingat adalah gelombang jeri, pedih, dan luka yang langsung bergumul dan bergulung-gulung melanda. Demi Tuhan, aku tak ingin mengingatnya lagi. Andai hari itu bisa dihapus dari kalender. Maksudku, dari ingatanku. Mungkinkah itu? Menghapus memori di otak seperti menghapus memori di HP?”


RATING 4.5/5