Kamis, 16 April 2015

[Blog Tour] Review + Giveaway: To All the Boys I've Loved Before by Jenny Han






Hai, hari ini merupakan giliran saya sebagai host blog tour novel terbaru Penerbit Spring; To All the Boys I’ve Loved Before. Seperti yang di-post oleh host sebelum-sebelumnya, di akhir review ini akan ada giveaway berhadiah 2 (dua) novel To All the Boys I’ve Loved Before untuk 2 orang pemenang. Dan jangan lupa juga untuk ikutan kuis finale yang hadiahnya nggak kalah kece :))




Judul: To All the Boys I’ve Loved Before
Pengarang: Jenny Han
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 380 halaman

“Seandainya aku pernah jatuh cinta lebih dari sekali. Menurutku kita seharusnya pernah jatuh cinta setidaknya dua kali saat masih SMA.”

Lara Jean merupakan remaja cewek keturunan Korea dari pihak ibunya. Dia punya keluarga yang menyenangkan yang terdiri kakaknya—Margot, adiknya—Kitty serta ayahnya. Sejak ibu mereka meninggal Margot-lah yang mengurusi segala sesuatu di rumah mereka.

Tapi Margot harus melanjutkan pendidikannya ke Skotlandia dan hal tersebut otomatis membuat Lara Jean dilimpahi tugas yang selama ini dilakukan Margot. Seolah tidak cukup dengan kepergian Margot, hidup Lara Jean makin rumit ketika surat-surat rahasianya tak sengaja terkirim.

Surat-surat tersebut adalah surat cinta Lara Jean (untuk cowok-cowok yang pernah dicintainya) yang disimpannya di kotak topi pemberian ibunya. Tentu saja ketika menulis Lara Jean tak pernah bermaksud mengirimkan pada cowok-cowok tersebut. Dia hanya bermaksud untuk membuat perasaaannya menjadi lebih baik dan bisa segera mengenyahkan pikiran tentang cowok-cowok itu.

Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean menjadi tak terkendali. Kekacauan-kekacauan yang akan terjadi melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya. Dan itu berarti termasuk cinta pertamanya, cowok terkeren di sekolah dan pacar kakaknya.

“Semua yang pertama terasa paling menyenangkan karena merupakan sebuah permulaan.”

To All the Boys I’ve Loved Before merupakan buku terbitan Penerbit Spring pertama yang saya baca. Saya belum baca buku terbitan pertama mereka; Fangirl. Sejauh ini yang saya ketahui, penerbit yang merupakan saudaranya Penerbit Haru ini menerbitkan terjemahan buku-buku Young Adult populer. Semoga ke depannya makin banyak lagi buku-buku Young Adult yang diterbitkan oleh Penerbit Spring.

Sudah lama sekali saya ingin membaca buku ini, dan kabar bahwa terjemahannya akan terbit cukup membuat saya antusias. Beruntung sekali saya terpilih menjadi salah satu host blog tour dari buku ini :))

Tidak ada yang spesial sebenarnya dari tema yang diusung buku ini. Tapi yang paling bikin nggak bisa berhenti ketika membacanya adalah sang penulis berhasil memberikan rasa penasaran tentang apa yang selanjutnya terjadi pada Lara Jean. Dan kerealistisan ceritanya, maksud saya bisa diterima logika, setidaknya buat saya sendiri.

Dua jempol buat chemistry antar-karakter yang sangat berhasil dibangun oleh penulis. Terutama chemistry Lara-Peter. Mereka benar-benar lovable >.< saya suka interaksi mereka yang digambarkan penulis lewat dialog-dialognya. Yang aneh adalah biasanya saya benci dengan karakter seperti Lara Jean ini, yang agak labil, tapi entah kenapa kok saya malah jadi suka dengan kelabilan dan kepolosan Lara Jean. Sepertinya saya harus banyak belajar dari buku ini untuk membuat karakter utama yang manusiawi tapi tidak annoying buat pembacanya walaupun sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Karakter-karakter lain pun tak kalah lovable :D saya suka Kitty, Margot bahkan Chris yang urakan x)) 

Mungkin yang juga bikin betah baca buku ini adalah kelihaian pengarang mempermainkan persepsi pembaca soal ending-nya nanti. Saya bahkan dibuat ragu ketika mengira-ngira akan seperti apa ending-nya. Tidak sepenuhnya yakin tentag bagaimana buku ini akan diakhiri.

Dan ngomong-ngomong soal ending, ending buku ini benar-benar bikin geregetaaaaannn!!! Saya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Semoga nanti Penerbit Spring juga akan menerjemahkan sekuel dari buku ini yang versi aslinya akan dirilis pada bulan Mei.

Terjemahan di buku ini bagus, nggak kaku. Dan yang bikin salut adalah adanya footnote yang menjelaskan beberapa istilah/nama/merek di dalam buku ini. Hal remeh tapi memberi nilai lebih. Selain itu saya bersyukur Penerbit Spring tetap menggunakan cover asli pada cover-nya. Karena salah satu yang membuat saya penasaran dengan buku ini—selain judulnya—adalah (model) cover-nya yang cantik.

Lima bintang buat cerita manis lara Jean :))

MEMORABLE QUOTES:

  • “Lucu sekali betapa pertemananmu masa kecil ditentukan lingkungan sekitar. Sepertinya sahabatmu berhubungan langsung dengan seberapa dekat rumah kalian dan siapa yang duduk di sampingmu di kelas musik ditentukan seberapa dekat namamu dalam urutan alfabet. Sungguh seperti sebuah permainan keberuntungan.” – Hal. 45
  • “Kebohongan yang paling meyakinkan adalah kebohongan yang setidaknya mengandung sedikit kebenaran.” 127
  • “Bagi kakak beradik perempuan, sebuah perjanjian sangat penting artinya.” – Hal. 174
  • “Saat kau punya pacar, kau hanya ingin bersama dengan orang itu dan kau melupakan orang lain. Ketika akhirnya kau putus, kau telah kehilangan semua temanmu. Mereka melakukan hal-hal yang menyenangkan tanpamu.” – Hal. 179
  • “Saat aku sangat menyukai seseorang, bahkan mungkin mencintainya, aku selalu lebih memilih kakak dan adikku karena tempatku adalah bersama mereka.” – Hal. 208
  • “Aneh sekali rasanya menghabiskan begitu banyak waktu mengharapkan sesuatu, mengharapkan seseorang, lalu pada suatu hari, tiba-tiba saja aku berhenti berharap.” – Hal. 303
  • “Kau hanya menyukai cowok yang tidak bisa kau raih, karena kau takut. Apa yang begitu kau takutkan?” – Hal. 331
  • “Kurasa sekarang aku tahu perbedaannya, antara mencintai seseorang dari kejauhan dengan mencintai seseorang dari dekat. Ketika kau melihat mereka dari dekat, kau melihat diri mereka yang sesungguhnya, dan mereka juga melihat dirimu yang sesungguhnya.” – Hal. 375-376


RATING 5/5



Saatnya untuk giveaway! Siap untuk mendapatkan buku gratis? Sebelum ikutan, baca dulu syarat dan peraturan giveaway-nya di bawah ini.



  1. Peserta berdomisili di Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia.
  2. Follow akun twitter @penerbitspring.
  3. Share giveaway ini di twitter kamu biar lebih banyak lagi yang ikutan, formatnya terserah yang penting  mention saya, @ariansyahABO dan @penerbitspring dengan hashtag #GiveawayTATBILB. (share-nya sekali aja yaaa..)
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar: “Penerbit Spring kan sudah menerbitkan 2 novel young adult hits, nah kasih 1 saja rekomendasi buku young adult yang menurut kalian harus diterbitkan terjemahannya oleh Penerbit Spring, beserta alasannya.”    Jangan lupa sertakan nama, email, akun twitter dan link share di bawah jawaban kalian.
  5. Giveaway ini ditutup 2 minggu dari sekarang, hari Kamis tanggal 30 April 2015. Pemenang akan diumumkan secepatnya,  maksimal 1 minggu setelah giveaway-nya ditutup.
  6. Pemenang akan saya hubungi via twitter dan email. Konfirmasi pemenang saya tunggu selama 3 (tiga) hari, jika tidak ada konfirmasi setelah 3 hari, terpaksa akan saya pilih pemenang lain.
  7. Dua pemenang masing-masing akan mendapatkan satu novel manis To All the Boys I’ve Loved Before. Satu pemenang saya pilih berdasarkan jawaban dan alasan paling “racun”. Dan satu pemenang akan saya undi.
  8. Jika ternyata ada pemenang double (yang sudah menang di blog tour dari host yang lain), host berhak memilih pemenang lain. 
  9. Jika tidak dipilih pemenang lain, maka pemenang yang menang double hanya mendapatkan 1 buku walaupun telah menang beberapa kali. 
  10. Semoga beruntung :)) 


** Kuis Finale **
Untuk kuis finale, caranya juga nggak susah kok, yang penting kamu harus kunjungi semua blog para host. Nah, di akhir postingan kami, akan ada satu potongan puzzle yang harus kalian kumpulkan dan susun agar menjadi sebuah gambar utuh. Kalau sudah, tinggal post gambar tersebut di wall Facebook page Penerbit Spring beserta kesan-kesan kamu terhadap blog tour ini. Sudah paham? Selamat berburu puzzle yaaa :))
Eh iya, sampe lupa. Hadiahnya kali ini spesial loh, selain novel To All the Boys I’ve Loved Before, juga akan ada merchandise untuk sang pemenang kuis finale.

Dan ini potongan puzzle dari blog ini:




*Disarankan juga untuk mengunjungi blog dari host yang lain. Makin sering kamu ikutan, makin besar juga kesempatanmu untuk menang ;)



















Selasa, 14 April 2015

[Book Review] In a Blue Moon by Ilana Tan






Judul: In a Blue Moon
Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 320 halaman
Available at: Bukupedia

“Apa yang sudah dilakukan Lucas Ford sampai kau terlihat seolah-olah ingin mencakarnya? Kau bukan jenis orang yang membenci seseorang pada pertemuan pertama.”

Lucas Ford bertemu lagi dengan Sophie Wilson berkat kakeknya, Gordon Ford yang mengatakan kalau Sophie Wilson adalah tunangan Lucas. Hal tersebut diputuskan berdasarkan keputusan kakek Sophie dan kakek Lucas yang merupakan teman lama.

Lucas pertama kali bertemu dengan Sophie pada bulan Desember di tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membenci Lucas karena hal buruk yang pernah dilakukan Lucas ketika SMA. Tentu saja Sophie masih membenci Lucas karena Lucas bisa melihat kebencian itu di mata Sophie ketika mereka bertemu kembali.

Walaupun Sophie sering menghindari Lucas, Lucas sama sekali tidak menyerah untuk mendekati gadis itu. Bukan karena perintah kakeknya, tapi karena Lucas ingin mengubah pendapat buruk Sophie tentang dirinya, untuk membuktikan kalau Lucas adalah orang yang  berbeda dari yang dikenal Sophie ketika SMA dulu. Juga untuk membuat Sophie menyukainya, karena demi Tuhan, Lucas Ford menyukai Sophie Wilson!

“Kau mungkin tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku.”

Coba tanya ke beberapa pembaca buku, apa buku Indonesia paling hits sekarang? Pasti tidak sedikit yang akan menjawab In a Blue Moon-nya Ilana Tan. Ya, sejak bocoran dari sang editor kalau karya terbaru Ilana Tan akan segera terbit, dari bocoran judul sampai bocoran desain kavernya, buku ini sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan pembaca di Indonesia.

Terakhir kali saya membaca tulisan karya Ilana Tan adalah di kumpulan cerpen Autumn Once More. Dan kumcer tersebut terbit sekitar tahun 2013, dua tahun lalu! Bisa dibayangkan kerinduan saya dan penggemar Ilana Tan yang lain akan tulisannya.

Buku ini seperti air sungai di musim kemarau, tenang dan menghanyutkan. Konfliknya ringan, bahkan bisa dibilang tidak ada konflik yang benar-benar rumit di buku ini, akan jauh sekali jika dibandingkan dengan Autumn in Paris yang kalo dibaca ulang sekarang masih bikin nyesek itu. Tapi di sinilah letak kemagisan karya Ilana Tan, saya dibuat hanyut dengan pesona karakter-karakternya, dan perkembangan ceritanya. 

Dan hal yang dari dulu menjadi salah satu faktor yang membuat saya menjadi pengemar Ilana Tan selain kemisteriusannya itu, adalah penggunaan bahasa asing-nya yang minim walaupun setting novel-novelnya selama ini selalu di luar Indonesia.

Saya menemukan banyak sekali kebetulan di buku ini, terutama tokoh Lucas dan Sophie yang sering sekali bertemu secara tak sengaja. Tapi, Ilana Tan bisa membuat kebetulan-kebetulan tersebut jadi terkesan natural, tidak dipaksakan.

Hal lain yang menjadi nilai tambah di buku ini adalah sudut pandangnya. Sudut pandang yang digunakan—seperti karya sang penulis sebelumnya—adalah sudut pandang orang ketiga. Biasanya saya merasakan kedekatan dengan karakter utama di novel yang menggunakan sudut pandang pertama ketika penulis bernarasi sebagai “aku”. Di novel ini walaupun sudut pandang orang ketiga yang digunakan, saya bisa merasa dekat dengan dua karakter utamanya, Lucas dan Sophie.

Yang lucu adalah dari awal baca buku ini saya sudah berniat untuk membaca buku ini pelan-pelan biar bisa lebih lama menikmati tulisan sang penulis yang sudah saya rindukan. Tapi tetap saja dengan ke-page-turner-an buku ini membuat saya tidak bisa berhenti ketika membacanya -___-

In a Blue Moon jelas bukan yang terbaik dari Ilana Tan *saya masih belum move on dari Autumn in Paris*. Tapi merupakan karya Ilana Tan termanis dibanding yang lain, dan salah satu buku yang meninggalkan kesan yang saya baca tahun ini.

“Permintaan maaf hanya akan membuat perasaanmu lebih baik, bukan perasaanku. Jadi lupakan saja.”

“Aku bersedia melakukan apa pun agar kau tetap berada di sisiku, bersamaku, selama kau juga menginginkan hal yang sama.”

RATING 5/5

Rabu, 08 April 2015

[Book Review] Kata Kota Kita by 17 Penulis Terpilih GWP Batch 1






Judul: Kata Kota Kita
Pengarang: 17 Penulis Terpilih Gramedia Writing Project Batch 1
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 272 halaman

“Akar segala kejahatan adalah cinta akan uang.”

Buku kumpulan cerpen ini merupakan karya keroyokan 17 penulis pendatang baru yang merupakan penulis terpilih pada Gramedia Writing Project Batch 1. Bagi yang belum tahu apa itu Gramedia Writing Project atau biasa disingkat GWP, yaitu seleksi pencarian bakat penulis, dimulai sejak tahun 2013 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Beberapa penulis yang berkontribusi di dalam buku ini bisa dibilang ada yang sudah saya kenal walau tidak secara langsung. Ada yang saling follow-follow-an dan berbalas mention di twitter. Ada yang sama-sama anggota BBI. Ada pula yang sering saya kunjungi blog, akun wattpad, atau akun gwp mereka. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu faktor yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini. 

Karena rasanya tidak adil kalau di review ini saya hanya membahas cerpen-cerpen yang saya suka, dan karena hampir semua cerpennya favorit saya, rasanya nanggung jika tidak saya bahas satu per satu :D

“Masa lalu bisa berdampak buruk bagi dua orang yang menyimpan cinta dengan ragu. Harusnya mereka membicarakan rencana masa depan, bukan kenangan.”

Ora – Ayu Rianna
Dibuka dengan cerpen klise, tapi ditulis dengan baik. Di cerpen ini penulis berhasil membawa saya ikut menikmati suasana Pantai Ora yang terkenal dengan keindahannya itu.
Berlari ke Pulau Dewata – Cindy Pricilla
Berbeda dengan cerpen pertama yang agak serius, cerpen kedua ditulis dengan gaya kocak dan menggelitik. Bukan termasuk yang ‘wah’, tapi cukup menghibur.
Ditelan Kerumunan – Djan Fraumi
Aneh. Dialog antar tokohnya nyeleneh. Apalagi dialog karakter Lindung. Kalau saya yang jadi Raga, pasti udah rada takut deh sama si Lindung ini x)). Gaya ngomongnya ... nggak seperti gaya bahasa yang dipakai orang pada umumnya. Sebenarnya isu yang berusaha diangkat penulis cukup menarik, cuma mengemas isu tersebut yang kurang. Terus menurut saya sik, sudut pandang yang dipakai kan sudut pandang orang pertama, tapi saya ngerasanya kayak baca dari sudut pandang orang ketiga.
Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat – Dwi Ratih Ramadhany
Rada maksa. Di awal saya pikir bakal menarik, karena saya mengira sudut pandang yang digunakan melalui sebuah benda di dalam atau di luar kafe. Ternyata si aku-nya adalah kota Malang itu sendiri -___-. Lagian si aku-nya ini maksa bener ngejodohin (lagi) Larisa sama Ragil. Sampe saya jadi kasian sama Gilang :(. Just not my cup of tea, I guess :))
“Let the Good Times Roll!” – Emha Eff
Cerpen dengan pesan moral yang baik. Saya suka!
Sparks – Emilya Kusnaidi
Udah baca Romansick? Nah cerpen ini bisa dibilang spin-off dari novel tersebut. Saya tidak akan membocorkan ceritanya, yang jelas saya sukak pake banget! Feels-nya itu loh, bisa tersampaikan dengan baik. Jadi ikutan patah hati :(. Dan judulnya, kok bisa sik mbak Emilya kepikiran judul catchy macam Romansick dan Sparks? Buat mbak Emilya, saya jadi penasaran  dengan tulisan-tulisanmu selanjutnya, ditunggu yaa ;))
Mamon, Cintaku Padamu – Idawati Zhang
I love love this short story. Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya, di sini penulis menuturkan kisah yang lebih dewasa dan ber-genre drama keluarga. Yang saya suka adalah bagaimana cara mbak Idawati*sok kenal* membuat kalimat di awal nantinya akan berhubungan dengan kalimat di akhir cerita.
Sunflower – Lidya Renny Chrisnawaty
Kisah yang manis getir. Cukup oke walau saya sudah bisa menebak akan ke mana arah ceritanya bergulir.
Frau Troffea – Lily Marlina
Di awal cerpen ini terasa menjanjikan, mengambil tema besar tentang misteri menyeramkan di Prancis tahun 1518. Cuma mengecewakan di akhir karena ending-nya yang ‘gitu doang’. Mungkin salah saya juga yang berekspektasi terlalu tinggi. Tapi serius, saya mengharapkan ending yang lebih ‘nendang’. Dan saya percaya kalau penulisnya bisa melakukan yang lebih baik lagi. Sayang sekali.
Asing – Marisa Jaya
Unexpected! One of my favorites ;))
Bukan Sebuah Penyesalan – Orinthia Lee
Kagum dengan kelihaian Orin dalam penggunaan sudut pandang cerpen ini, dan hal tersebut bikin rasa penasaran saya meningkat.
Pohon dan Cinta – Putra Zaman
Saya suka cerpen ini bukan karena faktor Palembang-nya loh ya ;)) kisahnya sederhana tapi ngena banget. Apalagi ending-nya.
Di Balik Tirai Rindu – Rizky Noviyanti
Cerpen yang memainkan perasaan saya. Tapi saya tidak bisa menerima twist-nya begitu saja. Sedikit kurang masuk akal.
Bulungan – Tj Oetoro
Agak mirip dengan cerpen sebelumnya, tapi yang ini twist-nya cukup bisa diterima.
Ankara di Bawah Purnama – Tsaki Daruchi
Mindblowing adalah kata yang tepat untuk menggambarkan cerpen ini. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul pun terjawab semua di akhir. Saya langsung bengong seketika setelah mengetahui semua fakta mengejutkan yang sebelumnya berhasil disimpan sang penulis rapat-rapat. Well done, Tha! :D
Jakarta – Yatzhiar Nao
Saya bingung dengan apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulis lewat cerpen ini. Bahwa perselingkuhan itu bisa juga berakhir manis? -__- bukan favorit saya, mungkin cuma masalah selera.
Amerta – Yulikha Elvitri
Menegangkan di sepanjang cerita, tapi lagi-lagi agak kecewa dengan ending-nya. Judul yang dipilih menarik, saya langsung googling kata “amerta” yang ternyata berarti “ketidakmatian, tidak dapat mati, abadi”. Cocok dengan apa yang dikisahkan di cerpen.

“Cinta itu kayak tanaman, Re, semakin kamu pupuk akan makin subur. Tapi coba bayangin kalau tanaman yang kamu pupuk itu tanaman yang salah. Dia memang akan tetap tumbuh, tapi akan jadi pohon yang nggak kamu harapkan.

Pujian pertama harus saya berikan pada Gramedia Pustaka Utama dengan project GWP-nya. Menurut saya ajang pencarian menemukan bakat-bakat penulis baru dan membantu mengembangkan potensi mereka patut diapresiasi. Indonesia butuh lebih banyak penulis berkualitas lagi untuk semakin memajukan dunia perbukuan kita. Dan saya melihat banyak potensi dari penulis-penulis yang berkontribusi dalam kumpulan cerpen ini.

Pujian selanjutnya buat yang mendesain kavernya. Juga buat para editor yang telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Yah, walaupun tidak sepenuhnya sempurna karena masih ditemukan beberapa typo, tapi overall bukunya rapi.

Pujian terakhir tentu saja buat ke-17 penulis buku ini. Seperti yang saya bilang tadi, mereka sangat berpotensi untuk bisa menjadi the next Indonesian Idol penulis idola di Indonesia.


RATING 4/5