Kamis, 02 April 2015

[Book Review] Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri by Bernard Batubara






Judul: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Pengarang: Bernard Batubara
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 294 halaman

“Tinggallah di rumah saja, Hamidah, bintang-bintang di langit dan rembulan purnama tak menginginkanmu keluar rumah, mereka cemburu dengan parasmu yang eloknya mengalahkan kesempurnaan pesona dewa-dewi nirwana. Jika kau keluar juga, kau akan meletakkan hidupmu dalam bahaya.”

Di dalam buku terbarunya yang merupakan kumpulan cerpen ini, Bernard Batubara bicara tentang cinta. Jika biasanya penulis-penulis lain lebih suka membicarakan sisi manis cinta, berbeda dengan Bara yang akan mengisahkan sisi gelap dari cinta.

Review ini akan sedikit panjang karena alih-alih membicarakan cerpen yang menjadi favorit saya, saya akan sedikit mengulas, me-review, mengomentari semua cerpen di dalam buku ini satu per satu. Semoga review saya ini tidak membuat kalian bosan membacanya. So, here we go ...

Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
Segala sesuatu, yang menjadi awal atau pembuka haruslah istimewa. Untuk pembuka kumpulan cerpen, cerpen ini sudah berhasil memikat saya dan membuat saya ingin membaca lebih banyak lagi cerpen-cerpen selanjutnya. Entah kenapa saya merasa aura mistis yang bikin merinding ketika membaca cerpen ini. Dan, twist-nya juga oke. Saya senang dari awal sudah menemukan satu cerpen favorit dari buku ini ;)
Nyanyian Kuntilanak
Kalian tahu asal muasal kota Pontianak? Kisah “pertarungan” Sultan Syarif Abdurrahman dengan sesosok kuntilanak? Nah bisa dibilang cerpen ini menceritakan versi lain dari kisah yang menjadi asal muasal nama kota Pontianak itu.
Seorang Perempuan di Loftus Road
Absurd. Diceritakan kalau pohon-pohon di Loftus Road dulunya merupakan para perempuan. Para perempuan yang tetap setia menunggu walaupun orang yang mereka tunggu tak kunjung datang. Makanya jangan kelamaan nunggu, bisa-bisa nanti ikutan jadi pohon loh x))
Hujan Sudah Berhenti
Kisahnya sederhana, tidak terlalu spesial. Bukan favorit saya, tapi juga bukan cerpen yang buruk.
Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
Kembali berlokasi di tempat kelahiran sang penulis, Pontianak. Cerpennya kurang berkesan buat saya. Agak terlalu sinetron x))
Seribu Matahari untuk Ariyani
Sudut pandang berceritanya menarik, hebatnya tidak membuat bingung bahkan jadi menambah aura kelam cerpennya.
Langkahan
Langkahan adalah keadaan ketika kakak adik yang sama-sama perempuan, dan si adik menikah mendahului kakaknya, maka secara adat si adik harus membayar persyaratan langkahan yang diajukan oleh kakaknya. Bagian akhir cerita cukup mengejutkan.
Meriam Beranak
Agak absurd. Saya suka. Paragraf terakhirnya juara!
Lukisan Nyai Ontosoroh
Nyai Ontosoroh yang disebut di cerpen ini merupakan salah satu karakter rekaan Pramoedya Ananta Toer di Bumi Manusia. Mungkin jika saya sudah membaca Bumi Manusia sebelumnya saya akan lebih menikmati cerpen ini ... Mungkin juga tidak ...
Bayang-Bayang Masa Lalu
Kisah cinta getir tentang kesetiaan seorang wanita yang rela menunggu ratusan tahun demi seorang pria. Endingnya bikin pembaca ikut merasa kecewa.
Orang yang Paling Mencintaimu
Cerpen yang membingungkan dari awal. Menantang pembacanya untuk merangkai sendiri potongan-potongan kisahnya. Mengasyikkan.
Nyctophilia
Cerpen yang satu ini berhasil membuat saya terhanyut dengan kisahnya, sayang twist di ending terlalu mudah ditebak.
Bulu Mata Seorang Perempuan
Absurd. Ter-absurd di antara yang lain.
Menjelang Kematian Mustafa
Saya suka kejutan yang disimpan rapat-rapat oleh penulis dari awal. Agak beda dari cerpen-cerpen yang lain, lebih ke drama dan politik.
Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Mengecewakan. Ya, saya pikir karena judul cerpen ini kemudian dijadikan sebagai judul bukunya, otomatis cerpen ini lebih spesial dari yang lain. Buat saya sendiri cerpen dengan judul yang panjang ini tidak berhasil memuaskan saya. Terlalu banyak menyisakan pertanyaan. Dan saya juga kurang suka dengan ketidak-konsistenan si tokoh “aku”. Dia sendiri yang bilang (di awal) tidak ingin menceritakan asal-usulnya, tapi sepanjang cerita asal-usul sang tokoh malah dibeberkan olehnya sendiri -____- apa mungkin saya yang gagal paham yak? x))

Fyuh, panjang juga ternyata, walaupun komentar-komentar yang saya berikan sedikit-sedikit :D. Poin yang paling saya sukai adalah bagaimana sang penulis memasukkan unsur-unsur lokal di cerpen-cerpennya. Dan beberapa cerpen di buku ini ada yang beraura mistis, nah kemistisannya itu kalau bagi saya pribadi khas Indonesia banget.

Secara keseluruhan saya cukup suka dengan kumcer ini, walaupun tidak semua cerpen di dalamnya berhasil memuaskan saya.

“Jika ia adalah sesuatu atau seseorang yang layak aku tunggu, ia tidak akan memberiku hanya sebuah kadang. Kata itu merendahkan usaha dan meremehkan seluruh kerja keras penantianku. Aku tidak ingin mencintai seseorang yang memberiku kadang.”

“Ibuku bilang, jika kau belum gila karena cinta, kau masih memberi hatimu setengah-setengah. Dan, kau tak hanya akan gagal mendapatkan cinta, tapi hal-hal yang lain juga dalam hidupmu jika kau memberi hati setengah-setengah.”

RATING 4/5

[Book Review] Koala Kumal by Raditya Dika






Judul: Koala Kumal
Pengarang: Raditya Dika
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2015 (Cetakan ketiga)
Tebal: 250 halaman

“Perlu berapa kali diselingkuhi agar kita kuat menghadapi patah hati?”

Raditya Dika kembali lagi dengan karya terbarunya! Buku yang berjudul Koala Kumal ini punya satu benang merah yang menghubungkan cerita satu dengan cerita lainnya: patah hati.

Bukan hanya patah hati pada mantan pacar, tapi juga patah hati terhadap persahabatan, patah hati pada orang yang bahkan tidak dikenal dan juga tentang tanpa sadar membuat orang patah hati. Tidak cuma bicara patah hati, beberapa bagian juga membeberkan di balik pembuatan film Cinta Brontosaurus dan penciptaan karakter Miko dari serial Malam Minggu Miko.

Tepatnya ada 12 cerita dengan judul berbeda yang terdapat di dalam buku ini. Untuk review kali ini saya akan membahas beberapa cerita yang menjadi favorit saya.

Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan
Di bab ini bang Radit memberikan tips buat cowok ketika sedang menghadapi situasi rumit; ditolak cewek dengan berbagai alasan. Ya tentu saja sudah bisa ditebak kalau tips yang diberikan ngawur :D
Perempuan Tanpa Nama
Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang asing yang membuatmu tertarik, dia membekas di ingatanmu tapi dia tetaplah hanya orang asing yang pernah kamu lihat satu kali? Nah di bagian ini bang Radit menceritakan tentang tiga perempuan tanpa nama yang pernah bertemu dengannya. Orang asing yang membuatnya secara tidak langsung merasa patah hati.
Patah Hati Terhebat
Bab yang lebih kelam dan serius dibanding yang lain. Saya suka dengan cerita si sahabat bang Radit tentang patah hati terhebat yang dialaminya lebih hebat daripada kematian Dumbledore. Bagian paling bikin depresi dibanding yang lain.
Aku Ketemu Orang Lain
Ada yang udah baca Kambing Jantan? Mungkin ada yang penasaran dengan bagaimana detail kelanjutan hubungan bang Radit dengan “Kebo”. Nah di bab ini kalian akan mengetahui semuanya, walaupun judulnya aja udah spoiler sik x))
Koala Kumal
Bagian yang ini paling random sebenarnya. Intinya bang Radit berusaha untuk menjelaskan alasan kenapa dia memilih judul Koala Kumal sebagai judul buku ini. Koala Kumal sendiri berasal dari sebuah foto yang dilihat bang Radit di situs Huffington Post. Jadi ceritanya si Koala ini yang tinggal di New South Wales, Australia bermigrasi dari hutan tempat tinggalnya. Ketika si Koala kembali, hutannya sudah rusak oleh penebang liar, ia kebingungan melihat tempat  tinggalnya sudah tidak seperti dulu lagi. Semua yang dilihatnya sudah berubah.

Secara garis besar bukunya masih cukup menghibur. Tapi ... Sebagai seorang yang bisa dikatakan penggemarnya bang Radit, saya kecewa dengan buku ini. Entahlah apakah selera humor saya yang berubah, atau gaya bercerita bang Radit yang berubah. Atau juga keduanya. Intinya, jokes di buku ini kurang menggelitik, cenderung garing.

Tapi tetap saja saya masih akan membaca karya bang Radit selanjutnya. Dua setengah bintang untuk ceritanya, tambahan setengah bintang untuk bonus pin dan bookmark-nya yang lucu :D

“Nyokap lalu bertanya, ‘Dik kamu tahu gak istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati?’
‘Apa, Ma?’
Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, ‘Dewasa’.”

RATING 3/5

Jumat, 20 Maret 2015

[Book Review] Romansick by Emilya Kusnaidi






Judul: Romansick
Pengarang: Emilya Kusnaidi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 280 halaman

“You don’t just sit there, waiting some miracles to happen. Sometimes you just have to work it.”

Di mata orang lain mungkin kehidupan Audrey—Dre sangat sempurna. Punya karir cemerlang sebagai executive editor di majalah fashion ternama, Jalouse untuk edisi Indonesia-nya. Kehidupannya juga tak pernah sepi karena di punya dua sahabat laki-laki yang selalu mau mendengar masalah-masalahnya, Eren dan Tara.

Tapi bagi Dre hidupnya tidaklah sempurna. Hampir sempurna, mungkin. Tapi tidak benar-benar sempurna. Karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Dre diam-diam mencintai sahabatnya sendiri, Eren. Sudah lama sekali Dre memendam rasa cintanya itu, tapi dia tidak pernah berani untuk menyatakannya. Lagipula Eren punya seseorang yang sangat dicintainya, Ayuna.

Suatu hari, asma Dre yang kambuh mempertemukannya dengan Austin. Austin Cheo, cowok dengan senyum asimetris yang hobi berlaku semaunya. Anehnya perlakuan Austin malah membuat Dre suka pada cowok itu. Yah, walaupun Dre menyangkalnya, rona merah di pipinya—atas reaksi dari perlakuan Austin—tidak bisa ia sembunyikan.

Bisakah Dre move on dari cinta sepihaknya pada Eren? Lalu kalau pun Dre bisa move on dengan Austin, bisakah Dre menerima rahasia yang disimpan Austin?

“Karma’s a bitch, and fate is sometimes a funny reminder to us about how we should act.”

Buat kamu yang lagi pengin baca bacaan yang ringan, terutama yang Metropop banget, Romansick dapat kamu jadikan sebagai pilihan bacaan kamu di waktu senggang. Ide ceritanya yang cukup menarik, dan karakternya lovable. Saya pribadi lumayan menikmati buku ini ketika membacanya.

Yang kurang saya suka adalah pemberian nama pada karakternya. Menurut saya sik nama Eren dan Tara itu kurang menegaskan kalau dua karakter itu berjenis-kelamin laki-laki (maap yak kalau ada mas-mas yang punya dua nama di atas yang baca ini x)) ini menurut saya loh ya). Sebaliknya, panggilan Dre (walaupun diambil dari Audrey) kesannya malah cowok banget. Makanya di bagian awal saya sempat bingung baca buku ini.

Seperti Metropop pada umumnya, buku ini juga berisi merek-merek yang bahkan saya tidak tahu bagaimana mengucapkannya secara baik dan benar xD juga bahasa Ingris di dialog dan narasinya. Sayang menurut saya penggunaan bahasa Inggris-nya kurang smooth. Ada bagian yang kadang membuat saya terganggu dengan pemakaian bahasa Inggris itu.

Untuk karakter-karakternya, karakter yang saya sukai di buku ini adalah Tara. Saya suka karakter Dre yang bermulut pedas, tapi buat saya Tara lebih menarik :D perannya sebagai sahabat Dre yang selalu bersedia mendenegarkan curhatan Dre, dan tidak ragu untuk bicara blak-blakan pada Dre membuatnya punya nilai lebih. Saya selalu suka dengan karakter penengah macam Tara ini.

Penilaian dari kontennya, buku ini saya beri tiga bintang. Dan tambahan setengah bintang untuk judulnya yang catchy dan desain cover-nya yang entah kenapa tidak pernah membuat saya bosan untuk memandanginya.

“Lucu, bahwa waktu bisa mengubah perasaan orang sebegitu cepatnya. Cuma dalam hitungan bulan dan semuanya berubah seperti itu. Gue nggak ngerti, scepat itu ya perasaan orang bisa berubah?”

 
RATING 3.5/5