Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

[Book Review] Anak ini Mau Mengencingi Jakarta?: Kumpulan Cerpen Lintas Generasi, Lintas Genre






Judul: Anak ini Mau Mengencingi Jakarta? (Cerpen Pilihan Kompas 2015)
Pengarang: Agus Noor, Ahmad Tohari, AK Basuki, Anggun Prameswari, Budi Darma, Dewi Ria Utari, Djenar Maesa Ayu, Faisal Oddang, Gde Aryantha Soethama, Guntur Alam, Gus TF Sakai, Indra Tranggono, Joko Pinurbo, Jujur Prananto, Martin Aleida, Miranda Seftiana, Ni Komang Ariani, Oka Rusmini, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Tawakal M Iqbal, Triyanto Triwikromo, Warih Wisatsana.
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 256 halaman

“’Kencing dekat punggung emak, tidak boleh. Kencing dekat buntalan pakaian, juga tidak boleh. Yang boleh di mana, Pa?’
Si ayah tersenyum. Wajahnya sungguh menampakkan wajah manusia bebas-merdeka, khas wajah warga kehidupan pinggir rel kereta api.
‘Nah, dengar ini! Kamu boleh kencing di mana pun seluruh Jakarta; di Menteng, di pinggir Jalan Thamrin, di lapangan belakang Stasiun Gambir, di sepanjang gili-gili Kebayoran Baru, juga boleh kencing di Senayan. Dengar itu?’” (Anak ini Mau Mengencingi Jakarta? – Ahmad Tohari)

Kalau boleh mengaku-aku, saya adalah penggemar kumpulan cerpen. Ada beberapa kumpulan cerpen yang masih meninggalkan kesan bahkan setelah lama sekali saya membacanya, di antaranya semua kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan, Semua untuk Hindia, Rectoverso, 9 dari Nadira, Cerita Cinta Indonesia, Dari Datuk ke Sakura Emas, Kumpulan Budak Setan, sudah, hanya judul-judul tersebut yang saya ingat :D. Dan, setelah membaca buku kumpulan cerpen ini saya berani ber-statement bahwa “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” adalah kumpulan cerpen terbaik yang pernah saya baca. Setidaknya terbaik sejauh ini.

Sebelum menyerempet ke cerpen-cerpen di dalamnya, saya mau membeberkan beberapa hal yang menjadi poin tambah buku ini, yaitu: judulnya yang akan langsung membuat siapa saja menoleh dua kali ketika melihat buku ini berjejer di rak toko buku, sampulnya, ilustrasi di setiap cerpen, dan terakhir kertas sampul yang tebal (sehingga tidak mudah melengkung) dan kertas isinya yang juga lebih tebal dari buku-buku kebanyakan.

Kedua puluh tiga cerpen di dalamnya sendiri beragam, dari genre sampai tema yang diangkat. Telah dituliskan di bagian sampul belakang kalau kontributor dari kumpulan cerpen ini berasal dari generasi berbeda mulai dari Ahmad Tohari sampai Faisal Oddang. Hebatnya, menurut saya semuanya seimbang, tak ada yang jomplang, meski tetap ada yang tidak menjadi favorit saya, tidak mengurangi kekaguman saya pada tiap cerpennya. Murni saya menyalahkan selera.

Banyak cerpen-cerpen yang hanya sekadar bagus di mata saya, tak sedikit pula yang istimewa. Sulit untuk menentukan cerpen yang mana yang paling saya favoritkan, tapi kalau harus dipaksa memilih, pilihan saya jatuh pada cerpen berjudul “Basa-Basi” karya Jujur Prananto. Cerpen ini satirnya yang paling ngena, bercerita tentang seorang karyawan BUMN yang sangat benci berbasa-basi, tapi keadaan menuntut sebaliknya.

“’Kenapa kamu kesal? Kenapa harus marah?’ tanya Ratih. ‘Mendoakan orang yang sakit kan bagus.’
‘Bukan cuma bagus, tapi harus. Masalahnya, apakah yang mereka ucapkan itu benar-benar mereka jalani? Apa pernah kegiatan berdoa untuk kesembuhan bu Siska itu benar-benar mereka lakukan, entah itu di rumah, di masjid, di gereja, di wihara atau di mana pun mereka berada? Atau mereka sekadar mengetikkan kata-kata keyboard smartphone dan memencet tombol send untuk menyenang-nyenangkan bu Siska? Aku yakin yang mereka lakukan basa-basi belaka!!!’
‘Jangan suka curiga....’
‘Mereka sendiri yang bicara.’” (Basa-Basi – Jujur Prananto)

Selanjutnya diikuti oleh “Anak ini Mau Mengencingi Jakarta?” karya Ahmad Tohari “Orang-orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu” karya Faisal Oddang di posisi yang sama, sedikit di bawah “Basa-Basi”. 

Yang paling saya suka dari “Anak ini Mau Mengencingi Jakarta?” adalah adegan per adegannya yang berhasil memotret sepenggal kehidupan orang pinggiran, terutama adegan makan mi instan. Didukung pula dengan dialog yang kuat. Terlalu bagus untuk jadi cerpen pembuka.

Sedangkan “Orang-orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu” sudah membuat saya takjub sejak kalimat pembukanya: “Kami dipaksa menganut agama resmi, mencantumkannya di KTP, dan dipaksa menjauhi Tuhan kami—Dewata Sewwae, tentu kami tidak berdaya lantas harus menerimanya dengan dada lapang yang perih.” Cerpen ini sekaligus berhasil membuat saya ngefans lagi pada Faisal Oddang setelah sempat kecewa dengan salah satu karyanya yang baru-baru ini saya baca. Sepanjang saya membaca cerpen ini, yang ada di benak saya adalah rasa kagum, kok bisa ya kepikiran ide cerita sekeren ini?

Cerpen-cerpen lain yang bikin saya iri setengah mati karena ide ceritanya ada “Dua Penyanyi” yang ditulis oleh Budi Darma, “Lidah Ketut Rapti” oleh Ni Komang Ariani, “Batu Lumut Kapas” oleh Gus TF Sakai, “Kebohongan Itu Manis, Vardhazh” oleh Indra Tranggono, “Linuwih Aroma Jarik Baru” oleh Anggun Prameswari, “Sepasang Kekasih di Bawah Reruntuhan” oleh AK Basuki, dan “Nomor” oleh Seno Gumira Ajidarma.

“Setelah aku mati diriku adalah sebuah nomor dalam telepon genggam.” (Nomor – Seno Gumira Ajidarma)

Di sisi lain saya malah agak heran karena sedikit sekali yang mengambil isu LGBT, padahal biasanya isu ini yang cukup laris diangkat. Mungkin hanya cerpen-cerpen tersebut ya yang layak masuk dalam buku ini? Di buku ini ada dua (sebenarnya lebih, tapi kalau saya sebutkan nanti malah hilang kejutan dari cerpen yang dimaksud) yaitu “Upacara Hoe karya Guntur Alam dan “Sebatang Lengkeng yang Bercerita” karya Miranda Seftiana. Kedua cerpen tersebut untunglah cukup memuaskan, terutama yang ditulis oleh Guntur Alam. Latar belakang adat Tionghoa-nya itu lho. Thumbs up!

Singkat kata, kesimpulan dari review ini: “Anak ini Mau Mengencingi Jakarta?” akan melengkapi daftar bacaan terbaik yang saya baca tahun ini :))

“Tidak mudah menjadi seorang perempuan. Sebab berkali-kali nyawanya harus digadaikan pada meja persalinan. Bernegosiasi dengan malaikat maut demi sebuah kehidupan lain. Pun tidak mudah pula menjadi seorang lelaki. Lantaran di tangan kukuhnyalah kehidupan baru itu meminta ketentuan. Apakah berlanjut atau cukup hingga air susu habis masanya?” (Sebatang Lengkeng yang Bercerita – Miranda Seftiana)


“Itu kebohongan yang manis, Vardhazh... sangat manis... begitulah seharusnya. Seorang penguasa harus pintar beternak kebohongan. Hanya dengan menanam kebohongan di mulut, orang macam kita bisa bertahan.” (Kebohongan Itu Manis, Vardhazh – Indra Tranggono)

  

Sabtu, 14 Mei 2016

[Book Review] Kumpulan Budak Setan: Persembahan Bagi Penulis Horor Legendaris






Judul: Kumpulan Budak Setan
Pengarang: Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Februari 2010
Tebal: 174 halaman

“Kata istriku, bajang itu serupa musang, tapi ia mengeong serupa kucing. Hantu macam begitu sering mendatangi perempuan-perempuan bunting, merampok anak di dalam perutnya, atau membuatnya gila. Aku telah berkeliling kampung mencari secarik sutera hitam dan kukaitkan di pergelangan tangan istriku sebagai penangkal hantu bajang, tapi aku tetap mencemaskannya.” – Penjaga Malam - Eka Kurniawan

Iseng nge-search “Eka Kurniawan” di menu pencarian SCOOP ternyata membawa saya menuju harta karun tak terduga. Tanpa sengaja saya menemukan buku ini yang dijual dengan harga sangat murah. Dari semua buah karya Eka Kurniawan (yang fiksi) buku inilah yang belum saya punya. Kecuali Corat-Coret di Toilet, karena saya sudah pernah membaca cerpen-cerpen di dalamnya di Gelak Sedih, jadi tak punya pun rasanya tak apa :p.

Kumpulan cerpen ini boleh dibilang sebuah tribute untuk Abdullah Harahap, beliau merupakan penulis yang dikenal lewat novel-novel bertema horornya. Seingat saya, saya belum pernah membaca satu pun karyanya, tapi menyimpulkan dari bagian pengantarnya garis besar tema yang diangkat di novel-novel Abdullah Harahap yaitu horor dengan sedikit bumbu erotika.

Membaca buku ini seperti sedang menonton film omnibus horor yang setiap segmennya berisi lagi film-film pendek. Untuk itu, dalam review ini saya akan membahas per segmennya. Anyway, Kumpulan Budak Setan ini terbagi menjadi tiga segmen yang diracik oleh masing-masing penulis yang berkontribusi di dalamnya. Tiap segmen terdiri dari empat cerpen.

“Kini ia paham: orang banyak mengira selangkangan itu adalah bagian dari tubuh mereka, alat mereka, sesuatu yang digerakkan oleh hasrat mereka. Mereka keliru, tentu. Benda kecil di selangkangan itulah iblisnya. Laki-laki hanyalah inang.” – Hidung Iblis - Ugor Prasad

Dalam segmen pertama, Eka Kurniawan menulis cerpen-cerpen bertemakan mitos dan kepercayaan yang berhubungan dengan hal mistis. Mungkin karena tiga cerpen pertamanya sudah pernah saya baca di buku lain (Penjaga Malam, Taman Patah Hati, dan Riwayat Kesendirian), cerpen paling berkesan buat saya adalah cerpen terakhir di segmen ini yang berjudul Jimat Sero.

Selanjutnya, di segmen kedua, Intan Paramaditha menawarkan keseraman di kelas berbeda. Cerpen-cerpen yang ditulis olehnya lebih sadis dan cenderung disturbing. Keempatnya menjadi favorit tapi yang paling meninggalkan bekas tentu saja Si Manis dan Lelaki Ketujuh. Sampai saya menulis review ini, masih terbayang adegan dan penggambaran disturbing-nya -_-“.

Segmen terakhir, menurut saya yang paling lemah dibanding yang lain. Tapi di sini Ugoran Prasad berani mengambil ide cerita yang lebih beragam. Eh, mungkin “segman paling lemah” juga bukan kata yang tepat sih untuk menggambarkannya. Saya cuma kurang suka dengan gaya berceritanya yang kurang lugas. Favorit saya di segmen ini jatuh pada cerpen Hidung Iblis.

Tak salah saya mengidamkan buku ini sejak lama. Hasil setelah baca, saya sangat puas dengan suguhan kengerian yang sensasinya berbeda-beda. Tapi, ada satu kekurangan dari buku ini yang menonjol, typo-nya sudah masuk ke dalam ketegori mengganggu. Ada pula beberapa kali kesalahan penggunaan awalan “di”. Saya malah sempat bertanya-tanya: benarkah ini edisi final-nya? Untuk tata bahasa, baku tidak baku, terlepas itu disengaja atau tidak, saya tak mau berkomentar panjang lebar lagi ah, takut nanti dibilang sok tahu. xD

Akhir kata, buku ini saya rekomendasikan untuk yang mengaku pencinta kumpulan cerpen maupun karya fiksi bertema horor.

“Benar kata orang, lebih mudah menikah daripada bercerai. Dan lebih mudah mengatakan cinta daripada memutuskan tali asmara.” – Taman Patah Hati - Eka Kurniawan




Minggu, 01 November 2015

[Book Review] Kukila - M. Aan Mansyur






Judul: Kukila
Pengarang: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Oktober 2015 (Cetakan ketiga)
Tebal: 192 Halaman

“Masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang, untuk itu ia menitipkan surat—kadang kepada sesuatu yang tidak kita duga. Kita menyebutnya kenangan.”

Berkat pinjaman dari seorang teman, saya bisa mencoret buku ini di daftar buku-buku yang sudah lama sekali ingin saya baca. Kukila berisi 16 cerita pendek karya M. Aan Mansyur yang beberapa di antaranya pernah dipublikasikan di media lain.

Dalam review ini saya hanya akan membahas beberapa judul cerpen yang paling meninggalkan kesan bagi saya.

Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)
Cerita pendek yang cukup panjang sampai memakan hampir setengah bagian buku ini bisa dibilang versi panjang dari cerpen berjudul “Di Tempat Kau Berbaring Sekarang”. Cerpen tersebut pertama kali saya baca di buku kumpulan cerpen “Dari Datuk ke Sakura Emas” yang terbit beberapa tahun yang lalu. Bercerita tentang Kukila dan rahasia masa lalunya yang ingin dia bagi ke anak-anaknya lewat surat dan bagaimana rahasia itu akan berpengaruh ke kehidupan mereka sekarang.

Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan
Seorang suami yang baru saja kehilangan istrinya perlahan-lahan mengetahui hal mengejutkan tentang istrinya melalui tas yang dia pegang sebelum meninggal kecelakaan.

Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi
Atas permintaan suaminya, setiap suaminya pergi bekerja Rahasia harus memakai celana dalam yang terbuat dari besi yang dikunci dan kuncinya dibawa ke kantor. Alasan suaminya melakukan itu adalah untuk mencegah adanya aksi perselingkuhan di pernikahan mereka. Berhasilkah?

Lebaran Kali ini Aku Pulang
Dua puluh tahun tak pernah pulang ke kampung halaman, karakter utama cerpen ini menyadari banyak hal yang berubah dari apa yang dulu diingatnya, termasuk orang-orang yang dia kenal.

Hujan. Deras Sekali.
Saya sudah pernah baca cerpen ini sebelumnya di kumpulan cerpen berjudul “Perempuan yang Melukis Wajah”. Baca ulang jadi tambah suka. Cerpen ini mengambil sisi lain dari banjir dengan kocak dan satir.

Secara keseluruhan, semua cerpen di dalam buku ini bagus, masing-masing punya kelebihan yang menonjol, bahkan hampir semuanya menyajikan twist mengejutkan di endingnya. Tapi, mungkin karena saking bagusnya cerpen pertama, Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), setelah membaca cerpen-cerpen selanjutnya saya jadi tidak bisa tidak membandingkannya dengan cerpen pembuka yang dahsyat itu.

Di cerpen pembuka inilah saya paling mengenali ke-khas-an tulisan Aan Mansyur di mana setiap paragrafnya ditulis dengan indah ditambah dengan diksi yang bikin iri. Bukan berarti cerpen lain jelek, cuma menurut saya kedahsyatan cerpen pertama menutupi cerpen-cerpen yang disuguhkan setelahnya.

“Aku ingin mati di bulan September yang kemarau seperti bunga-bunga di halaman. Tetapi mati tidak bisa dipesan lalu seseorang mengantarnya serupa pesanan dari restoran cepat saji yang iklannya ada di televisi. Aku ingin ditebang serupa pohon mangga. Dibakar di tempat sampah dan abuku menyuburkan rerumputan liar di halaman. Tetapi mati yang kuinginkan separuhnya dibawa Rusdi pergi, selebihnya dibagi-bagi di antara kalian. Aku tubuh semata. Percuma. Tubuh kosong tanpa apa-apa lagi di dalamnya, kecuali perasaan-perasaan yang berubah kalimat-kalimat ini. Aku telah mati, rupanya. Aku telah mati jauh malam sebelum semua doa-doaku tiba di alamat Tuhan.”







Minggu, 03 Mei 2015

[Book Review] 11 Jejak Cinta by 11 Penulis Teenlit GPU






Judul: 11 Jejak Cinta
Pengarang: Charon, Clio Freya, Dyan Nuranindya, Ken Terate, Lexie Xu, Luna Torashyngu, Mia Arsjad, Pricillia A.W., Primadonna Angela, Shandy Tan, Windhy Puspitadewi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 200 halaman

“Orang bilang lidah tak bertulang. Tidak, mereka salah besar. Lidah itu kaku seperti dahan kayu. Sekali dia bengkok, bakal susah diluruskan. Tak ada yang salah dengan yang bengkok. Yang bengkok mungkin saja indah. Tapi orang-orang itu hanya bisa menerima yang lurus. Yang bengkok dan menyimpang hanya buat sampingan. Hanya buat lelucon. Hanya buat diguyur tepung di acara televisi. Buat apa? Semata agar tuyul-tuyul itu bisa terbahak.”

Teenlit. Saya pikir semua orang pasti sudah amat familiar dengan lini dari Gramedia Pustaka Utama yang lahir 11 tahun silam ini. Dan, untuk menyambut ulang tahun ke-11-nya, sebelas penulis Teenlit yang namanya tidak asing lagi mempersembahkan sebuah kumpulan cerpen spesial berjudul 11 Jejak Cinta.

Seperti review kumcer sebelumnya, kali ini saya juga akan sedikit mengulas satu per satu cerpen di buku ini sebelum me-review secara keseluruhan.

Satu Pengacau Kecil – Charon
Sebagaimana cerpen pembuka, cerpen yang ditulis Charon ini ringan dan bisa jadi pernah dialami oleh mereka yang sedang membaca. Curahan hati anak remaja tentang kekesalan pada adik yang bandel dan sering menganggu kehidupannya sebagai remaja. Saya cukup terbawa emosi dan mengerti perasaan kesal yang dirasakan karakter utama. Cukup lumayan sebagai pembuka.

Berteman Cinta – Clio Freya
Cerpen ini membuktikan kalau ide cerita sederhana bisa dikemas menarik dengan gaya penulisan yang baik. Saya suka bagaimana penulis menuturkan kisahnya. Jadi penasaran dengan karyanya Clio Freya abis baca ini :D

Langit di Ujung Jendela – Dyan Nuranindya
Cerita manis nan hangat tapi tanpa diduga menyimpan kesenduan di baliknya. Porsi penceritannya pas. Sebuah cerita pendek yang utuh, tidak meninggalkan pertanyaan di benak pembacanya.

Dua Hati Menghadapi Dunia – Ken Terate
Sejauh yang sudah saya buktikan sendiri, Ken Terate tidak pernah mengecewakan saya. Begitu pula dengan cerpen ini. Ide ceritanya bikin saya tambah kagum sama mbak penulis. Gaya bercerita yang digunakan juga unik dan asyik, biasanya khas Ken Terate adalah gayanya yang kocak dan polos bahkan ketika tema yang diangkat cukup serius seperti di Dark Love. Tapi lagi-lagi sang penulis memberikan kejutan seperti ketika saya membaca cerpennya di kumpulan cerpen Cerita Cinta Indonesia. Eh iya, saya suka dengan julukan jenis-jenis dedemit yang digunakan x))

Kecelakaan – Lexie Xu
Lexie Xu adalah salah satu penulis yang saya kagumi karena kekonsistenan genre yang dia tulis. Tapi cerpen ini membuat saya sedikit kecewa, tidak ada karakter psycho di sini ._. Deskripsinya masih bikin merinding (dan mual) walaupun ide ceritanya saya kurang suka.

First Girl – Luna Torashyngu
Seklise ftv. Sepanjang cerita saya misuh-misuh dengan alurnya yang amat sangat cepat sekali. Ternyata keluhan saya terjawab di akhir cerita. Jadi... cerpen ini tuh sebenarnya... eh nggak jadi deh, nanti malah bukan kejutan lagi ;)) penasaran kan? Kan? Kan? Makanya baca bukunya dong x))

MILO – Mia Arsjad
Zaman sekarang media untuk berkenalan dengan orang asing itu mudah sekali didapat, hanya bermodal koneksi internet. Iya kalo orang asingnya baik, cakep, soleh, dan berbudi pekerti luhur, kalo modelnya kayak para perverts di Catfish kan bahaya. Salut buat mbak Mia yang mengusung ide cerita yang menjadi kekhawatiran para orangtua sekarang. Saya suka ending yang dipilih, lebih tepat lagi keputusan yang diambil oleh karakter utama. Butuh baca karya mbak Mia Arsjad yang lain!

Duniaku Kiamat! – Pricillia A.W.
Lagi dan lagi, saya terhanyut dan kebawa emosi. Awalnya sebel sama karakter Nara. Dan twist di ending yang jleb dan bikin patah hati itu membalikkan emosi saya. Jadi ikutan patah hati -__-

Bekal Istimewa untuk Pangeran – Primadonna Angela
Manissss. Salah satu yang saya favoritkan. Udah gitu aja.

Untukmu Sahabat – Shandy Tan
Cerpen paling sedih di antara yang lain. Intinya jangan sampai kesibukan aktivitasmu membuatmu melupakan sahabat terbaikmu. Atau penyesalan di akhir yang akan kamu dapati. 

Nastya – Windhy Puspitadewi
Mungkin saya akan lebih bisa menikmati cerpen ini kalau sudah baca Incognito. Selalu menyenangkan sebenarnya membaca sebuah side story dari sebuah novel.. kalau, sudah baca novelnya sendiri :D saya tidak yakin apakah ini dampak bagus atau tidak bagus, cerpen ini bikin saya jadi pengin baca Incognito x(

Pertama kali saya berkenalan dengan Teenlit adalah lewat Dealova yang sedang hits karena filmnya. Saya yang saat itu penasaran (dan kebetulan baru menuntaskan Detective Conan volume baru, juga sedang tidak ada bacaan lain) pun mencoba membaca buku yang baru selesai dibaca oleh kakak perempuan saya itu. Dan saya suka! Walaupun barulah pas SMA saya cukup mengikuti novel-novel Teenlit x))

Seiring perkembangan zaman, Teenlit menjelma menjadi bacaan wajib remaja di sekolah menengah. Formulanya pun mulai beragam. Tidak melulu masalah klise seputaran naksir kakak kelas, cewek biasa yang diperebutkan dua cowok keren, atau segudang ide basi lainnya. Ada masalah persahabatan yang diceritakan Ken Terate lewat Jurnal Jo. Seri Touché karya Windhy Puspitadewi yang berbau fantasi ala serial televisi Heroes. Tak ketinggalan genre misteri-thriller yang ditawarkan oleh Lexie Xu. Atau Teenlit tentang matematika seperti Teka Teki Terakhir-nya Annisa Ihsani.

Sayangnya semakin bertambah umur, semakin beragam pula pilihan bacaan yang saya suka. Saya mulai berkenalan dengan Metropop, young adult, distopia, dan berbagai genre lain. Dan hal tersebut agak menyingkirkan Teenlit dari jejeran buku yang saya baca. Hanya beberapa judul yang masih saya ikuti, itu pun setelah baca review yang cukup rame dari teman-teman goodreads.

Yang paling saya suka dari kumpulan cerpen ini adalah penulis-penulis cerpen di buku ini mampu saling mengimbangi satu sama lain. Tidak ada cerpen yang lebih jelek dari cerpen yang lain, yang menentukan hanyalah masalah selera pembaca. Harus saya akui saya menikmati semua cerpen di dalamnya, itulah yang menyebabkan saya bisa menyelesaikan kumpulan cerpen ini dengan waktu singkat.

11 Jejak Cinta berhasil membuat saya kembali mengingat alasan saya dulu menggemari Teenlit. Terima kasih kepada semua penulis yang telah berkontribusi. Dan saya harus mengucapkan, selamat ulang tahun untuk Teenlit, saya harap kamu akan selalu menemani dan memberi makna di kehidupan para remaja generasi-generasi selanjutnya.

“Aku... berteman dengan... buku. Mereka nggak pernah membuatku kesepian. Setidaknya mereka nggak bikin aku kepengen bunuh diri cuma gara-gara hidupku yang ngebosenin kayak kamu.”


RATING 4/5