Senin, 04 Juli 2016

[Book Review] Di Tanah Lada: Cerita Kelam yang Dikisahkan dengan Unik






Judul: Di Tanah Lada
Pengarang: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 244 halaman

“Menurutku, Papa mirip hantu. Papa mirip hantu karena aku takut hantu, dan aku tahu Mama takut hantu. Dan aku takut Papa. Dan aku tahu kalau Mama juga takut Papa.”

Salva—bukan Saliva—atau biasa dipanggil Ava, adalah seorang gadis kecil berumur enam tahun yang punya hobi membaca kamus Bahasa Indonesia. Kecintaannya tersebut tumbuh karena Kakek Kia yang memberinya kamus itu di hari ulang tahunnya. Kata Kakek Kia, orang yang berbicara dengan baik akan lebih disegani oleh orang lain. Setiap hari Ava membaca kamusnya, mempelajari banyak kata-kata baru.

Namun Kakek Kia meninggal, dia meninggalkan banyak uang untuk papa Ava. Papa Ava adalah seorang tukang judi. Dia jahat, membenci Ava, dan selalu berbicara dengan jelek. Tidak seperti mamanya, mama Ava cantik dan baik, dan sayang pada Ava.

Setelah mendapatkan banyak uang, papa Ava menjual rumah mereka dan pindah ke Rusun Nero yang letaknya dekat dengan tempat perjudian. Ava tidak suka dengan Rusun Nero. Tempatnya kotor dan kumuh, dan di sana dia tidak punya kasur, apalagi sebuah kamar. Tapi di sana dia bertemu dengan seorang anak umur sepuluh tahun yang hobi bermain gitar, namanya P. Ya, namanya memang sependek itu, hanya satu huruf.

Mudah saja bagi mereka untuk menjalin persahabatan. Dan persahabatan mereka ini nantinya akan menjadi awal dari sebuah petualangan tak terduga yang akan mereka lalui bersama.

“’Itu punya kamu?’ tanyaku, menunjuk sepeda itu.
Dia mengangguk. ‘Iya. Aku dapat dari orang sebelah.’
‘Ih, serem!’
‘Seremnya kenapa?’
‘Iya. Orangnya cuma sebelah, kan? Badannya... cuma ada sebelah, kan?’”

Hmmm... dari mana dulu saya harus membicarakan buku ini? Kesan saya setelah membacanya? Menurut saya bukunya bagus, ide ceritanya menarik, dan diceritakan dengan menarik pula; lewat narasi bocah berumur enam tahun. Tapi ada beberapa hal yang membuat kekaguman saya pada buku ini berkurang. Di antaranya:

Karakter Ava yang agak nggak masuk akal. Ini mungkin dibahas hampir oleh semua orang yang pernah baca buku ini, menurut saya Ava di sini karakternya dibuat terlalu pintar untuk ukuran anak kecil yang baru berumur enam tahun. Pertama, rasanya aneh saja mengetahui hobi membaca kamusnya. Ini kamus lho, yang isinya tulisan kecil-kecil nan rapat dan tidak terdapat gambar di dalamnya. Selanjutnya, ingatannya yang amat sangat kuat, bisa hafal dengan kalimat-kalimat panjang yang pernah diucapkan orang lain kepada dia sampai ke titik koma. Kalau saya sih, seringnya melihat malah karakter Ava di sini bukan sebagai anak kecil yang terlalu cepat dewasa, tapi malah kayak orang dewasa yang kekanakan.

Lalu mamanya Ava. Saya nggak ngerti lagi deh sama pola pikirnya. Emang umurnya berapa sik? 17? 18? 19 tahun? Lalai bener -____-

Dan, ini juga bisa dibilang sering jadi kendala jika menggunakan POV 1, di beberapa bagian kelihatan sekali kalau penulisnya yang sedang bersuara, bukan si Ava-nya.

Endingnya. Untuk pembenci ending tragis, saya amat tidak menyarankan kalian untuk baca buku ini ya. Saya tidak benci endingnya kok, tapi tetep nggak tega bacanya T_T 

Tapi terlepas dari itu semua, buku ini sama sekali tidak bisa dibilang jelek, at least berhasil bikin hati saya trenyuh. Mungkin saya aja bacanya terlalu serius ._. Hal-hal yang saya suka dari buku ini seperti: percakapan Ava dan P yang lugu, kadang kocak. Ketika P menceritakan pada Ava cerpennya Andy Weir yang berjudul The Egg, yah meski percakapan mereka masih berasa terlalu dalem untuk anak seumuran mereka. Dan ketika mereka membicarakan reinkarnasi. Satu lagi, judulnya. Saya takjub pas baca bagian yang bikin saya sadar kenapa diberi judul "Di Tanah Lada". Keren deh bisa kepikiran sampe sana.

“’Ditulisnya ‘M. Poirot’. Menurut kamu, ‘M’ itu apa, ya? Eh, apa mungkin itu cuma ‘M’ saja? Seperti namaku, P saja. Dia cuma M saja. M. Poirot.’
‘Bukan. M itu kependekan Muhammad,’ kataku. ‘Teman-temanku di sekolah juga punya nama yang depannya ada ‘M’-nya. Mereka bilang, itu kependekan dari Muhammad.’
‘Muhammad Poirot. Boleh juga, ya, namanya.’”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar