Minggu, 11 Oktober 2015

[Book Review] Puya ke Puya by Faisal Oddang






Judul: Puya ke Puya
Pengarang: Faisal Oddang
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 218 Halaman

“Setiap ayunan kaki manusia, ia tengah berjalan pergi sekaligus menuju pulang. Orang-orang hidup hanya untuk mati, begitulah. Semakin kau berjalan menjauh, semakin maut berjalan mendekat.”

Dalam kepercayaan orang Toraja, kematian seseorang harus dirayakan. Upacara itu bernama rambu solo. Orang-orang akan berkerumun mengantar yang meninggal di dalam peti untuk berjalan menuju puya, alam tempat menemui Tuhan. Namun rambu solo bukanlah upacara adat biasa, tak sedikit jumlah uang yang dibutuhkan untuk melaksanakannya, dan hal tersebut menjadi tanggungan keluarga yang ditinggalkan.

Kematian Rante Ralla membuat anaknya, Allu Ralla yang sedang berkutat menyelesaikan skripsi pulang ke Toraja. Dalam rapat keluarga, Allu memutuskan untuk memakamkan ayahnya di Makassar, tanpa adanya ritual rambu solo. Ibunya diam. Meski tak begitu dengan saudara-saudara ayahnya. Bagi mereka, tidak melaksanakan rambu solo adalah aib bagi keluarga besar, apalagi semasa hidupnya Rante adalah ketua adat. Sudah sepantasnya perjalanan Rante menuju puya dengan menunggangi kerbau belang dan diiringi puluhan kerbau serta ratusan babi. 

Lagi-lagi Allu berkeras dengan alasan tak punya biaya untuk mengadakan rambu solo semegah itu. Sesungguhnya bukan tidak mungkin untuk mewujudkannya. Keluarga besarnya bersedia membantu, dan tanah yang selama ini mereka tinggali telah ditawar mahal oleh perusahaan tambang nikel. Namun Allu sadar kalau bantuan dari keluarganya akan dianggap hutang. Dan dia tak mungkin menjual tanah yang telah menjadi warisan turun-temurun itu.

Tetapi, kala muncul harapan untuk membuat hidupnya bahagia meski di sisi lain membuatnya harus memikirkan lagi keputusannya, jalan apa yang akan dipilih Allu? Lalu, apa yang akan terjadi dengan rahasia kematian Rante yang masih dipendam rapat-rapat oleh istrinya? Akankah dia goyah dan pada akhirnya tak sanggup lagi menyimpan rahasia itu?

“Inilah sebenarnya yang ditakutkan dari kematian. Sebagai orang Toraja, aku takut pada kematian bukan karena membayangkan betapa sakit saat maut merenggut, bukan itu. aku hanya takut menjadi mayat, dan menyusahkan keluarga.”

Siapa yang tidak tergiur dengan buku ini ketika membaca pertanyaan besar “kenapa surga diciptakan?” di sampul belakangnya? Ditambah label “Pemenang IV Sayembara Menulis Novel DKJ 2014”-nya. Setidaknya, saya tergiur :D 

Resep rahasia untuk langsung menikmati buku ini dari awal adalah dengan mengetahui bagaimana point of view yang digunakan oleh penulisnya. Penulis bercerita melalui empat narator berbeda, yang cara pembedaannya adalah dengan menggunakan tanda “(“ dan “*”.
Rinciannya:
Untuk yang tidak bertanda adalah milik narator serba tahu—yang di sini saya enggan untuk menyebutkan identitasnya (baca sendiri yaa ;)))
(* digunakan untuk Rante Ralla yang baru meninggal.
(** digunakan untuk Allu Ralla.
(*** digunakan untuk Maria Ralla, adik Allu yang meninggal tujuh belas tahun yang lalu ketika masih bayi.

Yes, you heard read it right. Penulis dengan gilanya menggunakan sudut pandang orang pertama tidak hanya lewat karakternya yang masih hidup, tapi juga yang telah meninggal.

Jika sudah paham dengan perihal pov-nya, niscaya akan mudah sekali terhanyut dengan kisah di buku ini. Saya sendiri baru sadar akan keunikan pov-nya di halaman 20-an, sehingga tidak puas rasanya kalau tidak mengulang lagi dari awal.

Ada yang pernah nonton film Korea The Piper? Kalau pernah, sedikit banyak buku ini mengingatkan saya pada film tersebut. Bukan. Tak perlu cemas buat yang fobia tikus *yang pernah nonton pasti tau yang saya maksud*, buku ini tidak ada hubungannya dengan tikus. Hanya saja feel yang dibangunnya mirip. Di awal-awal disuguhi dengan drama, lalu di akhir akan dikejutkan dengan nuansa thriller yang cukup disturbing.

Satu kekurangan buku ini yang paling menonjol, ketidakrapian pengetikannya, typo-nya bertebaran :( malah semakin sering ditemukan mendekati lembar-lembar terakhir.

Jadi... kenapa surga diciptakan? Saya tidak akan membocorkan jawabannya untuk kalian. Bisa jadi pendapat kita pada jawaban atas pertanyaan itu akan berbeda. Saya anjurkan untuk baca, pahami, dan temukan sendiri jawabannya.

“Di dunia tak ada yang abadi, tetapi kematian tidak pernah fana.”





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar