Sabtu, 13 Desember 2014

[Book Review] Ritus-Ritus Pemakaman by Hannah Kent






Judul: Ritus-Ritus Pemakaman (Burial Rites)
Pengarang: Hannah Kent
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 416 halaman

“Tidak ada orang yang sepenuhnya jahat.”

Tahun 1829, di sebuah kota kecil di Islandia Utara, Agnes Magnúsdóttir menunggu pelaksanaan hukuman mati atas dirinya. Karena tak ada penjara untuk menampungnya, Agnes ditempatkan di rumah keluarga Petugas Wilayah Jón Jónsson. Merasa tak nyaman ada pembunuh di tengah mereka, keluarga itu memperlakukan Agnes dengan dingin. Yang mau berusaha memahaminya hanya Asisten Pendeta Thorvardur “Tóti” Jónsson yang ditugaskan untuk mempersiapkan Agnes menjemput maut.

Sejak kecil, Agnes hidup dari belas kasihan orang lain dan bekerja berpindah-pindah sebagai pelayan. Kecerdasannya, cara bicaranya yang dianggap asing, dan pengetahuannya tentang kisah-kisah dari buku, membuat orang-orang menjauhinya; nyaris tak seorang pun tahu seperti apa dia sesungguhnya. Agnes jatuh cinta pada Natan Ketilsson, orang pertama yang melihat dia sebagaimana adanya, dan dia pun pindah ke pertanian Natan di tepi laut, tempat sunyi yang hanya dihuni segelintir orang. Namun impiannya akan kehidupan yang lebih baik musnah. Natan Ketilsson tewas dibunuh, dan Agnes menjadi salah satu tertuduhnya.

Sambil menunggu ajal, Agnes menjalani hidup di tengah keluarga Jónsson, membantu pekerjaan sehari-hari dan meringankan beban mereka. Lambat laun sikap keluarga Jónsson mulai mencair. Mereka ikut mendengarkan ketika Agnes menuturkan kisah hidupnya kepada Tóti.

Hari-hari bergulir tanpa terasa, dan tanggal pelaksanaan hukuman mati semakin dekat...

“Banyak hal di dunia ini dan dunia di alam sana, yang tidak kita mengerti. Tetapi, walaupun tidak mengerti, tidak berarti kita harus merasa takut.”

Kesan pertama yang saya dapat ketika membaca buku ini adalah betapa njelimetnya nama-nama karakter di dalamnya dan bahkan saya tidak terlalu yakin bagaimana pelafalannya secara baik dan benar :D. Selain itu, awalnya saya juga belum terbiasa dengan sudut pandang penceritaan buku ini yang mengambil sudut pandang orang ketiga, juga diselingi sudut pandang orang pertama melalui karakter Agnes.

Tapi kemudian, hampir di pertengahan cerita saya jadi semakin menikmati kisah yang bergulir. Penulis benar-benar pelit membagi sedikit potongan-potongan puzzle yang harus disusun sendiri oleh pembacanya tentang kisah hidup Agnes kecil sampai kejadian yang membuatnya harus menjalani hukuman mati. Dan itu berhasil membuat saya penasaran.

Untuk deskripsi tempat dan suasana di buku ini, menurut saya digambarkan dengan baik oleh sang penulis. Atmosfer suasananya benar-benar terasa. Saya seakan ikut menyaksikan apa yang terjadi pada karakter-karakternya. Tapi justru terkadang deskripsinya yang terlalu panjang itu bikin bosan juga sik x))

Saya belum pernah membaca versi asli bukunya, tapi pada versi terjemahan ini saya suka dengan pilhan katanya yang tak jarang puitis, dan metafora-ish *istilah macam apa ini x))*. Salut untuk yang telah menerjemahkan buku ini dengan baik. 

Dan endingnya, walaupun bisa ditebak tetap membuat saya sedih ketika membacanya. Saya rasa 4 bintang pantas diberikan untuk buku ini :))

“Tidak adil. Orang-orang mengaku mengenalmu dari hal-hal yang telah kaulakukan, dan bukan dengan duduk mendengarkanmu bicara langsung tentang dirimu. Walaupun kau berusaha keras menjalani hidup bersih, kalau kau membuat satu kesalahan di lembah ini, kesalahanmu tidak bakal dilupakan, sampai kapan pun. Walau seandainya kau hanya mencoba melakukan yang terbaik. Walau seandainya dirimu yang paling dalam membisikkan, ‘Aku tidak seperti yang kaukatakan!’—tetap saja, pendapat orang-orang lain tentang dirimu, itulah yang menentukan siapa dirimu.”


RATING 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar