Minggu, 24 Februari 2013

[Book Review] The Five People You Meet In Heaven by Mitch Albom








Judul Buku  : The Five People You Meet In Heaven (Meniti Bianglala)
Pengarang  : Mitch Albom
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  : 2011 (Cetakan kelima)
Tebal : 208 Halaman


“Ini kisah tentang lelaki bernama Eddie dan kisah ini berawal dari akhir, ketika Eddie sekarat di bawah terik matahari. Memang kelihatannya aneh memulai kisah dari akhir. Tapi semua akhir adalah juga permulaan. Hanya saja kita tidak tahu pada saat itu.”


Dalam karyanya yang satu ini, Mitch Albom kembali menyuguhkan tema yang menarik. Tentang lima orang yang ditemui di alam baka. Menceritakan tentang seorang maintenance sebuah raman hiburan yang bernama Eddie. Pekerjaan Eddie adalah merawat wahana-wahana di taman hiburan itu. Eddie meninggal pada hari ulang tahunnya yang ke 83 ketika berusaha menyelamatkan anak kecil dari wahana rusak yang akan menimpanya.

Di alam baka Eddie diharuskan untuk bertemu dengan lima orang yang dikenal maupun tidak dikenalnya. Orang-orang yang sudah mempengaruhi hidupnya. Orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan hidupnya dengan Eddie. Orang-orang inilah yang selama ini menunggu Eddie di alam baka untuk menjelaskan berbagai hal-hal yang selama hidupnya tidak dimengerti Eddie, juga memberikan pelajaran untuk melupakan dan memaafkan.

“Orang tidak mati karena kesetiaan.”
“Tidakkah?” | “Bagaimana dengan agama? Pemerintah? Tidakkah kita semua setia terhadap hal-hal itu, kadang-kadang sampai rela mati?” | “Lebih baik kalau kita setia pada satu sama lain.”

Sudahlah, saya tidak akan berkata banyak-banyak untuk karya Mitch Albom satu ini. Bagi yang sudah mengenal ciri khas tulisan beliau pasti tahu bagaimana apiknya dia dalam merangkai kata-kata dan kalimat-kalimat yang sukses membuat pembacanya terenyuh dan tak jarang terharu. Jadi, yah lagi-lagi Mitch Albom membuat saya speechless.

Tapi di buku ini terdapat sedikit typo ataupun kesalahan tanda baca yang agak mengganggu, so far baru kali ini saya membaca buku terbitan Gramedia yang typonya mengganggu. But, its okay, hal itu bisa dimaafkan. Dan yang pasti buat Mitch Albom, saya tunggu karya-karya anda selanjutnya.


MEMORABLE QUOTES

  •  “Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehisupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin.” – Hal. 52

  • “Kematian? Bukan akhir dari segalanya. Kita mengiranya begitu. Tapi apa yang terjadi di dunia hanya permulaan.” – Hal. 95

  • “Justru di situlah intinya. Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. kau hanya meneruskannya pada orang lain.” – Hal. 97

  • “Aku ingin kau belajar dariku. Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri.” – Hal. 145


RATING 5/5


p.s.: saya kok nggak sreg ya judul Indonesianya jadi Meniti Bianglala. *abaikan*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar