Senin, 04 April 2016

[Blog Tour] Giveaway: A untuk Amanda






Sudah membaca postingan sebelumnya? Apakah kalian menyadari ada kejanggalan dalam tulisan tersebut? Itu disengaja kok. Bukan karena typo. Bukan juga karena saya ketularan Zayn Malik.

Kalau kalian menyadarinya, ada 9 huruf yang beda sendiri. 9 huruf tersebut kalian butuhkan jika mau ikutan giveaway yang berhadiah 1 (satu) eksemplar buku A untuk Amanda.

Silakan baca dengan saksama suratnya, jangan-jangan ada clue penting di sana? *atau mungkin tidak? ;))* kalau masih bingung, ini beberapa clue tambahan dari saya:

  1. Kesembilan huruf tersebut akan membentuk sebuah nama dari seorang penulis young adult favorit saya.
  2. Penulis ini berjenis kelamin laki-laki. Berkacamata.
  3.  Sebagian besar karya-karyanya diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
  4.  Buku-bukunya best seller semua! Lebih dari satu sudah diadaptasi ke layar lebar, dan ada juga yang akan segera difilmkan.
  5. Film adaptasi dari bukunya yang paling fenomenal dibintangi oleh aktris dan aktor berinisial SW dan AE.
  6.  Clue terakhir deh: DFTBA!

Gampang kan? ;)) 

Nah syarat dan ketentuan giveaway ini sebagai berikut:

  • Warga negara Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia *kali aja ada mas-mas dari Timbuktu yang nyasar ke blog ini x))*
  • Share artikel giveaway ini ke akun twitter kamu dengan tagar #AuntukAmanda. Kalau kepanjangan boleh mention saya saja, tak perlu tiga-tiganya.
  • Yang paling penting, jangan lupa untuk mengisi Google Form di bawah ini. Isinya satu kali saja. Semuanya wajib diisi. Peserta yang mengisi lebih dari satu kali akan didiskualifikasi.
  • Jawaban kalian saya terima paling lambat tanggal 10 April 2016. Pengumuman pemenang akan saya umumkan secepatnya setelah giveaway ditutup.
  • Dari jawaban yang masuk, dan yang benar, satu orang akan beruntung dianterin A untuk Amanda ke rumahnya langsung. *oleh mas kurir ya, bukan oleh saya x))*

Semoga beruntung ^^


[Blog Tour] Dear, Annisa Ihsani






Halo Mbak Annisa Ihsani, di mana pun anda berada.

Maaf sekali kalau saya lancang dan dengan sok akrabnya menulis tulisan-semacam-surat-terbuka ini. Tenang, tulisan ini tidak akan panjang kok, juga tidak akan berisi kontroversi, protes-protes, hujatan-hujatan, atau pun masalah-masalah politik. Surat ini saya tulis murni sebagai seorang pembaca yang baru saja selesai membaca karya terbarumu. Ada banyak yang ingin saya sampaikan terkait buku tersebut.

Sebelum membaca karya terbarumu ini (yang selanjutnya akan saya sebut A untuk Amanda), saya sudah pernah membaca teenlit anda yang berjudul Teka-Teki Terakhir. Saya masih ingat betapa takjubnya saya, bahwa ada sebuah buku dengan segmen remaJa yang membuat saya betah membacanya meski buku tersebut bercerita tentang asyiknya Matematika, salah satu pelajaran yang dulu kurang saya sukai di sekolah. Ketika memulai membaca A untuk Amanda, saya pun kembali dibuat takjub. Di teNgah gempuran buku-buku remaja bertemakan romansa, anda malah mengusung tema depresi. Bravo!

Saya tak tahu denGan pasti jumlah spesifiknya, tapi saya yakin masih sedikit sekali penulis Indonesia yang berani menjamah Hal-hal berbau psikologi pada tulisan mereka, apalagi untuk buku segmen remaja. Satu yang sudah saya baca (dan juga saya suka (banget!)) adalah Minoel karya Ken Terate. 

Dan omong-omong soal Ken Terate, jangan tersinggung kalau saya bilang kalian berdua penulis yang mirip ya, Mbak Nisa. Maksud saya mirip dari segi keberanian kalian dalam memilih tema besar tulisan kalian. Dalam teknik bErcerita atau kepenulisan, kalian berdua punya ke-khas-an masing-masing. Mbak Ken Terate dengan gaya bercerita kocak dan selipan jokes-nya sekalipun premis ceritanya berat dan bikin depresi. Dan anda dengan gaya bahasa ala terjemahan (yang enak sekali dibaca, by the way) dan selipan jokes sarkas. 

Kalau boleh cuRhat sedikit, saya selalu kagum dengan penulis-penulis yang mampu membangun karakter dari tokoh rekaannya bukan dengan bercerita si ini ganteng, baik, bla bla bla, tapi dengan benar-benar menunjukkan seperti apa karakter mereka. Kalau istilahnya (kata orang sih), show, not just tell. Dan anda salah satunya. Anda berhasil melakukan itu. Misalnya, tokoh Amanda. Saya tahu bahwa Amanda pintar (genius malah) lewat dialog yang anda tulis. Percakapan-percakapan ilmiahnya bersama Tommy, atau teman-teman sesama geniusnya. Termasuk percakapannya dengan Dokter Eli.

Daripada tulisan ini Nantinya akan tambah panjang lebar, terakhir dari saya, saya mau membuat pengakuan dOsa. Di progress membaca A untuk Amanda, saya sudah yakin betul 4 bintang cukup untuk menggambarkan ke-bagus-an buku itu. Tapi... semuanya berubah karena endingnya. Mbak, sErius deh, anda berhasil menciptakan ending keren yang menambah kekerenan bukunya di mata saya, sehingga saya semakin jatuh cinta pada A untuk Amanda. Berkat endingnya yang keren itulah saya tanpa ragu lagi memutuskan kalau A untuk Amanda layak mendapat 5 bintang dari saya. Dan saya pastikan kalau A untuk Amanda adalah buku young adult terbaik karya penulis Indonesia yang pernah saya baca (sejauh ini).

Terima kasih sudah menulis buku sekeren A untuk Amanda. Saya tunggu karya terbarumu, Mbak.

Salam,


Penggemarmu



 Yang ingin ikutan giveaway berhadiah 1 eks. A untuk Amanda, silakan ke sini

Kamis, 24 Maret 2016

[Book Review] Panggilan Sang Monster: Tiga Kisah yang Harus Kaudengarkan, Satu Kisah yang Harus Kauceritakan






Judul: Panggilan Sang Monster (A Monster Calls)
Pengarang: Patrick Ness
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 216 halaman

“Aku tulang punggung yang menyangga pegunungan! Aku air mata yang ditumpahkan sungai! Aku paru-paru yang bernapaskan angin! Aku serigala yang membunuh rusa, elang yang membunuh tikus, laba-laba yang membunuh lalat! Akulah rusa, tikus, dan lalat yang dimakan itu! aku ular dunia yang melahap ekornya! Aku segala sesuatu yang liar dan tak bisa dijinakkan! Sang monster mendekatkan Conor ke matanya. Aku adalah bumi liar ini, dan aku datang untukmu, Conor O’Malley.”

Setiap pukul 00.07 monster itu datang menemui Conor. Monster ini punya sosok yang amat besar dan merupakan jelmaan dari pohon yew di belakang rumah Conor. Anehnya, ketika kali pertama didatangi oleh monster itu Conor tak merasa ketakutan. Karena dia pernah melihat yang lebih buruk dari mimpi-mimpi yang selama ini mengganggunya.

Mimpi-mimpi buruk yang datang semakin sering sejak Mum menjalani pengobatan. Mimpi-mimpi yang selalu diakhiri dengan jeritan Conor, dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya ketika dia terjaga.

Tapi Conor keliru jika meremehkannya. Monster itu membawa hal yang amat liar dan berbahaya: kisah-kisah. Kisah-kisah yang nantinya akan memengaruhi Conor di kehidupannya. Dan setelah monster itu menceritakan tiga kisahnya, dia menuntut Conor untuk menceritakan kisahnya sendiri, yang akan menjadi kisah keempat. Di kisah keempat, sang monster menginginkan kebenaran.

“Tidak melulu ada pihak yang baik. Sama halnya bahwa tidak melulu ada pihak yang jahat. Sebagian besar orang berada di tengah-tengahnya.”

Baper karena baca buku? Sudah biasa. Yang jarang adalah perasaan gloomy yang hinggap saat membaca sebuah buku. Dan buku ini salah satu yang mampu melakukan itu.  Ketika membacanya saya seakan dipaksa masuk ke sebuah dunia yang didominasi warna kelabu, dengan cuaca yang selalu mendung. Dan di sana saya diharuskan berperan menjadi anak laki-laki bernama Conor. 

Menurut saya yang berhasil membuat buku ini memengaruhi sampai segitunya adalah karakterisasi tokoh Conor yang ditulis dengan luar biasa. Berkali-kali saya merasa dibuat kalau Conor adalah saya sendiri. Saya bisa ikut merasakan kesedihannya, ketakutan-ketakutannya, amarahnya, tak kalah penting, saya dibuat mengerti dengan jalan pikirannya, dengan tindakan-tindakan yang dilakukannya.

Dilihat dari judul dan covernya, saya pikir buku ini cuma buku fantasi biasa yang bercerita tentang anak kecil yang diganggu oleh sesosok monster. Saya salah besar. A Monster Calls, atau judul terjemahannya: Panggilan Sang Monster adalah sebuah buku tentang hubungan keluarga, tentang ketakutan-ketakutan di kehidupan nyata, tentang keputusan merelakan, melepaskan.

Pastinya cerita dalam buku ini sedih dan nyesek. Akan memengaruhi mood-mu ketika membacanya. Jantung saya rasanya mau meledak saking nyeseknya. Beberapa kali saya harus menghela napas , istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan membaca.

Eh iya, jangan terkejut ketika melihat harga buku ini dan mengetahui kalau jumlah halamannya hanya 200-an, meski ukurannya agak lebih lebar dari novel pada umumnya. Menurut saya harganya pantas untuk bukunya. Selain karena tetap menggunakan cover asli, di dalam buku ini terdapat ilustrasi-ilustrasi ber-tone dark karya Jim Kay yang akan semakin menambah kesuraman dari cerita di dalamnya.

Satu fakta menarik yang tidak terlalu penting, saya berhasil menulis review ini setelah membaca buku ini dua kali. Dan ketika membaca untuk kedua kalinya-lah saya menemukan fakta bahwa konsep buku ini sangat dipersiapkan dengan matang. 3 kisah yang diceritakan oleh sang monster, awalnya saya menganggap kisah-kisah ini biasa saja. Tapi kemudian saya sadar kalau ketiga kisah ini bukan hanya sekadar pelengkap, apalagi pemanis. 3 kisah ini sangat penting dan berhubungan erat dengan apa yang dialami oleh Conor. Dari ketiga kisah tersebut yang paling saya suka adalah kisah tentang pria tak kasatmata. Efek dari kisah ini cukup mengejutkan sekaligus menyedihkan. 

Saya meyakini dengan pasti kalau review saya ini tidak akan mampu mengungkap semua hal-hal menakjubkan yang akan kamu temui ketika membacanya. Percayalah, buat saya buku ini tidak hanya layak dibaca, tapi sangat layak untuk dimiliki.

“Kau tidak menulis hidupmu dengan kata-kata, ujar sang monster. Kau menulisnya dengan tindakan. Apa yang kaupikirkan tidaklah penting. Satu-satunya yang penting adalah apa yang kaulakukan.”