Rabu, 25 Februari 2015

[Book Review] Warna Hati by Sienta Sasika Novel




Judul: Warna Hati
Pengarang: Sienta Sasika Novel
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 203 halaman

“Mungkin keikhlasan adalah jalan terbaik dibandingkan kehilangan.”

Setiap cinta akan menggoreskan warna sendiri, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi saat kita memilih satu di antara dua hati. Mereka memiliki ruangnya sendiri, memiliki waktunya sendiri, dan memiliki lintasannya sendiri.

Kita pun tidak akan mampu memilah cinta mana yang akan mengembuskan rona-rona kebahagiaan atau justru luka-luka yang akan tergores. Ya, cinta terkadang seperti kembang gula terasa manis, tapi cinta juga terkadang terasa getir.

Dan saat dihadapkan dengan luka, akankah cinta tetap bertahan di tempatnya? Atau berlari menyusuri masa lalu dan kembali pada hati yang dulu tidak ia pilih?

Namun, cinta bukan melulu tentang perasaan yang meluap-luap, cinta juga bicara tentang keyakinan akan benang merah yang telah mengikat.

“Mas tidak mampu menjadi suami yang bertanggung jawab, Mas hanya bisa menjadi laki-laki setia, ah ... tapi setia sudah tidak dibutuhkan lagi ya?”

Sengaja saya tidak membeberkan kisah yang ada di buku ini karena jika saya ceritakan, nanti malah jadi ketahuan kejutan di endingnya :D jika kalian mengira kalau kisahnya tentang cinta, kalian sama sekali tidak salah. Lebih tepatnya lagi, buku ini bercerita tentang pilihan.

Di dalam hidup pasti kita dihadapkan dengan yang namanya pilihan, dan pilihan itu secara langsung nantinya akan memengaruhi kehidupan kita di masa yang akan datang. Seperti tokoh utama di buku ini, Tavita. Melalui Tavita, penulis berhasil menggambarkan bagaimana pilihan yang ia buat itu dapat mengubah hidupnya kelak.

Awalnya ketika saya membaca buku ini, tepatnya di bagian pertama; Jingga. Saya pikir buku ini hampir mirip dengan The Marriage Roller Coaster-nya Nurilla Iryani, bedanya kehidupan pernikahan yang diceritakan bukan berkonflik pada waktu dan perhatian, tapi lebih pada ekonomi rumah tangga. Pendapat saya langsung berubah seketika saya mulai membaca bagian keduanya; Biru. Salut buat penulis yang punya konsep unik buat buku ini. Walaupun ketika memulai bagian keduanya saya agak dibuat bingung sik :D 

Keunggulan lain yang dimiliki di buku ini adalah ceritanya memang realistis sekali, banyak ditemukan di kehidupan nyata. Mulai dari mertua cerewet yang selalu membandingkan menantunya, sepupu yang segalanya pengin dipamerin, dan lain-lain.

Sayangnya, ketika membaca buku ini saya cukup terganggu dengan typo-nya yang bertebaran di sepanjang halaman, cukup banyak yang saya temukan, akan terlalu panjang jika saya tulis satu-persatu di sini. Termasuk kesalahan penggunaan “di” untuk menyatakan tempat atau sebagai kata kerja pasif. Selain itu, kata-kata yang ditulis dengan huruf double-double juga, seperti “PPPPRRRAAAAANNNNKKKKKKKKK”, “Aaaaarrrrggghhhh” cukup bikin risih pas baca.
Overall, bukunya lumayan kok, cukup menghibur. Dan nggak berat-berat amat, jadi cukup mudah bagi saya menyelesaikannya di saat mood baca lagi turun seperti sekarang :( *ujung-ujungnya curcol x))*

“Pilihlah warna mimpimu sendiri, karena ... warna apa pun yang kau pilih, ia akan tetap meninggalkan jejaknya di hidupmu.”

 
RATING 3/5

Jumat, 13 Februari 2015

[Movie Adaptation Review] Love, Rosie







Judul: Love, Rosie
Diadaptasi dari: Where Rainbows End – Cecelia Ahern
Sutradara: Christian Ditter
Genre: Romance, Comedy

“’Good? It was awful. Oh, I feel sick even thinking about it.’
‘About which part?’
‘All of it. It never happened.’”

Rosie (Lily Collins) dan Alex (Sam Claflin) sudah bersahabat sejak kecil. Mereka tahu kalau mereka ditakdirkan untuk bersama-sama. Tapi, tentu saja tidak mudah untuk menyatakan cinta, apalagi target pernyataan tersebut adalah sahabat sendiri. Ketika Rosie berulang tahun yang ke-18, dia mabuk sampai tak sadarkan diri. Esok harinya Rosie yang meminta Alex untuk melupakan semua hal yang terjadi di malam ulang tahunnya itu, Rosie sama sekali tidak ingat kalau salah satu dari hal yang terjadi adalah dia berciuman dengan Alex.

Tanpa mereka sadari, ucapan Rosie yang meminta Alex untuk melupakan apa yang terjadi di malam ulang tahunnya itu akan berujung pada sebuah malam yang tak mereka duga akan terjadi.

Malam ketika segala hal di antara mereka mulai berubah. Malam yang merenggut impian Rosie untuk bersama-sama kuliah di Amerika dengan Alex. Malam ketika rahasia-rahasia mulai timbul antara mereka. Malam yang akan mengubah jalan hidup mereka selamanya.



“I think not telling you was a way to keep the dream alive, you know? So there was at least someone out there who still saw me as Rosie. And not this strange, new person I've become.”

Film ini diangkat dari novel karya penulis P.S. I Love You, Cecelia Ahern yang berjudul Where Rainbows End. Saya sendiri belum membaca bukunya, jadi tidak bisa membandingkan antara versi film dan versi novelnya.

Film ini cukup berhasil menghindari label “klise” mengingat ide ceritanya yang well... memang klise dan usang. Karena bagi saya pribadi yang tidak tahu sama sekali akan seperti apa kisah Rosie dan Alex bergulir, bisa diakui film ini cukup mengejutkan saya ketika menontonnya. Jalan ceritanya tidak bisa ditebak (jalan ceritanya ya, bukan endingnya :D).

Seriously, feel-nya dapet banget, apa yang dirasakan dua karakter utamanya, terutama Rosie, bisa turut dirasakan oleh saya. Dan adegan-adegan kesalahpahaman di sepanjang jalan cerita benar-benar bikin geregetan! Tapi itu tak lantas membuat saya jadi bosan mengikuti “permainan takdir”-nya Rosie dan Alex ini :D



Yang paling keren itu chemistry dua pemeran utamanya. Lili Collins berhasil membangun chemistry yang kuat dengan Sam Claflin, yang jelas lebih kerasa daripada chemistry Lily Collins dengan cowok-yang-saya-lupa-namanya di The Mortal Instruments: City of Bones x)). Tidak terlihat adanya kecanggungan antara mereka, dari tatapan mata mereka berdua saya sudah bisa merasakan kalau Rosie dan Alex memang jatuh cinta satu sama lain.

Buat saya Love, Rosie termasuk film kodemi romantis terbaik yang pernah saya tonton. Film ini paket komplit deh. Cast yang kece, chemistry oke, jokes-nya sukses bikin ngakak, endingnya manis walaupun lumayan drama sik xD, shot-shot-nya cantik nan memanjakan mata, plus soundtrack yang apik dan easy listening

Tidak semenakjubkan dan seberat komedi romantis macam trilogi Before atau Eternal Sunshine on the Spotless Mind, tapi amat sangat menghibur dan menyentuh. Worth to watch.



“’That's what you got me over here for then? Just some fun?’
‘I wanted to see you! For Christ sake, you're my best friend!’
‘Or maybe you needed someone from your old life to point out the truth!’
‘What truth?’
‘You're in a mess, Alex! This whole situation is one big bloody giant mess!’"


RATING 4/5

Selasa, 03 Februari 2015

[Book Review] The Marriage Roller Coaster by Nurilla Iryani






Judul: The Marriage Roller Coaster
Pengarang: Nurilla Iryani
Penerbit: Stiletto Book
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 206 halaman

“Buat apa kita menikah kalau bertemu saja susah begini? Buat apa kita menikah kalau tetap merasa sendirian dan kesepian? Ah ternyata pernikahan jauh sekali dari bayanganku sebelumnya.”

Kehidupan pernikahan itu bagaikan roller coaster. Yes? No? Jungkir balik! Kadang di atas, kadang di bawah. Ada yang menikmati dan tertawa bahagia, ada juga yang tersiksa dan menangis tersedu. Setelah mencobanya, setiap orang punya pilihan masing-masing: ingin terus mencoba atau justru kapok luar biasa.

Bagaimana dengan Audi dan Rafa? Kehidupan urban yang dijalani pasangan ini memberi tantangan lebih pada pernikahan mereka. Bagaimana mencari waktu untuk bersama di tengah kesibukan mereka. Bagaimana mengatur mood setelah semua energi positif hilang di kantor. Bagaimana menahan godaan dari orang yang pernah hadir di masa lalu.

Akankah mereka terus mencoba dan bertahan? Atau justru kapok dan menyerah?

“Mungkin sekarang aku masih cinta sama kamu, tapi bagaimana cintaku bisa bertahan kalau kamu bahkan nggak pernah ada buatku? Kata orang, cinta bisa datang karena terbiasa. Bagiku, cinta bisa hilang karena terbiasa nggak ada.”

Ini merupakan buku terbitan Stiletto pertama yang saya baca :D kisahnya nggak baru-baru amat sih, tentang lika-liku kehidupan pernikahan yang menghadapi berbagai cobaan mulai dari waktu yang tersita perkerjaan, sampai dengan kehadiran orang di masa lalu.

Kerennya, buku ini bisa saya habiskan dalam waktu sehari saja. Waktu yang singkat untuk ukuran saya. Mungkin karena bukunya ringan alias nggak terlalu berat untuk dicerna, yang jelas penulisnya berhasil mendistraksi saya untuk tetap baca buku ini, konflik yang dihadirkan seru dan emosi yang dirasakan karakter Audi nyampe ke saya.

Tapi sayang, ketika sampai di puncak konflik, belum lama udah sampe ending aja nih -_- saya setuju dengan review-review orang yang bilang kalau endingnya buru-buru banget. Kecepetan! Seharusnya bisa dipanjangin sedikit lagi sik, biar kesannya Audi nggak terlalu gegabah mengambil keputusan.

Dan seperti chicklit pada umumnya, buku ini juga punya “bahasa gado-gado” alias ada sedikit-sedikit menggunakan bahasa Inggris. Nggak masalah sik kalo nyambung dengan konteksnya atau nggak keliatan aneh. Tapi saya menemukan ada yang janggal, seperti kalimat yang kurang lebih begini: “Aku bahkan curiga deep down inside aku merindukan meeting dengan Yoga di tempat ini.” Menurut saya janggal kalimatnya, kenapa nggak pake “jauh di dalam lubuk hatiku” atau kalimat bahasa Indonesia yang lain? Nggak terlalu penting sik, cuma sedikit mengganggu saya :D

Yang paling saya sayangkan ya masalah penyelesaian konfliknya yang kecepetan, atau bisa dibilang saya mengharapkan buku ini akan lebih panjang :D jadi, 3 bintang pantas diberikan buat buku ini :))

“Women think their man will change. Wrong! And men think their woman won’t change. Wrong!.”


RATING 3/5

[Book Review] Stolen Songbird by Danielle L. Jensen






Judul: Stolen Songbird (The Malediction Trilogy #1)
Pengarang: Danielle L. Jensen
Penerbit: Fantasious
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 496 halaman

“Mata biru dan rambut merah
Kunci dari gairah.
Suara bak malaikat dan tekad kukuh
Dan penyihir gelap akan bersimpuh.
Kematian mengikat dan ikatan mematahkan
Mentari dan rembulan bersatu demi keselamatan.
Pangeran kegelapan, putri terang,
Ikatan membawa ajal penyihir menjelang.
Tarikan napas pertama mereka,
Kala pertama sang penyihir terjerumus nestapa.
Persatukan dua nama dalam syair
Dan kutukan pun akan berakhir.”

Itulah bunyi ramalan yang dipercaya bisa menjadi kunci mematahkan kutukan penyihir yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat troll yang tinggal di Trollus tidak bisa keluar dari Gunung Terlupakan.

Cécile de Troyes punya impian untuk bernyanyi di pangung-panggung megah di Trianon. Tinggal selangkah lagi bagi Cécile untuk mengejar impian, meninggalkan Coshawk’s Hollow ke Trianon ketika dia diculik oleh laki-laki bernama Luc.
Cécile diculik untuk dijual kepada raja troll di Trollus. Dia dianggap memenuhi kriteria untuk mematahkan kutukan di Trollus, dengan cara mempertalikannya dengan pengeran negeri troll tersebut, Tristan.

Tristan yang angkuh dan sangat meremehkan ras manusia membuat Cécile muak, tapi Cécile tidak bisa menolak kala dia dipertalikan dengan Tristan. Pertalian itu tidak membuat kutukan tersebut hilang dalam sekejap. Tapi pihak kerajaan masih optimis kalau Cécile mampu membantu mereka.

Cécile menganggap hidupnya telah hancur, impiannya lenyap. Dia harus hidup sebagai putri sekaligus istri pewaris tahta kerajaan. Namun perlahan Cécile menemukan satu demi satu rahasia Trollus, dan dia sadar jika dia melibatkan diri, dia harus bersiap kehilangan apa yang pernah dimilikinya. Selain itu Cécile juga mulai jatuh hati pada Tristan, tapi bagaimana mungkin Cécile bisa jatuh cinta pada pangeran troll angkuh itu? Bahkan walaupun Tristan sangat tampan, hal itu tidak mengubah fakta bahwa Tristan adalah seorang troll.

“Kecantikan bisa diciptakakan, pengetahuan bisa diperolah, tapi bakat tidak bisa dibeli ataupun diajarkan. Dan kau punya bakat, anakku sayang. Begitu kau berdiri di panggung dan bernyanyi, seluruh dunia akan mencintaimu.”

Sebelumnya terima kasih kepada mbak Nadya, penerjemah buku ini yang sudah memberikan saya buku ini gratis melalui kuis :D saya penasaran sekali dengan buku ini karena banyak review positif yang saya baca, selain itu buku ini juga menjadi salah satu nominasi kategori Best Debut Goodreads Author di Goodreads Choice Awards 2014.

Saya akui menjadikan seorang troll sebagai salah satu karakter utama adalah ide yang unik. Sebelum membaca buku ini bayangan saya tentang troll adalah seperti yang muncul di trilogi The Lord of The Rings, bertubuh besar dengan wajah buruk rupa, atau seperti troll di Frozen yang imut dan pandai bernyanyi. Tidak pernah sebelumnya saya membayangkan kalau troll menyerupai manusia, bahkan ada yang berwajah menawan.

Tapi ketika membaca buku ini, ada beberapa hal yang mengganggu saya. Pertama, saya sudah terlanjur tidak menyukai karakter Cécile sejak adegan dia diculik oleh Luc. Saya tidak bersimpati dengan kejadian buruk yang dialaminya. Begitu juga dengan Tristan, saya juga tidak menyukai karakter Tristan. Mungkin karena sudut pandang yang digunakan buku ini adalah sudut pandang pertama, bergantian antara Cécile dan Tristan dengan porsi Tristan yang sangat sedikit. Bisa jadi disebabkan ketidaksukaan saya pada jalan pikiran mereka yang kemudian membuat saya tidak suka dengan dua karakter sentral buku ini.

Jadi begini, ketika saya membaca buku ini saya juga membaca buku lain yaitu I For You-nya Orizuka. Saya amat sangat yakin kalau Orizuka menggunakan sudut pandang pertama melalui karakter Princessa atau Surya, saya pasti akan benci dengan kedua karakter tersebut. Apalagi karakter Princessa, dengan sifat “polos”-nya yang ketika bagian awal sudah terkesan menghina Surya dengan sebutan “miskin”. Tapi karena Orizuka menggunakan sudut pandang ketiga, saya malah menemukan kalau karakter Princessa itu polos, justru kepolosannya menjadikan dia lucu dan menggemaskan :D See? Menurut saya, saya akan lebih menyukai Stolen Songbird kalau sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang ketiga.

Kedua, banyak pertanyaan yang muncul ketika saya membaca buku ini. Misalnya “Apa yang membuat Tristan begitu tampan dan bukan berwujud ‘aneh’ mengingat sang raja digambarkan tidak begitu menarik dan sang ratu yang punya wujud ‘aneh’? Dan apa sebenarnya yang menyebabkan ada troll berwujud aneh dan ada yang berwujud sempurna? Apakah gen, keturunan atau takdir?” atau “Bagaimana kekuatan sihir ini didapatkan, dan apa yang menjadi pembeda kemampuan sihir masing-masing?” atau yang tak kalah nggak penting: “Bagaimana troll berkembang biak, apakah sama seperti manusia atau membelah diri?”. Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lainnya. Memang nantinya pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab, tapi secara amat perlahan. Dan ketika saya mendapatkan jawaban tersebut, yang ada saya sudah tidak berminat lagi untuk mengetahuinya -____- Sekali lagi, jika menggunakan sudut pandang ketiga mungkin hal-hal mendasar tersebut dapat dijelaskan di bagian awal, bukannya harus menunggu “momen yang tepat” terlebih dahulu.

Ketiga, buku ini punya potensi sebenarnya. Ide ceritanya sudah menarik, elemen pendukungnya juga. Seperti sihir, ada intrik politiknya dan saya juga “mencium” bau pemberontakan sedari awal. Tapi yang ada saya malah kecewa karena harapan akan adanya pemberontakan atau konspirasi besar yang dilakukan hanyalah harapan kosong belaka. Nyatanya ya, bisa dibilang isi buku ini hampir 90% berisi tentang kelabilan Cécile dan kegalauan Tristan. Atau, kegalauan Cécile dan kelabilan Tristan. Itu membuat saya geregetan dan tidak sabar untuk segera menyelesaikan buku ini.

Terakhir, universe-nya tidak dibangun dengan rapi, kalau menurut saya. Setting Trollus-nya sudah digambarkan dengan baik sik, tapi sampai saya selesai baca buku ini saya tidak mengetahui kapan tepatnya kejadian di buku ini berlangsung, pada zaman apa? Yang jelas bukan zaman batu, karena sudah mengenal tulis-menulis, novel dan wig x)) 

Tapi untungnya buku ini terselamatkan dari 2 bintang karena endingnya. Saya suka endingnya. Saya bahkan agak penasaran dengan kelanjutan kisahnya *damn you Cécile x))*. Selain itu, saya suka dengan judulnya, kavernya juga lumayan walaupun saya lebih suka kaver asli. Dan terjemahannya juga tidak buruk. Karena buku ini saya jadi tahu beberapa kata yang sebelumnya tidak saya tahu, bahkan saya tidak tahu kalau kata “afair” itu ada di dalam KBBI. 

Saya jadi ingin baca buku fantasi terbitan Fantasious yang lain :D ditunggu Game of Thrones-nya yak Fantasious! ;))

“Yang muda yang jatuh cinta, mereka semua bodoh. Troll maupun manusia, sama saja.”


RATING 3/5