Tampilkan postingan dengan label Morgan Matson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Morgan Matson. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2016

[Book Review] Kesempatan Kedua: Cara Terbaik Mengatasi Persoalan Adalah Menghadapinya Bukan Lari Darinya






Judul: Kesempatan Kedua (Second Chance Summer)
Pengarang: Morgan Matson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: November 2016
Tebal: 456 halaman


“Kawan masa kecilmu adalah orang-orang yang harus kaupertahankan. Mereka mengenalmu dengan cara yang tidak dapat dilakukan orang lain.”


Pagi ketika keluarganya berencana untuk berangkat liburan musim panas di rumah musim panas milik mereka Taylor melakukan usaha untuk minggat. Seperti yang dilakukan saat lima musim panas lalu setelah kesalahan yang dia perbuat. Minggat memang boleh dibilang menjadi salah satu hobi Taylor jika ada hal yang mengganggunya atau tidak dia sukai. Namun usahanya kali ini gagal karena ketahuan.

Empat musim panas yang lalu, liburan rutin itu dapat dia hindari karena dia dan dua saudaranya memiliki kegiatan lain di musim panas. Namun musim panas kali ini lain, inilah satu-satunya kesempatan keluarganya menghabiskan musim panas dengan anggota yang lengkap. Jadi mau tak mau dia harus ikut serta dalam rencana liburan itu.

Di sana Taylor, selain harus kembali menghadapi rasa bersalah, juga kembali bertemu dengan dua orang dari masa lalunya: mantan sahabatnya, dan mantan pacar yang juga cinta pertamanya. Kata orang, semua orang layak mendapatkan kesempatan kedua, apakah Taylor termasuk orang yang layak untuk mendapatkannya?

“Kalau kami di rumah, Dad akan bekerja, dan kami bertiga sudah pasti akan melakukan berbagai aktivitas. Dan terlepas dari kejadian yang membawa kami ke sini, untuk sesaat mau tak mau aku gembira karena kami berbagi saat ini bersama, sebagai keluarga, akhirnya.”

Satu lagi buku terbitan baru yang saya baca dengan SCOOP Premium dan berhasil saya selesaikan. Buku ini merupakan buku pertama dari penulisnya yang saya baca, sebenarnya dari dulu ingin membaca buku lain karyanya yang sudah lebih dulu terbit terjemahannya: Amy & Roger’s Epic Detour, tapi sampai sekarang keinginan tersebut masih hanya sebatas keinginan.

Buku ini dibuka dengan narasi Taylor yang menjelaskan rencananya untuk minggat dengan alasan dia tidak mau ikut liburan ke rumah musim panas milik keluarganya. Dan dari sini saya mulai dibuat penasaran kenapa Taylor sampai sangat ingin menghindari rencana itu. Kesalahan apa yang diperbuatnya dulu? 

Butuh kesabaran untuk akhirnya tahu alasan tersebut karena penulisnya menceritakan kejadian di lima musim panas lalu secara langsung, dengan alur mundur. Terus, tanpa bermaksud meremehkan, saya merasa kecewa ketika mengetahui alasan penyebab rusaknya hubungan Taylor dengan dua orang penting yang dikenalnya sejak kecil itu yang ternyata “cuma gitu doang”. Serius lho, saya awalnya berspekulasi kalau alasannya sangat buruk sampai menyebabkan seseorang meninggal.

Selain tentang berdamai dengan kesalahan yang pernah diperbuat dan berusaha untuk tidak menghindarinya, ada konflik besar lainnya: penyakit yang diderita ayah Taylor. Dibanding kegalauan Taylor dihadapkan lagi dengan kesalahan yang pernah diperbuatnya, saya lebih suka konflik tentang penyakit ayahnya ini. Lebih menyentuh, lebih bikin baper.

Bagian awal hingga pertengahan cukup menarik sampai rasa penasaran saya terpuaskan, setelahnya alurnya yang lambat, agak membuat bosan. Untung endingnya yang kampret itu nggak mengecewakan. Saya ulangi sekali lagi deh biar dramatis, endingnya kampret. Kampret karena bikin saya menitikkan air mata di tengah malam -_-

Jika boleh sedikit berkomentar, terjemahannya di beberapa bagian terasa kaku dan nggak sesuai. Seperti truth or dare yang diterjemahkan menjadi benar atau berani. Menurut saya padanan yang agak mendekati sih: kejujuran atau tantangan. Dan beberapa lainnya yang tidak akan saya sebutkan (karena jujur, saya lupa, dan nggak saya catat xD).

Saya menyukai bagaimana penulisnya mengantarkan apa yang ingin disampaikannya dengan baik dan tanpa mendatangkan kesan sok tahu apalagi menggurui, tentang tidak lari dari masalah, tentang betapa berharganya keluarga, tentang rasa abai pada hal-hal remeh yang dilakukan sebagai keluarga yang tanpa kita sadari ternyata begitu penting. Tentang kesempatan kedua.


“’Kau ingin tahu suatu fakta dalam senam?’ Lucy bertanya, berjalan seirama di sebelahku.
‘Selalu,’ kataku datar, dan ia tersenyum padaku.
‘Intinya, orang mengalami cedera—benar-benar cedera—ketika mereka berusaha bermain aman. Saat itulah orang cedera, ketika mereka mundur pada detik-detik terakhir karena takut. Mereka melukai diri sendiri dan orang lain.’”