Kamis, 12 Januari 2017

[Book Review] Yang Biasa-biasa Saja: Kisah Kehidupan Remaja Biasa di Dunia yang Tak Biasa






Judul: Yang Biasa-biasa Saja (The Rest of Us Just Live Here)
Pengarang: Patrick Ness
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Januari 2017
Tebal: 288 halaman


“Anak-anak indie saat itu, yang mungkin dijuluki hipster atau semacamnya, bertempur dan sebagian dari mereka tewas dan retakan terbentuk di tanah, melenyapkan seantero lingkungan, tapi tentu saja para Dewa dan Dewi akhirnya kalah karena kami semua masih di sini. Mereka dikirim kembali ke tempat asal mereka di mana pun itu, dan dunia, seperti biasa, melanjutkan berlagak itu tak pernah terjadi. Retakan itu dicatat akibat gempa vulkanik, dan sejarah melupakannya.”


Mike Mitchell hanyalah seoarang remaja biasa. Dia tak tergabung dalam kelompok anak-anak indie yang bertempur melawan zombie, hantu pelahap jika atau hal-hal berbahaya (sekaligus keren) lainnya. Yang diinginkannya hanya dapat datang ke acara prom sebelum akhirnya wisuda.

Masalah terbesar dalam kehidupan Mikey selain menghadapi gangguan kecemasan yang dia alami adalah mengumpulkan keberanian untuk mengajak Henna, sahabatnya untuk berkencan. 

Berawal dari kematian seorang anak indie, Mikey bersama kakak perempuannya, Mel, Henna, dan sahabat tiga perempat Yahudi seperempat dewa-nya, Jared menyadari dunia semakin lama semakin terasa tak aman. Apalagi sejak Mikey menyaksikan sekelebat cahaya biru yang menghidupkan seekor rusa mati sebelum rusa itu lari tunggang langgang seakan menghindari cahaya itu. Semenjak itu, semakin banyak anak-anak indie yang meninggal dengan sebab ganjil.

Hal buruk apa yang sebenarnya akan terjadi? Berhasilkah Mikey dan teman-temannya menjalani hidup dengan tenang sampai akhirnya mereka wisuda?


“Perasaan tak mencoba membunuhmu, bahkan yang menyakitkan. Kecemasan adalah perasaan yang berkembang terlalu besar. Perasaan yang tumbuh agresif dan berbahaya. Kau bertanggung jawab terhadap konsekuensinya, kau bertanggung jawab untuk mengobatinya. Tapi Michael, kau tak bertanggung jawab menyebabkannya. Kau tidak bersalah secara moral karenanya. Sama seperti seandainya kau memiliki tumor.”



Saya menuliskan (setidaknya paragraf) ini pukul 00.47 hari Rabu, 11 Januari 2011 tepat setelah saya menyelesaikan buku ini. Saya tak bisa menunggu lebih lama untuk menuliskan beberapa hal mengenai buku ini yang saya ingat sekarang (dan mungkin akan saya tambahkan di hari-hari selanjutnya), karena saya pikir nantinya jika semakin ditunda-tunda, ingatan saya akan bukunya tidak akan sedetail sekarang. Jadi, inilah pendapat saya tentang Yang Biasa-biasa Saja.

Saat memulai membaca buku ini, banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benak seperti: apa premisnya? Siapa anak-anak indie? Di mana dan kapan buku ini mengambil setting? Dan pertanyaan yang paling besar, seperti apa universe yang dibangun penulisnya di buku ini? Kenapa ada elemen-elemen fantasinya tetapi juga tokoh-tokoh di dalamnya dibuat teramat biasa saja? Karena, kamu tak akan menemukan basa-basi pengenalan tokoh, maupun dunia yang ditinggali tokoh-tokohnya. Patrick Ness membuat pembacanya harus mencari tahu sendiri apa yang ingin diketahui.

Jadi, di dalam buku ini diceritakan dua kisah berbeda yang awalnya seolah keduanya berada di dunia berbeda yaitu kisah tentang anak-anak indie yang amat sangat sedikit sebagai sebuah awal dari setiap babnya, dan tentu saja kisah Mikey dan sahabat-sahabatnya.

Buku ini memukau saya dengan semua ke-tak-biasa-an yang dimilikinya. Saya bahkan tak mampu untuk membandingkan buku ini dengan buku Patrick Ness yang pernah saya baca sebelumnya: A Monster Calls, karena keduanya secara kontras amat sangat berbeda. Dan setelah buku ini, saya sangat menantikan terjemahan Trilogi Chaos Walking yang juga akan diterbitkan segera oleh Gramedia Pustaka Utama. Akankah seunik dan seasyik A Monster Calls dan buku ini? ;)

Saya sangat menyukai covernya, terkesan biasa saja dengan pemilihan warna tak mencolok, tapi jika dilihat lebih teliti, gambar detailnya menarik, dan permainan warnanya eye catching tanpa harus menggunakan warna ngejreng.

Menurut saya sih, memang buku ini adalah jenis yang bisa saja sangat kamu sukai atau sangat tidak kamu sukai dengan segala keanehannya. Yang jelas saya sangat suka. Saya suka dengan kekompleksan karakter Mikey, saya suka dengan si keturunan dewa, Jared. Saya suka interaksi antara mereka berdua. Saya suka bagaimana buku ini diawali dengan kebersilangan antara kisah Mikey cs dan anak-anak indie, begitu pula dengan akhirnya, yang juga kedua kisahnya saling bersilangan.

Satu yang saya yakini setelah membaca buku ini, bahwa tak ada kehidupan yang biasa-biasa saja. Oh, koreksi! Bahwa bahkan dalam kehidupan yang biasa-biasa pun akan selalu ada hal yang luar biasa.


“Tidak semua orang harus menjadi Sosok Pilihan. Tidak semua orang harus menjadi sosok yang menyelamatkan dunia. Kebanyakan orang hanya harus menjalani kehidupan mereka sebaik mungkin, melakukan hal-hal yang hebat bagi mereka, memiliki teman yang hebat, berusaha membuat hidup mereka lebih baik, mencintai orang yang semestinya. Pada saat yang sama mereka juga menyadari bahwa dunia ini tak masuk akal tapi tetap saja berusaha mencari jalan untuk bahagia.”


“Segala-galanya selalu berakhir. Tapi segala-galanya juga selalu berawal.”



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar