Minggu, 28 Agustus 2016

Monolog ABOokaddict: Some Books that Featured in TV Series





Di akhir pekan seperti hari ini, apa kegiatan spesial yang kamu rencanakan? Menghabiskan waktu bersama pacar? Atau kamu tipe yang lebih senang menghabiskan sisa akhir pekan di rumah seperti baca buku, menulis, beres-beres rumah, tidur sampai puas, atau sekadar menonton serial televisi favorit?

Pernahkah kamu ketika sedang menonton serial televisi atau drama Korea atau apalah secara tidak sengaja menemukan “cameo” dari buku yang menjadi favoritmu? Saya pernah. Sering malah. Untuk itulah saya ingin membagi beberapa judul buku yang pernah nongol di beberapa serial televisi dan drama Korea yang pernah saya tonton.

Where’d You Go, Bernadette? – Jane the Virgin


Bagi yang pernah menonton serial yang kekocakannya terkesan mengolok-olok kelebayan telenovela ini pasti tahu benar kalau Jane, tokoh utamanya punya passion dalam menulis, dan dia juga sangat mencintai buku. Mungkin ada beberapa buku yang juga pernah nongol di dalam serial ini tapi yang paling saya ingat sih Where’d You Go, Bernadette ini. Oh, sama Pride and Prejudice.


Gone Girl (and many more!!!) – Orange is the New Black

*salah satu adegan favorit yang berhubungan dengan ayam x))* 

Serial ini bisa jadi merupakan serial yang paling banyak menggunakan book references (bahkan di beberapa jokes-nya). Dan bisa dibilang hampir semua tokoh di serial ini baca buku, karena buku bukan benda terlarang di Litchfield Correctional Facility. Errr, kecuali FSOG kali ya? x))


Saya suka tokoh Piper dan Alex, tapi favorit saya adalah tokoh Poussey dan Taystee *duh, jadi sedih kalo inget Poussey :’(*. Mereka sampe ngadain pemakaman simbolis buat buku-buku di perpustakaan Litchfield yang jadi korban pembakaran. Isn’t that cute?


The Maze Runner – Superstore


I love America Ferrera. I love this series! Well, kemunculan bukunya nggak begitu relevan sama ceritanya, tapiiii karena saya suka serial ini, nggak apa-apa deh dimasukin list. Buat manjang-manjangin xP


The Miraculous Journey of Edward Tulane – You Who Came from the Stars



Kemunculan buku yang bercerita tentang kisah Edward Tulane si boneka kelinci porselen ini punya peran yang cukup penting dan amat relevan dengan kisah Do Min Joon (itulah kenapa buku ini jadi buku favoritnya). Kalo cewek-cewek mengagumi Do Min Joon karena pesona ketampanannya, saya malah naksir sama perpustakaannya!!! *Cheon Song Yi boleh deh ambil Do Min Joon, tapi sisain perpustakaannya buatku :”>* *Nggak penting banget ya x)*


Love is: Puuung's Illustration of Love – W

 *duh, Han Hyo Joo... dari tangannya aja udah ketauan kalo orangnya tjantik :">*

W bisa dibilang drama Korea yang sedang ngetop-ngetopnya sekarang. Bukan hanya karena cast-nya, tapi dari segi cerita drama ini menawarkan sesuatu yang segar. Rom-com dicampur thiller dan fantasi. Buku ilustrasi karya Demi Park a.k.a Puuung ini nongolnya di episode 7 dan baidewei edisi Bahasa Indonesianya ada diterbitkan penerbit lokal dan telah masuk ke wishlist saya >.< yakin deh kalo kamu nigkutin drama ini, pasti juga bakalan tertarik sama buku ilustrasi yang unyu ini.


Big Little Lies – Age of Youth


*huruf hangul-nya bikin covernya lebih bagus ya?*


Drama produksi jtbc ini bercerita tentang cewek-cewek kos (yang cantik-cantik >,<) dengan segala permasalahan masa muda mereka. Big Little Lies karya Liane Moriarty ini berperan (agak) penting di episode 10. Bagi yang belum baca, buruan baca deh, sekalian juga baca karya penulisnya yang lain: The Husband’s Secret (saya suka banget buku ini!!!). Sekalian nonton juga dramanya yaa ;))


Ada beberapa yang lain yang pernah saya temukan di judul-judul serial lain, tapi saya lupa xD Buat saya, setiap menemukan satu judul buku di serial televisi seperti buku-buku di atas dapat menimbulkan kesenangan tersendiri. Nggak tahu kenapa.. kalo kamu, apakah kamu pernah menemukan buku favoritmu di serial yang pernah kamu tonton?

Jumat, 19 Agustus 2016

[Book Review] Gadis-Gadis Misterius: Seorang Remaja Kesepian, Sebuah Sekte, dan Sebuah Rencana Berbahaya






Judul: Gadis-Gadis Misterius (The Girls)
Pengarang: Emma Cline
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juli 2016
Tebal: 360 halaman

“Itulah kali pertama aku melihat Suzanne—rambut hitam yang membuatnya berbeda, bahkan dari kejauhan, senyumnya padaku yang terang-terangan dan menilai. Aku tidak bisa menjelaskan pada diri sendiri, ada emosi yang melilitku saat melihatnya. Dia kelihatan seaneh dan semurni bunga-bunga yang mekar dalam ledakan warna mencolok lima tahun sekali, godaan norak dan mengganggu yang nyaris sama dengan keindahan. Dan apa yang dilihat gadis itu saat menatapku?”

Mengambil setting utama tahun 1969, dengan alur maju-mundur, The Girls bercerita tentang Evie Boyd, seorang remaja berumur empat belas tahun. Dia anak semata wayang, ayahnya meninggalkan Evie dan ibunya demi wanita lain. Sejak saat itu ibu Evie semakin abai padanya, sibuk menghamburkan uang warisan nenek Evie dan bersenang-senang dengan laki-laki baru.

Kali pertama melihat sekumpulan gadis-gadis misterius itu, Evie terpesona. Gadis-gadis itu menarik perhatian dengan pakaian lusuh yang mereka kenakan sekaligus aura misterius ketika mereka berjalan melewati Evie. Tapi ada seorang gadis yang amat menarik perhatiannya, belakangan diketahui gadis itu bernama Suzanne.

Lewat ketaksengajaan, Evie suatu hari diajak oleh sekumpulan gadis itu untuk berkunjung ke tempat mereka tinggal. Di peternakan tak terurus itu Evie semakin mengagumi kelompok yang lebih menjurus ke sekte itu. Apalagi ketika Evie bertemu langsung dengan pemimpinnya, Russel.

Di sana Evie merasa diakui, diterima sebagai keluarga. Hal yang selama ini tak dia dapatkan. Ditambah dengan hubungannya yang renggang dengan sahabatnya, Connie akibat kesalah yang tidak sengaja dia perbuat. Evie memutuskan untuk tinggal dengan kelompok tersebut. Dia ingin meninggalkan kehidupan remajanya yang kesepian dan membosankan, menjadi seorang gadis yang punya kehidupan bebas dan tinggal bersama gadis-gadis lainnya.

Evie menyadari bahwa dia punya obsesi tak wajar pada Suzanne, dan itu menjadi alasan terkuat dia memutuskan tetap tinggal. Tapi dia semakin melihat pemujaan yang begitu tinggi Suzanne ke Russel. Dan rencana berbahaya Russel terhadap Mitch, seorang produser musik yang ingkar janji, semakin membuat Evie kembali mempertanyakan keputusannya.

“Kadang-kadang aku bermimpi, lalu aku terbangun pada akhir mimpi dan menganggap suatu bayangan atau fakta itu benar, membawa asumsi itu dari dunia mimpi ke kehidupan nyataku saat terjaga.”

Setelah selesai membaca kisah Evie dan para gadis misterius di buku ini saya buru-buru mencari tahu tentang Manson (Family) Cult, saya penasaran sebab banyak reviewers yang mengaitkan kisah di buku ini dengan “peristiwa tragis” yang dilakukan oleh Manson Cult di tahun 1969 (sama dengan setting di buku ini). Dan kesimpulan saya sehabis membaca beberapa artikel dari hasil pencarian Google? Sepertinya buku ini memang dapat dibilang terinspirasi dari kejadian tersebut. Beberapa detail memang disamarkan namun tetap terasa mirip, kalau kamu anti spoiler dan punya rencana untuk membaca buku ini dalam waktu dekat, sebuah keputusan bijak untuk tidak menjadi tahu dulu tentang Manson Cult.

Membaca buku ini bagai sedang melakukan perjalanan menarik namun melelahkan. Alurnya lambat. Banget. Terutama di bagian ketika Evie mulai menjadi bagian dari gadis-gadisnya Russel. Ini menjadi salah satu faktor utama kenapa butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini. Faktor lain yaitu: ada bagian-bagian yang membuat saya tidak nyaman ketika membacanya, buku ini kurang cocok dibaca oleh remaja, banyak bagian-bagian vulgar yang bahkan saya sendiri pun malu ketika membacanya.

Lalu gaya narasi serta diksinya. Narasi dan diksinya amat unik, rumit, namun memesona. Kerumitannya membutuhkan perhatian dan waktu ekstra untuk dicerna, tapi dis tulah pesonanya. Hal tersebut tak lepas dari peran dari penerjemah buku ini yang telah melakukan tugasnya dengan baik, tanpa terjemahan sebagus ini bisa jadi bukunya akan terasa hambar.  Sedikit saya kutip bagian dari narasi yang saya suka:

“...Itu hanya bagian dari menjadi seorang gadis—kau harus menyesuaikan umpan balik apa pun yang kaudapatkan. Jika marah, berarti kau gila, jika tak bereaksi, berarti kau jalang. Satu-satunya yang bisa kaulakukan adalah tersenyum dari sudut tempat mereka mendesakmu. Melibatkan diri dalam lelucon, bahkan meskipun lelucon itu sellau tertuju kepadamu.” (Hal. 59)

Dan, 

“Saat itu aku membayangkan pernikahan sebagai sesuatu yang sederhana dan didambakan. Ketika seseorang berjanji untuk menyayangi kita, berjanji bahwa mereka akan menyadari jika kita sedih, atau lelah, atau membenci makanan yang terasa bagaikan dinginnya kulkas. Yang berjanji hidup mereka akan berjalan paralel dengan hidup kita. Ibuku pasti tahu tapi tetap tinggal, lalu apa arti cinta jika demikian? Cinta tidak akan pernah aman—seperti refrein lagi sedih yang putus asa: kau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu.
Satu hal yang paling menakutkan: Mustahil untuk langsung mendeteksi sumbernya begitu keadaan berubah. Bagaikan melihat punggung seorang perempuan bergaun rendah tapi disisipi kesadaran akan kehadiran istri di ruangan lain.” (Hal. 85)

Setuju kan kalau saya menggunakan istilah “memesona” untuk menggambarkan narasinya? ;) Dan yang terpenting, bagian terfavorit saya adalah ending-nya. Tepatnya bab terakhir dari Bagian Tiga dan Bagian Empat (yang menjadi penutup). Rasa penasaran saya kembali muncul, saya bahkan tak berani untuk menebak-nebak bagaimana buku ini akan diakhiri.

Untuk diketahui, manuskrip The Girls ini sempat menjadi rebutan untuk dibeli hak terbitnya oleh beberapa penerbit mayor. Bahkan jauh sebelum diterbitkan, The Girls sudah lebih dulu dibeli hak ciptanya untuk diadaptasi ke layar lebar oleh produser terkenal, Scott Rudin (No Country for Old Men, The Truman Show, The Social Network). Tak terlalu mengejutkan sih, premisnya boleh dibilang segar dan jarang dijamah penulis lain. Hmm.. jadi penasaran akan seperti apa film adaptasinya nanti.

“Sasha yang malang. Gadis-gadis malang. Dunia menghujani mereka dengan janji akan cinta. Betapa besar mereka membutuhkannya, dan betapa kecil yang akan didapat sebagian besar dari mereka. Lagu-lagu pop semanis cairan gula, gaun-gaun dalam katalog yang digambarkan dengan kata-kata seperti ‘matahari terbenam’ dan ‘Paris’. Kemudian, mimpi-mimpi mereka direnggut oleh semacam kekuatan kejam; tangan yang membuka paksa kancing-kancing celana jins, tidak ada yang menoleh pada lelaki yang meneriaki pacarnya di bus. Kesedihan memikirkan Sasha mencekik kerongkonganku.”




Kamis, 28 Juli 2016

[Book Review] Kesetiaan Mr. X: Perangkap Sempurna Sang Genius Matematika




Judul: Kesetiaan Mr. X (YƓgisha X No Kenshin)
Pengarang: Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juli 2016
Tebal: 320 halaman

“Mana yang paling sulit: menciptakan soal yang sulit atau memecahkannya?”

Yasuko adalah seorang wanita sederhana yang bekerja di kedai bento. Suatu hari, kedatangan mantan suaminya yang memaksa untuk rujuk kembali berujung ke sebuah peristiwa mengenaskan. Dibantu putrinya Misato, Yasuko tak sengaja membunuh mantan suaminya itu lantaran nyawa mereka sendiri yang terancam akibat membuat mantan suaminya yang bengis itu murka. Yasuko yang kalut bermaksud untuk menyerahkan diri ke polisi, namun dia ragu karena takut putrinya akan ikut terlibat.

Sampai tetangga sebelah apartemennya, Ishigami menawarkan bantuan untuk melenyapkan mayat mantan suaminya itu sekaligus menyembunyikan kejadian itu. Ishigami adalah seorang genius matematika yang mengajar di sebuah SMA. Selama ini dia menyimpan rasa suka pada Yasuko, dengan melibatkan diri pada peristiwa itu dia bertujuan untuk melindungi Yasuko dan putrinya. 

Lalu, mayat itu kemudian ditemukan, kecurigaan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko, tapi alibi yang dimiliki Yasuko tak bisa dibantah, benar-benar sempurna. Dia kemudian berkonsultasi pada seorang profesor fisika yang juga sahabatnya, Yukawa.

Rupanya Ishigami adalah teman Yukawa ketika kuliah dulu. Dia amat mengagumi kegeniusan otak Ishigami. Setelah sempat hilang kontak mereka kembali dipertemukan karena kasus tersebut. Ishigami yang tetap kukuh pada pendiriannya untuk melindungi Yasuko berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa. Maka dimulailah kucing-kucingan antara si genius matematika, dan genius fisika. Bagaimana akhir ceritanya? Berhasilkah Yukawa dan Detektif Kusanagi memecahkan kasus itu? Atau malah mereka terjebak dalam rencana sempurna Ishigawa?

“Memang berat menyembunyikan kebenaran. Ia tak akan memperoleh kebahagiaan sejati jika terus menyembunyikan kebenaran. Ia tak akan bisa hidup tenang karena terus dihantui perasaan bersalah seumur hidupnya. Namun mungkin itu yang harus dijalaninya untuk menebus dosa.”

Yang mampu membuat saya lemah tak berdaya ketika mengunjungi toko buku adalah cover menawan dan sinopsis menarik. Dan buku yang punya judul Bahasa Inggris “The Devotion of Suspect X” ini masuk ke kategori tersebut. Cover dengan warna dasar merah ngejreng yang langsung mencolok, dihiasi dengan gambar Daruma serta selain judul versi Indonesianya juga ada judul asli (Jepang)-nya. Ditambah sinopsis yang mengingatkan saya pada film Bollywood berjudul Drishyam, yang inti ceritanya sama-sama tentang usaha menutupi kasus pembunuhan dengan alibi sempurna.

Saya tidak kenal dengan Keigo Higashino dan sama sekali belum pernah membaca karya beliau. Buku ini pun rupanya adalah buku ketiga dari seri Detective Galileo. Meski ini buku ketiga, saya yang belum baca satu pun seri Detective Galileo tidak merasa seperti sedang membaca buku berseri. Sepertinya memang dibuat stand alone, mungkin yang sama hanya beberapa tokoh di dalamnya. Yang menjadi kendala justru nama-nama tokohnya, mirip-mirip sih, makanya kadang suka lupa identitas si tokoh tertentu.

Dugaan saya sebelumnya juga benar bahwa buku ini bercerita tentang kucing-kucingan melawan pihak berwenang dalam menutupi sebuah kasus pembunuhan. Tapi nyatanya, twist pada menjelang akhir buku mampu mengejutkan saya. Saya mengira kalau inti dari buku ini hanya soal berhasil atau tidaknya usaha Ishigawa, rupanya lebih dari itu.

Rasanya baru kali ini saya membaca buku yang membuat saya mendukung “penjahat”-nya. Dari awal saya sudah dibuat bersimpati dengan Yasuko, malah dengan jahatnya saya beranggapan kalau mantan suaminya itu memang pantas mati ._. Cerita di buku ini lebih ke sedih dan suram sih daripada mendebarkan, yang jelas bikin penasaran tentunya.

Setelah berhasil menyelesaikannya, saya puas dengan terjawabnya semua pertanyaan-pertanyaan tentang cara Ishigami menciptakan alibi. Namun mampu memuaskan dan mengesankan saya tak lantas membuat buku ini sempurna (setidaknya di mata saya). Menurut saya tokoh Yukawa agak kurang meyakinkan. Dia menganalisis kasusnya kebanyakan berdasarkan dari cerita Detektif Kusanagi, memang beberapa kali diceritakan secara sekilas kalau Yukawa juga melakukan sedikit penyelidikan. Dan bisa dimengerti juga karena dia bukan bagian dari pihak kepolisian, bisa dibilang dia hanya sebagai “penasihat”. Ditambah buku ini diceritakan dengan fokus terpecah hampir ke semua tokoh-tokohnya, jadi mau tak mau porsinya dibagi-bagi. Padahal saya penasaran dengan isi kepala Yukawa, cukup disayangkan.

Ah iya, buku ini ternyata sudah diadaptasi ke layar lebar di tahun 2008, dan seri Detective Galileo sendiri ada adaptasi doramanya juga. Bahkan sineas Korea Selatan juga pernah membuat film adaptasinya yang tayang di tahun 2012 dengan judul Perfect Number. Jadi penasaran dengan kedua versi adaptasinya ini.

 Poster film adaptasinya: Suspect X

Yang ini versi Korea-nya. Yang maen Lee Yo Won ternyata! *o*

Sedikit meralat statement saya di atas, cover buku ini, atau lebih tepatnya gambar Daruma yang terdapat di cover buku ini ternyata bukan hanya sebagai hiasan semata, ada hubungannya dengan isi buku ini. Judulnya juga, sangat menggambarkan isinya. Saya lebih suka versi Bahasa Indonesianya, “Kesetiaan Mr. X” dibanding “The Devotion of Suspect X”, lebih makes sense.

“’Aku penasaran,’ kata Ishigami. ‘Apa kau masih ingat pertanyaanmu tentang mana yang paling sulit: membuat soal yang sulit dipecahkan orang lain atau memecahkan soal itu sendiri.’
‘Tentu ingat. Aku memilih jawaban pertama. Jelas si penjawab harus menaruh rasa hormat pada pembuatnya.’”