Selasa, 10 Mei 2016

[Artikel] Pengalaman Belanja e-book di SCOOP




Jika kalian ngikutin blog ini, pasti tau kalo saya agak malas beli buku online, kecuali ada penawaran spesial, atau sedang ada rezeki berlebih. Masalahnya ada pada ongkir. Sifat saya yang perhitungan kadang tidak mengizinkan untuk membayar ongkir yang bisa bernilai satu buku itu.

Jadi, kemarin saya kebelet banget kepingin baca buku yang lagi nge-hits sekarang: Tidak Ada New York Hari Ini. Atas dasar berbagai pertimbangan, jadilah saya memutuskan untuk beli e-book saja di SCOOP.

 *waah, Tidak Ada New York Hari Ini jadi no. 1 di kategori "Popular"! Padahal pas saya baru beli beberapa waktu lalu posisinya masih jauh di bawah*

Selain buku, tersedia juga majalah dan koran yang bisa dibeli eceran maupun secara berlangganan. Ternyata selain aplikasinya sendiri mudah digunakan, proses purchase e-book di SCOOP juga termasuk mudah. Ada berbagai macam pilihan pembayaran.


 *FYI, Kerumunan Terakhir cuma buat contoh yaa. Saya belum punya bukunya, in case ada yang mau ngasih #kodebanget x))*

Karena saya nggak punya kartu kredit, dan saldo atm sedang kosong *nggak penting banget buat diomongin*, alternatif pembayaran yang saya pilih adalah Google Play, karena eh karena pembayaran lewat Google Play bisa melalui pulsa bagi provider yang mendukung. Setelah proses selesai, langsung deh bukunya terunduh sendiri dan otomatis masuk ke library kamu. 

 *tampilan library-nya. Baru berisi dua buku xD*

Buat yang takut kalau nanti tiba-tiba aplikasinya ter-uninstall, atau mau ganti hape. Tenang saja, buku yang kamu purchase tetap tersimpan di akun kamu. Asal kamu ingat ID dan password-nya, nggak bakal ilang kok :)

Sejauh yang saya rasakan, aplikasinya nggak berat-beratin hape, nggak nge-lag atau tiba-tiba keluar sendiri juga. Untuk reader-nya, saya cukup nyaman bacanya. Ada fitur bookmark, mengganti tampilan kalau baca di malam hari atau minim cahaya (nggak tahu nama fiturnya apaan x)), bisa lompat ke halaman tertentu juga. Terus untuk yang layar hapenya kecil, halaman bukunya bisa di-zoom sesuai selera. Sayangnya fitur yang menurut saya kurang (mungkin ke depan bisa ditambahkan) adalah highlight (untuk menandai kata/kalimat dengan efek kayak distabilo) dan search (untuk mencari kata/kalimat tertentu yang diketikkan).

*tampilan reader-nya* 

 *setelah di-zoom*

Bicara mengenai koleksi buku, bisa dibilang Scoop ini cukup lengkap terutama untuk buku-buku terbitan Gramedia Pustaka Utama. Harganya juga bersahabat. Harga aslinya lebih murah bahkan dari harga buku cetak di toko buku online, ditambah setiap buku Indonesia didiskon 20%. Yang masih ragu, buku-buku yang dijual legal, lho. Bisa lebih murah karena tidak membutuhkan kertas. Karena setahu saya kertas yang digunakan juga berpengaruh dengan harga buku.

Kalau ada yang bertanya-tanya apa maksud SCOOP Point di gambar metode pembayaran di atas, SCOOP Point bisa dikumpulkan, dan kalau jumlahnya sudah cukup bisa dipakai untuk membeli buku yang diinginkan. SCOOP Point saya sekarang masih 146 sih. Selain purchase, cara menambah SCOOP Point adalah dengan share referral code milik kamu.

Saya jelasin lebih lanjut deh. Referral code punya saya: ARIANSY740. Nah misalnya kamu download aplikasi SCOOP dan mau bikin akun baru. Nanti ketika mau register, ada pilihan seperti gambar di bawah ini



*pilih "Got Referral Code?"*


 *akan keluar kolom baru untuk memasukkan code-nya :)*


Tinggal masukkan kode ARIANSY740. Nanti setelah ID kamu jadi, terus tinggal verifikasi akun kamu melalui e-mail yang dikirim. Langsung deh kamu dapat SCOOP Point sebesar 50. Saya juga akan dapat 50 kalau kamu memasukkan referral code punya saya. Selain itu ketika kamu verifikasi akun kamu, SCOOP Point akan bertambah lagi 100. Sudah paham? ;)

Semoga setelah baca artikel ini kamu tertarik buat nyoba aplikasinya yaa. Dan kalo mau register, jangan lupa masukkan referral code saya, ARIANSY740. Lumayan deh, kalo banyak yang make code-nya siapa tau saya bisa beli e-book inceran dengan gratis. Hahaha.

Rabu, 04 Mei 2016

[Book Review] Tidak Ada New York Hari Ini: Kerinduan Cinta Beratus Purnama





Judul: Tidak Ada New York Hari Ini
Pengarang: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 120 halaman

“...
Meriang. Meriang. Aku Meriang.
Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.
...” – Tidak Ada New York Hari Ini


Dunia perbukuan heboh bersamaan dengan meledaknya Ada Apa Dengan Cinta? 2. Tidak Ada New York Hari Ini laris manis di pasaran. Baik itu oleh mereka yang memang penggemar tulisan Aan Mansyur, efek habis menonton filmnya, atau sekadar penasaran dengan hype. Saya pun ikut tertarik sejak linimasa Twitter dan Instagram bertebaran tentang buku ini.

Saya punya hubungan yang cukup unik dengan buku puisi. Kalian nyadar nggak kalau urusan perbukuan ini agak mirip dengan urusan busana? Ada buku yang genrenya memang zona nyamanmu (kalau dalam busana bisa dianalogikan seperti kaos bulukan, sendal jepit, daster). Ada pula jenis buku yang ketertarikanmu terhadapnya hanya karena banyak orang yang bilang buku tersebut keren. Dan kadar kekerenanmu meningkat jika kamu juga membacanya. Sama seperti skinny jeans, jogger pants, high heels, atau gincu merah merona, atau apalah yang sedang menjadi tren, kalau mereka ternyata cocok buatmu dan kamu nggak terlalu risih memakainya, itu bagus. Tapi kalau ternyata malah membuatmu semakin nggak nyaman. Tak mengapa kok, tingkat kekerenan tidak berpengaruh dengan kadar kebahagiaan. Nah, buat saya, buku puisi termasuk ke kategori yang terakhir. Ribet ya penjelasan saya? Semoga ngerti garis besarnya deh. Hahaha. Seorang teman (yang penggemar puisi) bahkan pernah menertawakan saya ketika saya bilang kalau niat saya beli dan baca Hujan Bulan Juni adalah untuk pamer di medsos. *maafkan saya Pak Sapardi x(*


“Di bawah langit yang sama, ada dua dunia berbeda.
Jarak yang membentang di antaranya menciptakan
bahasa baru untuk kita. Tiap kata yang kau ucapkan
selalu berarti kapan. Tiap kata yang aku kecupkan
melulu berarti akan.” – Bahasa Baru


Suatu hari saya chat teman saya tersebut, buat modusin kali aja dia udah punya buku ini, dan saya mau pinjem. Ternyata dia belum punya, dan chat tersebut diakhiri dengan “dasar kekinian!” dan saya balas dengan emot ‘ROTFL’. Tapi saya nggak kehilangan akal, ada alternatif lain buat punya buku ini dengan cepat, lebih murah (dan legal tentunya): beli e-book! 

Itulah sedikit cerita pendukung(?) di balik buku ini. Mari mulai membahas isinya. Jadi, buku ini berisi puisi-puisi (ya iyalah!), dan foto-foto artisitik. Konsep puisinya sendiri seolah-olah itu adalah curahan hati Rangga. Puisi-puisi yang ditulis dengan tidak sengaja ketika sedang memikirkan “dia” lalu mendadak kalimat puitis tebersit di benak. Puisi-puisi kerinduannya pada “dia”.

Semua puisinya memang punya tema yang mirip, keresahan, kerinduan, kegundahan, kegalauan. Bahasanya nggak berat, nggak butuh bolak-balik buka KBBI, tapi berasa deep-deep gimanaaaa gitu. Seolah segala hal yang diungkapkan oleh penulis puisi-puisi tersebut saya rasakan sendiri. 


“...
Sepasang matamu, bencana raksasa di kejauhan.
Tidak berhenti membuat hidupku jadi benda
kecil yang memiliki hati.” – Sepasang Matamu



Foto-fotonya juga nggak kalah menakjubkan. Puisi dan fotonya bisa dinikmati tersendiri. Tapi yang paling saya suka justru tata letaknya. Kelihatan acak tapi pas dan enak dilihat. Tanpa tata letak sekeren itu, saya yakin puisi dan fotonya akan berasa kurang spesial.

Buku ini jelas nge-hype banget. Baru resmi terbit saja sudah dicetak ulang. Dan kadang ini bisa jadi bumerang sendiri. Tapi percayalah selamanya kita akan terus bersama, melewati segalanya.. #eh #abaikan, this book worth the hype kok. Saya sudah pasang ekspektasi tinggi dan hasilnya saya puas. Sepanjang baca buku ini tuh bawaannya nggak pengin ngapa-ngapain. Pas selesai, cuma bisa menghela napas panjang. Aku meriang! Ini kali pertama sebuah buku puisi bisa bikin saya puas kayak abis baca novel bagus.


“...
Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi.” – Batas
 


Setiap puisi dan foto di buku ini kayak hidup, punya nyawa. Dan, selalu ada, apa ya istilah yang tepat? Errr, kayak, ada setidaknya satu bait yang jadi “gong”-nya di setiap puisi. Bahkan meski itu puisi yang terakhir saya favoritkan. Dan, saya sendiri belum nonton filmnya. Menurut saya buku ini bisa dinikmati secara utuh sebagai buku puisi tok, juga bisa dibaca sebagai pelengkap sehabis menonton filmnya. Dua-duanya sama mengasyikkannya *sotoy* *padahal belum nonton filmnya*.

Untuk itu, rasanya 5 bintang nggak berlebihan saya berikan buat buku ini, buku puisi pertama yang bisa bikin saya puas, dan nggak menyesali apa yang telah saya korbankan untuk bisa membacanya. Malah, setelah ini rasanya saya tetap ingin membeli versi cetaknya, layak dikoleksi. Suwer!


“Hari-hari membakar habis diriku.
Setiap kali aku ingin mengumpulkan
tumpukan abuku sendiri, jari-jariku
berubah jadi badai angin

Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan—“ – Cinta 






Senin, 02 Mei 2016

[Blog Tour] Pengumuman Pemenang Giveaway Starlight






Salah satu hal yang sulit tapi menyenangkan sebagai host blog tour itu adalah pas milih pemenang. Bingung euy, jawabannya bagus-bagus semua. Hasil rekap seluruh jawaban yang masuk, rata-rata peserta banyak yang suka mata pelajaran Matematika sama IPA (Fisika, Biologi, Kimia). Beberapa ada yang menyukai Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, sampai Bahasa Mandarin! Ada juga yang suka pelajaran Tata Boga. Hahaha. Kalau di sekolah saya dulu sih adanya Muatan Lokal. Kerjaannya kalo nggak menanam bunga (termasuk bebersih selokan), ya bikin kerajinan gitu x))

Kalo saya sendiri sih nggak ada pelajaran spesifik yang saya suka. Saya suka pelajaran yang pas gurunya nggak masuk. Huahahaha. Tapi ini langka banget. Soalnya Kepala Sekolah pas jaman SMA rajin masuk ke kelas-kelas yang nggak ada gurunya xD Belajarnya pun macam-macam, kadang Bahasa Inggris, kadang Agama. Sama yang nyantai pas pelajaran Penjaskes. Gurunya sering nyuruh lari keliling sekitar sekolah sih, alih-alih lari, kadang rame-rame kami malah mampir ke warnet samping sekolah. Tapi nggak enaknya Penjaskes pas praktik ngambil nilai. Tubuh saya nggak atletik, jadilah nilainya pas-pasan.

Saya juga setuju dengan jawaban yang bilang kalau kesukaan pada sebuah mata pelajaran itu tergantung gurunya juga. Gimana metodenya mengajar. Jadi kepanjangan ya? Hehehe. Maklum, baca jawaban-jawaban pesertanya saya (lagi-lagi) jadi inget keseruan pas SMA. Daripada semakin berlama-lama, pemenang yang berhak mendapatkan Starlight adalah...

Nisa Rahmah (@niesya_bilqis)

Selamaaat! Menurut saya jawabannya yang paling juara di antara jawaban bagus lainnya. Yang paling saya suka dari jawabannya, ternyata saking sukanya sama Fisika, Nisa sekarang berprofesi sebagai seorang guru Fisika. Sukses buat misi mengubah mindset orang-orang tentang Fisika yaa Bu Guru :))

Dengan ini, tugas saya sudah selesai. Namun, rangkaian blog tour-nya masih akan berlanjut ke dua blog lagi. Sekarang sedang berlangsung di blog-nya Anastasia Cynthia. Yang belum beruntung bisa ikutan lagi di sana.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih buat kalian yang sudah ikut meramaikan giveaway ini. Terima kasih juga buat Mbak Dya Ragil atas kepercayaannya, juga buat Utha atas tawarannya. Semoga nggak kapok kerjasama bareng saya xP

Sudah dulu ya, mau nonton Game of Thrones nih xD Sampai jumpa lagi!

Minggu, 01 Mei 2016

[Book Review] Titian kejahatan: Sepotong Tungkai Kanan untuk Robin Tersayang




Postingan terkait:





Judul: Titian Kejahatan (Career of Evil)
Pengarang: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 552 halaman

“Dia dikirimi tungkai manusia. Tadi dengan kalemnya dia membawa sepotong tungkai naik ke kantor, tungkai seorang wanita di dalam kotak kardus. Tungkai siapakah itu? Di mana sisa tubuhnya berada?”

Kasus yang dihadapi oleh Strike dan Robin kali ini lebih rumit dari kasus-kasus sebelumnya. Robin yang sedang menunggu paket suvenir untuk acara pernikahannya amat shock ketika mendapati bahwa paket yang diterimanya, alih-alih berisi kamera sekali-pakai, justru berisi sepotong tungkai kanan manusia.

Strike mencurigai tiga orang dari masa lalunya yang mampu melakukan perbuatan keji tersebut. Orang yang membuatnya merasa bersalah, orang yang membuatnya sangat marah hanya dengan memikirkannya, dan orang yang dia bicarakan dengan semacam objektivitas.

Strike yang dongkol karena menurutnya lagi-lagi pihak kepolisian mengejar orang yang salah, diam-diam dengan dibantu Robin melacak keberadaan tiga orang yang dicurigainya tersebut. Sementara itu, hubungan Strike dan Robin semakin dekat. Mereka berdua menjadi lebih terbuka satu sama lain lantaran mau tak mau kasus ini mengharuskan Strike membuka diri pada Robin. Begitu pun sebaliknya, Strike mulai mengetahui segelintir dari masa lalu Robin.

“’Semoga dengan begitu ada informasi masuk,’ kata Strike.’“Pasti ada orang yang menyadari mereka kehilangan sebelah kaki.’
‘Ha ha,’ ucap Robin.
‘Belum lucu?’
‘Belum,’ timpal Robin dingin.”

Career of Evil, atau judul terjemahannya, Titian Kejahatan, menurut saya adalah buku yang spesial. Ada beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan dua seri pendahulunya. Dia antaranya:

Lebih Mahal
Hahaha, penting banget sampe dibahas di awal x)). Memang saya akui harga untuk buku ketiga serial Cormoran Strike ini jauh lebih mahal. Untung sebelumnya sudah diumumkan harganya terlebih dahulu sebelum bukunya terbit. Jadi saya bisa bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang, menggembok dompet, memutuskan untuk berhemat. Bahkan saya sudah berjanji ke diri saya sendiri untuk tidak membeli buku apa pun sebelum saya berhasil membeli buku ini. Meski berkali-kali tergoda dengan Sepotong Senja untuk Pacarku dan pasangan unyu di cover Just One Day dan Just One Year, godaan itu berhasil saya lewati. Kembali lagi ke harga menurut saya sih walaupun mahal, sebanding dengan apa yang didapatkan dari bukunya. Salah satunya yang akan saya bahas selanjutnya.

Lebih Elegan
Maksud saya tampilan fisiknya. Ya, dari segi desain cover, kedua buku sebelumnya bagus, tapi cover Career of Evil menurut saya jauh lebih bagus. Bentuk fisik cover pun dibuat lebih menarik dengan cetak timbul tak hanya di depan, tapi juga untuk judul dan nama penulis di bagian sisinya. Pokoknya menarik dan cantik sekali bentuk fisiknya.

Lebih Brutal
Jika kalian menganggap isi perut terburai dalam buku kedua, Ulat Sutra sudah sadis, tunggu sampai kalian membaca Titian Kejahatan. Banyak sekali bertebaran narasi-narasi yang bakal membuat mual. Dan yang menarik adalah, di sini, selain sudut pandang ketiganya mengikuti Strike dan Robin, ada juga di beberapa bagian, pembaca diajak mengikuti si pelaku (dengan identitas tetap dirahasiakan. Angkat topi deh pokoknya bagaimana penulisnya tetap berhasil menyembunyikan identitas pelaku). Pembaca diajak menyelami pikiran-pikiran si pelaku, ikut menyaksikan aksinya memburu korban-korban. Brutal, sadis, buas, keji, you name it.

“Perempuan memang berpikiran sempit, kejam, kotor, dan remeh. Kebanyakan dari mereka adalah jalang tukang bersungut-sungut, selalu menuntut kaum pria membuat mereka senang. Ketika tergeletak mati dan kosong di depanmu, barulah mereka menjadi murni, misterius, bahkan indah.”

Lebih Menyiksa
Saya pikir Sharp Objects buah karya Gillian Flynn adalah buku yang paling membuat saya mual yang pernah saya baca. Ternyata, buku ini berhasil menggeser posisi Sharp Objects ke peringkat kedua. Percayalah, buku ini sukses membuat saya mual dan kepala saya pening berkepanjangan sampai saya harus beberapa kali membaca buku lain yang lebih ringan sebagai selingan.

Lebih Intim
Karena kasus kali ini berhubungan erat dengan masa lalu Strike, mau tak mau di buku ketiga ini sebagian dari masa lalunya itu mulai terungkap. Begitu juga dengan hbuungannya dan Robin. Saya bisa lebih merasakan chemistry mereka berdua. Entahlah, menurut saya di sini hubungan mereka menjadi lebih hangat dan akrab.
Dan kalau kalian ngikutin seri Cormoran Strike dari buku pertama dan sangat penasaran dengan alasan Robin meninggalkan kuliah, kalian akan menemukan jawabannya di sini. Spoiler alert, hal tersebut menjadi slaah satu hal yang mengejutkan (dan memprihatinkan) di dalam buku ini. nggak nyangka kalau Robin punya masa lalu sekelam itu :(

Lebih Kampret
Di sini yang saya bicarakan adalah ending-nya. Saya sampai misuh-misuh gara-gara ending-nya. Tega banget sik bikin pembaca baper, terus pake digantung pula ;(



Selain elemen-elemen lebihnya, ada juga beberapa hal yang menurut saya masih tetap ada seperti di dua buku sebelumnya.

Kualitas Terjemahan
Saya pastikan bahwa terjemahan seri Cormoran Strike merupakan bagian dari beberapa buku terjemahan terbaik yang pernah saya baca. Malah dalam buku ini semakin terbukti kualitas sang penerjemah sendiri. Dia tahu mana yang bisa diterjemahkan dan mana yang akan kehilangan arti jika maksa untuk diterjemahkan. Makanya ada beberapa kata atau kalimat dalam buku ini yang tetap dibiarkan sebagaimana aslinya (kebanyakan judul dan lirik lagu Blue Öyster Cult). Dua jempol buat terjemahannya. 

Pengulangan
Nah ini nih yang tak kalah penting terutama untuk pembaca yang sering lupa detail seperti saya. Di buku ketiga ini penulisnya kembali mau repot-repot menjabarkan lagi latar belakang dan hubungan karakter dengan Strike atau Robin, yang sebelumnya pernah muncul di dua buku sebelumnya.

Mencengangkan
Saya tidak tahu bagaimana dengan pembaca lain. Yang saya tahu pasti, lagi-lagi saya digiring ke konklusi yang salah mengenai identitas asli si pelaku. Dari buku pertama sampai ketiga ini, tidak pernah sekalipun saya berhasil menebak siapa pelaku sebenarnya. Terutama di buku ini. Petunjuk yang didapat Strike serta clue tambahan yang didapat dari bagian ketika saya diajak menyelami pikiran di pelaku, tetap tidak membantu mencerahkan saya. Malah dibuat semakin bingung lantaran petunjuk-petunjuk tersebut cocok untuk ketiga tersangka. Good job lah.

Titian Kejahatan bisa jadi memang tak sempurna (apalagi endingnya! Nggak sempurna banget! #teamyangtersakitiakibatdigantung), tapi... rating sempurna tetap saya berikan lantaran perasaan kosong yang saya dapat setelah menyelesaikannya.

“Semua orang menyukai Robin. Dia pun menyukai Robin. Bagaimana mungkin dia tidak menyukai Robin, setelah segala sesuatu yang mereka lalui bersama? Namun, sejak semula Strike telah menegaskan kepada diri sendiri: hanya sejauh ini dan tidak lebih jauh lagi. Harus ada jarak yang dijaga. Batas-batas tetap harus ditegakkan.”