Minggu, 11 Oktober 2015

[Book Review] Tempat Gelap by Gillian Flynn






Judul: Tempat Gelap (Dark Places)
Pengarang: Gillian Flynn
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 427 Halaman

“Aku memiliki kekejian di dalam diriku, senyata organ tubuh. Iris perutku, dan kekejian itu mungkin mengalir keluar, menggumpal dan gelap, jatuh ke lantai supaya kau bisa menginjak-injaknya.”

Libby Day menjadi satu-satunya yang selamat dari peristiwa pembantaian di malam naas yang menimpa keluarganya—yang terkenal sebagai “Pengorbanan untuk Setan”. Well, tentu saja selain Ben, kakaknya yang mendekam di penjara karena ditetapkan bersalah sebagai pelaku pembunuhan itu. Dan seorang ayah tak bertanggung jawab yang hanya-Tuhan-yang-tahu-di-mana-dia-berada, Runner Day.

Dua puluh lima tahun setelah kejadian itu, Libby menerima surat dari klub yang menamakan diri mereka Klub Bunuh. Mereka bermaksud untuk menyelidiki kembali kasus tersebut dan membuktikan kalau Ben tidak bersalah. Libby yang awalnya enggan terpaksa menerima tawaran mereka karena klub tersebut menjanjikan jumlah uang cukup besar, kebetulan Libby yang tidak berminat mencari pekerjaan sedang mengalami masalah finansial.

Libby tak akan menyangka kalau keputusannya untuk ikut menyelidiki kembali kasus tersebut akan membawanya pada fakta mengejutkan tentang apa yang sebenarnya terjadi di malam itu.

“Dari dulu orang-orang memang tertarik dengan ibuku. Mereka selalu ingin tahu: Wanita macam apa yang dijagal oleh anak laki-lakinya sendiri.”

Suram, sadis, dan brutal saya rasa cukup menggambarkan isi dari buku ini. Saya sudah menjadi penggemar Gillian Flynn sejak membaca Gone Girl. Makin nge-fans setelah membuktikan “kesakitan” Sharp Objects. Makanya cukup excited ketika tahu terjemahan buku ini akan terbit, mengingat saya pernah mau coba baca versi Bahasa Inggrisnya tapi pada akhirnya nyerah.

Seperti Gone Girl dan Sharp Objects, di dalam buku ini Gillian Flynn kembali bercerita lewat sudut pandang karakter utama wanita ciptaannya yang bisa dipastikan “bermasalah”. Yang cukup beda adalah dengan digunakannya dua sudut pandang penceritaan berbeda setiap pergantian timeline-nya. Ketika timeline penceritaannya mengambil masa sekarang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, yaitu melalui Libby. Sedangkan ketika timeline penceritaannya flashback ke 2 Januari 1985 (yang mana merupakan hari pembantaian keluarga Day), sudut pandangnya menggunakan orang ketiga. Dan tanpa diduga penggunaan dua sudut pandang berbeda ini nyatu banget. Ini memang bukan pertama kalinya saya melihat seorang penulis menggunakan dua sudut pandang berbeda, tapi cara yang digunakan Gillian Flynn ini menurut saya paling jenius yang pernah saya temukan.

Perlu diketahui sebelumnya kalau Dark Places bukan jenis buku yang page-turner. Akan lebih nikmat jika membacanya dengan perlahan-lahan. Bahkan saya sendiri perlu waktu yang cukup lama hingga akhirnya bisa menyelesaikan buku ini. Berkali-kali saya dibuat tidak tahan dengan banyaknya adegan disturbing ditambah deskripsinya yang berhasil menguasai imajinasi saya.

Saya terkadang suka sok tahu tentang konsep ukuran kebagusan dari terjemahan sebuah buku. Kalau yang dimaksud bagus itu adalah yang enak dibaca dan tidak menghilangkan nyawa versi aslinya, berarti terjemahan buku ini bagus. Selain enak dibaca terjemahannya mampu menyampaikan sisi suram, gelap, misterius, sadis, brutal-nya. Namun sayang, jumlah typo di buku ini agak kebangetan, sudah masuk kategori cukup mengganggu.

“Keluarga Day mungkin akan berumur panjang
Andai otak Ben Day tidak mendadak sungsang
Karena mengidamkan kuasa gelap setan bengis
Dibantainya seluruh keluarga dalam satu jam yang sadis

Michelle kecil dicekiknya saat malam
Lalu Debby dibacok: sungguh pemandangan seram
Patty sang ibu dapat giliran belakangan
Kepalanya meledak dalam tembakan senapan

Bayi Libby entah bagaimana selamat
Tapi bertahan hidup setelah semua itu tak bisa dianggap berkat”




Minggu, 20 September 2015

[Book Review] Critical Eleven by Ika Natassa








Judul: Critical Eleven
Pengarang: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: September 2015 (Cetakan keempat)
Tebal: 344 Halaman 

“Travel is a remarkable thing, right? Di pesawat, di bus, di kereta api, berjalan kaki, it somehow brings you to a whole other dimension more than just the physical destination. Di negara yang kita kurang paham bahasanya, travel is learning to communicate with just a smile. It’s where broken English is welcomed with a smile instead of being greeted by a grammar Nazi.”

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

“We were lucky to have each other once, I know, but maybe finally our luck has run out after all.”

Jika beberapa bulan ke belakang dunia perbukuan Indonesia “dijajah” oleh novel terbaru Ilana Tan, In a Blue Moon, belakangan ini ada satu judul novel yang best seller di toko buku-toko buku di Indonesia termasuk yang online. Novel ini berjudul Critical Eleven. Novel yang berasal dari sebuah cerpen berjudul sama yang terdapat di kumpulan cerpen metropop, Autumn Once More.

Tidak berlebihan kalau buku ini diklaim terjual 1.111 copy dalam 11 menit lewat pre-order bulan juli lalu. Sampai sekarang pun masih banyak yang nyari buku ini. Versi yang saya pegang ini saja sudah cetakan keempat, hanya dalam beberapa bulan saja. Luar biasa!

Sebelum membahas lebih jauh bukunya, saya patut memuji orang-orang di balik meledaknya Critical Eleven, terutama penulisnya sendiri. Menurut saya, di balik larisnya sebuah buku, selain faktor bukunya yang bagus, strategi pemasaran dan promosinya juga sangat berperan. Salut deh buat penulis dan penerbitnya yang berhasil memanfaatkan jejaring sosial untuk mempromosikan buku ini sehingga menjadi hits.

Lalu, apa istimewanya Critical Eleven yang membuatnya begitu spesial? Buat saya sendiri ada tiga hal yang membuat saya jatuh cinta pada buku ini.

Pertama, ide besar yang diangkat. Nggak banyak novel bertema pernikahan yang bikin saya betah bacanya, tapi ide besar dari buku ini (yang tidak akan saya kasih tahu apa :p) berhasil bikin saya langsung pengin tahu lebih banyak dengan apa yang terjadi pada Anya dan Ale. Terima kasih kepada Kak Ika Natassa, yang cuma nge-tweet review pembaca yang nggak spoiler di aku twitter-nya. Seriously, kalo kamu punya rencana untuk baca buku ini, hindari baca review orang (yang spoiler) deh. Kayaknya ada yang kurang gitu kalo kamu udah tahu duluan tentang apa Critical Eleven sebenarnya.

Kedua, saya jatuh cinta dengan cara Kak Ika menceritakan kisahnya. Dengan nggak fokus ke satu alur, menyebar informasi-informasi di sepanjang chapters dalam buku ini. Kak Ika Natassa membiarkan pembacanya sendiri merangkai kisah hidup Anya-Ale lewat kepingan-kepingan puzzle yang ditebar. Saya tahu kalau teknik penulisan yang digunakan Kak Ika dalam Critical Eleven ini tidak mudah. Terutama dalam hal memilih kepingan puzzle mana yang cocok dan nyambung untuk ditempatkan di salah satu chapter. Eh iya, di poin ini juga termasuk bagaimana Kak Ika membuat pembaca bisa relate ke dua karakter utamanya, bahkan walaupun mereka sendiri mungkin belum mengalami apa yang dialami oleh mereka. Pembaca dibuat seolah-olah udah kayak kenal secara pribadi dengan Anya dan Ale.

Terakhir, endingnya. Saya suka dengan pemilihan endingnya. Yang lebih penting adalah nggak ada kesan terburu-buru dalam menyelesaikan konfliknya. Semuanya ditulis dengan bertahap, mengalir, smooth.

Seperti yang dibilang orang-orang, Critical Eleven adalah karya terbaik dari Kak Ika Natassa. Saya setuju, walau belum baca semua karyanya. Lewat Critical Eleven saya sudah memutuskan untuk meng-upgrade posisi saya dari yang cuma pengagum, sekarang resmi menjadi penggemar Kak Ika.

MEMORABLE QUOTES:

  • “Mungkin karena itu aku suka bandara. Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination. Semua yang ada di bandara harus punya tujuan dan memang punya tujuan. Bahkan tujuan itu tercantum jelas di secarik kertas. Boarding pass.” –Hal. 6
  • “Toko buku itu bukti nyata bahwa keragaman selera bisa kumpul di bawah satu atap tanpa harus saling mencela.” – Hal. 13
  • “Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.” – Hal. 31
  • “To women, how you deliver the message is sometimes more important than the message itself.” – Hal. 187
  • “Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.” – Hal. 252
  • “Jika ada satu hal yang aku ketahui pasti dari sekian belas tahun hidupku sejak pertama kali mengenal cinta, hati tidak pernah mau disuruh-suruh. Hati punya aturan dan caranya sendiri.” – Hal. 308
  • “Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harusnya kuat hidup untuk dia.” – Hal. 324  





Selasa, 08 September 2015

[Book Review] Kambing & Hujan by Mahfud Ikhwan






Judul: Kambing & Hujan
Pengarang: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 380 Halaman

“Bukankah berusaha mendapatkan istri hebat dan cantik yang kita cintai, yang kita yakini bisa menemani kita dunia akhirat, adalah ibadah? Dulu aku berpendapat begitu. Dan sekarang, setelah puluhan tahun hidup bersama budemu, aku tetap menganggapnya demikian.”

Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia berjumpa kali pertama di bus. Lalu saling jatuh cinta. Usut punya usut, Mif dan Fauzia berasal dari desa yang sama, Centong. Tapi dengan fakta tersebut tak lantas membuat rencana mereka untuk menata masa depan bersama berjalan dengan mulus.

Pada tahun 60-an di Centong muncul gerakan pembaruan. Gerakan ini beranggapan kalau ada beberapa hal tentang Islam yang dipahami dan dianut di desa tersebut selama ini kurang tepat. Karenanya gerakan yang diikuti oleh pemuda-pemuda ini bersemangat untuk membangun masjid mereka sendiri agar bisa menjalankan ibadah sebagaimana yang mereka yakini sekaligus menghindari perselisihan berkepanjangan akibat berbeda paham. Jadilah di Centong terdapat dua masjid yang disebut Masjid Selatan dan Masjid Utara.

Sialnya, kedua orangtua Mif dan Fauzia sama-sama merupakan tokoh yang disegani di masing-masing masjid. Mustahil untuk mereka melewati tembok tinggi tak kasat mata yang telah terbangun sejak lama itu.

Tapi kemudian mereka mengetahui satu hal, tembok tinggi itu bukan masalah utara-selatan yang selama ini mereka yakini, tapi berhubungan dengan rahasia-rahasia masa lalu orangtua mereka. Akar masalahnya justru berawal dari sebuah hubungan baik yang merenggang akibat keadaan.

“Tahu apa kamu tentang kegagalan?”
“Saya cuma tak ingin mengalaminya.”
“Dan, aku, bapakmu, adalah orang yang paling tidak ingin kamu mengalaminya.”

Ketertarikan saya pada buku ini semata-mata karena buku ini merupakan naskah pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2014. Label tersbeut buat saya menjadi jaminan kalau bukunya akan bagus. Saya pikir karena buku ini merupakan pemenang sayembara menulis tersebut, isinya bakal njelimet dan penuh metafora seperti naskah pemenang di tahun 2012, “Semusim, dan Semusim Lagi”, ternyata sama sekali tidak. Malah gaya tutur penulisnya ringan, mudah dicerna, tidak bertele-tele dan apa adanya. Cuma memang tema yang diangkat yang cukup berat; Islam dengan aliran berbeda.

Alurnya acak tapi tidak membuat pusing. Sudut pandang yang digunakan bercampur antara orang ketiga dan orang pertama, tapi mengalir begitu saja tanpa menimbulkan kesan aneh. Gaya narasi ketika sudut pandang pertama, menggunakan “aku” dari dua karakter berbeda, walaupun gaya narasi tersebut senada, tapi masing-masing “aku” mudah dibedakan.

Hal lain yang saya kagumi adalah buku ini diceritakan apa adanya tanpa terlihat pro aliran ini atau itu. Kadang ada beberapa buku yang mengangkat tema pelik lain yang malah isinya judgy dan pro di satu pihak. Dan hal tersebut tidak ditemukan di buku ini, tidak ada kesan memojokkan satu pihak.

Bagian yang saya suka dari buku ini adalah bagian surat-surat Is dan Moek yang menggunakan ejaan lama dan bahasa mendayu-dayu. Saya juga suka bagian ketika Is dan Moek bertemu lagi yang dituliskan hanya lewat percakapan, tanpa narasi. 

Mengutip buku ini “Tidak ada yang salah menjadi berbeda”. Ya, memang tidak ada yang salah dari perbedaan. Berbeda tidak lantas membuat salah satu menjadi salah. Yang paling penting adalah menghargainya. Bukan menghakiminya.


“Anak memang sering tak mau melibatkan ibunya dalam masalahnya. Mungkin karena si anak tak ingin ibunya ikut susah. Mungkin juga karena si anak tak yakin ibunya bisa membantu. Tapi, Mif, Anakku, seorang ibu tak akan bisa membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendirian. Ia selalu ingin ambil bagian. Semampunya. Sebisanya.”

“Dan, apa salahnya berbeda? Tuhan menciptakan makhluk juga berbeda-beda. Manusia juga berbeda-beda; beda rupa, suku, golongan, bahasa. Jadi, tidak ada yang salah menjadi berbeda.”
  

RATING: 5/5