Rabu, 18 September 2013

[Book Review] Refrain by Winna Efendi






Judul: Refrain
Pengarang: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2013(cetakan ketujuh belas)
Tebal: 318 halaman

“Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.”

Haruskah saya menuliskan lagi garis besar ceritanya? Karena saya pikir mungkin kalian sudah tahu kalau buku ini bercerita tentang tema yang sering dipakai: sahabat-jadi-cinta. Baiklah kalau kalian memaksa *siapa juga yang maksa sik?* *selftoyor* akan saya coba menceritakan kembali isinya tanpa spoiler.

Jadi begini ceritanya… *mata menerawang ke atas*

Dua sahabat yang menjadi tokoh utama buku ini bernama Niki dan Nata. Mereka sudah bersahabat sejak kecil karena rumah mereka yang berdekatan. Niki digambarkan sebagai remaja yang manja dan periang. Bergabung dengan tim cheerleaders(yang selama ini mejadi impiannya) di SMA tempat mereka sekolah.

Sebaliknya, Nata digambarkan cuek, jago main gitar, tapi fobia tampil di depan umum. Dan seperti kisah cinta antara sahabat pada umumnya, suatu hari Nata menyadari kalau perasaannya mulai berubah ke Niki.

Sementara Nata masih memendam rasa sukanya pada Niki, sekolah mereka kedatangan murid baru yang berasal dari luar negeri. Murid baru itu bernama Annalise, Annalise merupakan anak dari seorang model Internasional yang juga merupakan idola Niki. Dengan cepat, mereka bertiga menjadi sahabat  tak terpisahkan.

Tentu saja novel yang baik harus punya konflik dong. Nah, konflik di buku ini selain Annalise yang menyukai Nata, juga seorang cowok bernama Oliver yang semakin dekat dengan Niki. Sampai membuat hubungan ketiga sahabat itu renggang.

Bagaimana akhir kisah cinta mereka? baca selengkapnya di Refrain.

“Persahabatan itu nggak memilih. Persahabatan bukan didasari oleh gender, usia, motif, atau apapun itu. Persahabatan yang tulus nggak harus punya alasan.”

Pertama-tama dua jempol patut diberikan untuk buku ini karena telah berkali-kali dicetak ulang. Bahkan buku yang saya baca ini sudah dicetak untuk yang ketujuh belas kalinya! Hebat!

Tidak heran juga sih mengingat buku ini sudah difilmkan sehingga yang belum membaca Refrain berminat untuk memburu bukunya.

Sayang sekali saya baru membaca buku ini sekarang, kalau saya baca ini dari dulu, pasti buku ini bakal jadi salah satu favorit sepanjang masa :D kalo sekarang saya jarang baca teenlit sih, jadinya kurang menikmati bukunya. Umur memang nggak bisa bohong yak xD

Yang sedikit mengganjal adalah: buku ini sudah dicetak belasan kali tapi masih banyak sekali typo yang bertebaran di dalamnya.

Walapun begitu, Refrain tetap buku yang menghibur dan berhasil membuat saya terhanyut dengan kesederhanaan kisahnya.

3 bintang untuk ceritanya, dan tambahan ½ bintang untuk Maudy Ayunda di covernya xD

“Bulan emas tinggal separuh
Bintang-bintang sangat pemalu
Kau terduduk di sampingku
Aku lantas mencintai bayangmu
Kau menoleh untuk tersenyum
Hatiku berserakan... lebur dan lepuh”


RATING 3.5/5

Rabu, 11 September 2013

[Book Review] Unwind (Pemisahan Raga) by Neal Shusterman








Judul: Unwind – Pemisahan Raga (Unwind Dystology #1)
Pengarang: Neal Shusterman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 456 halaman

RUU Kehidupan
Perang Sipil Kedua, yang juga dikenal sebagai
“Perang Heartland,” merupakan suatu konflik berkepanjangan
dan berdarah-darah yang mempertentangkan satu isu.

Untuk mengakhiri perang, serangkaian amandemen
konsitusional yang dikenal sebagai ‘RUU Kehidupan’
disahkan.

RUU ini memuaskan kedua belah pihak, pasukan Pro-
kehidupan dan Pro-pilihan.

RUU Kehidupan menyatakan bahwa kehidupan manusia tak
boleh disentuh sejak masa pembuahan hingga seorang anak
mencapai usia tiga belas tahun.

Namun, antara rentang usia tiga belas dan delapan belas,
orangtua boleh memilih untuk secara retroaktif
‘menggugurkan’ seorang anak…

…dengan syarat hidup anak tersebut tidak ‘secara teknis’
berakhir

Proses seorang anak diterminasi tapi tetap hidup disebut
Unwinding—Pemisahan Raga, dan anak itu disebut Unwind.

Saat ini, Pemisahan Raga merupakan hal yang lumrah dan
diterima dalam masyarakat.

Connor, anak yang selalu menimbulkan masalah, secara tidak sengaja mengetahui kalau orangtuanya telah menandatangani surat perintah untuk memisahkan raganya. Dugaan Connor bahwa kedua orangtuanya tidak tahan lagi dengan tingkah laku Connor sehingga bermaksud untuk memisahkan raganya agar bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Tapi Connor memutuskan untuk melarikan diri dan bagaimanapun caranya harus bertahan sampai umur 18 tahun, usia yang telah dibebaskan dari Unwinding.

Risa. Yatim Piatu yang tinggal di Ohio State Home 23(StaHo), dipaksa untuk menjalani pemisahan raga untuk mengurangi beban panti asuhan itu. Tapi karena sebuah insiden kecelakaan terjadi, Risa punya kesempatan untuk menyelamatkan dirinya.

Berbeda lagi dengan Lev. Dari kecil Lev telah diberitahu oleh keluarganya kalau dia adalah anak yang spesial dan akan dijadikan persembahan. Ironisnya, keluarga Lev yang taat pada agama mereka ini punya beberapa anak angkat yang ditinggalkan di depan pintu rumah mereka. tapi dengan teganya kedua orangtua Lev mengirim anak kandung mereka sendiri untuk menjalani pemisahan raga. Takdir berkata lain, ketika akan berangkat ke “tempat penjagalan”, Lev diculik oleh Connor untuk dijadikan sandera.

Pertemuan tak disengaja antara Connor, Risa dan Lev membuat mereka mengalami petualangan tak terduga. Konflik, perselisihan, pengkhianatan tak terelakkan ketika mereka berusaha untuk bertahan hidup sementara tubuh mereka diincar.

“Kau tak dapat mengubah hukum tanpa mengubah sifat manusia terlebih dahulu.”

“Kau tak dapat mengubah sifat manusia tanpa mengubah hukum yang berlaku terlebih dahulu.”

Dari mana saya harus memulai me-review buku keren ini? Mungkin dari hal-hal yang saya suka dulu ya?

Hmmm, saya suka ide ceritanya. Walaupun sedikit terlalu kelam untuk ukuran novel Young Adult, tapi dari temanya—pemisahan raga­— saja kita sudah tahu kalau buku ini punya sesuatu yang lebih dari sekadar menghibur.

Untuk cover, saya lebih suka cover versi terjemahan ini daripada cover aslinya. Dibanding cover aslinya yang misterius, cover versi terbitan Gramedia ini lebih menonjolkan sisi pemisahan raga itu sendiri. Perpaduan warnanya juga matching dan tidak membuat mata sakit melihatnya :D

Karakterisasi. Nah, untuk yang satu ini saya dibuat labil karenanya, awalnya saya suka dengan karakter Lev, tapi karena satu dan lain hal membuat saya tidak lagi mengaguminya(mungkin di buku kedua nanti saya bisa kembali menyukai Lev :D). Neal Shusterman berhasil membuat pembacanya menjadi bersimpati pada karakter yang menyebalkan sekalipun atau sebaliknya. Untuk karakter favorit, saya malah menyukai karakter pendukung seperti CyFi dan Hayden.

Terakhir, unsur inilah yang paling saya sukai di buku ini. POV. Ya, penggunaan POV “serba tahu” membuat saya nyaman dan merasa spesial membaca buku ini. Karena pembacanya juga dibuat serba tahu oleh pengarangnya.

Untuk hal yang tidak saya suka… apa ya? Hmm mungkin ini: endingnya. Endingnya sama sekali tidak membuat saya penasaran akan buku keduanya karena menurut saya itu terlalu sempurna untuk sebuah cerita yang masih akan ada lanjutannya. Kalau tebakan sok tahu saya sih mungkin awalnya Unwind bukan merupakan serial. Tapi walaupun begitu saya masih menunggu terbitnya terjemahan UnWholly lho! Kan kisah Connor, Risa dan Lev masih layak untuk diikuti :)) apalagi sinopsis singkat di akhir buku ini belum cukup memberikan gambaran cerita UnWholly.

Oh ya, untuk urusan typo-menypo, perlu diberi jempol. Sebagai mata pembaca awam, saya hanya menemukan typo di halaman 284, yang seharusnya “berat” ditulis “berart”. Dan satu lagi sebenarnya, di bagian “Tentang Penulis” juga terdapat kesalahan pengetikan pada nama penulis, “Neil” yang seharusnya “Neal”.

Terlepas dari itu semua, Unwind pantas mendapatkan 5 bintang dari saya. Selain itu menurut saya Unwind juga pantas untuk diadaptasi ke layar lebar.

MEMORABLE QUOTES
  • “Aku lebih memilih sukses sebagian daripada sama sekali tak berguna.” Hal. – 44
  • “Aku ingat saat itu berpikir, kalau seorang bayi akan begitu tak dicintai, kenapa Tuhan membawanya ke dunia?” – Hal. 110
  • “Lucu, Undang-Undang Kehidupan seharusnya melindungi kesucian nyawa. Tapi nyatanya malah membuat nyawa menjadi murah.” – Hal. 82
  • “Dengan kehidupan yang begitu penuh peraturan dan system, sangat mudah untuk lupa bahwa mereka tetap manusia.” – Hal. 122  
  • “Kalian bocah Unwind semuanya sama. Kalian pikir karena tak ada orang yang mencintai kalian, maka kalian tak mencintai siapa pun.” – Hal. 155
  • “Kalau tidak ada pemisahan raga, akan ada lebih sedikit ahli bedah, dan lebih banyak dokter. Kalau tidak ada pemisahan raga, mereka akan kembali berusaha menyembuhkan penyakit, bukannya mengganti organ tubuh dengan milik orang lain.” – Hal. 231

RATING 5/5

Minggu, 25 Agustus 2013

[Book Review] London by Windry Ramadhina




Judul: London: Angel (Setiap Tempat Punya Cerita #5)
Pengarang: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 330 halaman

“Ah, aku gemas kepada diriku sendiri. Sebagai seorang penulis, terlebih aku adalah seorang penulis roman, seharusnya aku tahu hal utopis semacam ‘mengejar gadis ke London atas nama cinta’ hanya berjalan lancar dalam kisah-kisah fiksi.”

Ide ceritanya mungkin sangat sering ditemui di dunia fiksi maupun dunia nyata. Dua sahabat yang salah satunya memendam perasaan lebih. Itulah yang terjadi pada Gilang, karakter utama buku ini, seorang penulis yang masih berusaha menyelesaikan novel pertamanya.

Suatu malam, ketika di bawah pengaruh alkohol Gilang mengumumkankan di hadapan teman-temannya kalau dia akan mendatangi gadis pujaan sekaligus sahabatnya itu, Ning ke London dan menyatakan semua perasaan terpendamnya selama ini.

Karena terlanjur berkata di depan teman-temannya dan atas dukungan mereka, Gilang nekad pergi ke London.

Di London Gilang tidak hanya bertemu dengan Ning(yang mengharuskan Gilang menunggu cukup lama untuk bertemu karena urusan pekerjaan Ning). Tapi takdir juga mempertemukannya dengan gadis cantik nan misterius yang hampir selalu ditemuinya setiap hujan turun, Goldilocks dan juga Ayu, gadis jutek asal Indonesia yang sedang dalam perburuan mencari Wuthering Heights cetakan pertama.

“Terkadang, aku menyesali jawabanku itu. terkadang, aku bertanya-tanya, jika saat itu aku mencegah Ning pergi ke London, apakah kini segalanya akan berbeda?”

Walaupun punya tema yang bisa dibilang usang, menurut saya mbak Windry berhasil meracik kembali tema itu sedemikian rupa sehingga membuat cerita di buku ini tidak cheesy dan membosankan.

Untuk setting dan karakter tidak usah diragukan lagi. Mbak Windry berhasil “membawa” saya secara langsung ikut mengunjungi London Eye, Sungai Thames, Shakespeare’s Globe Teather dan merasakan jalanan London yang basah oleh gerimis.

Saya suka dengan karakter Gilang yang punya hobi memberikan julukan dari nama tokoh-tokoh fiksi ke orang-orang yang ditemuinya. Saya suka dengan ide untuk menambahkan sedikit bumbu fantasi di ceritanya. Saya juga suka cara mbak Windry menyajikan cerita cinta sampingan milik Mister Lowesley.

Dan yang paling penting, endingnya yang tidak kacangan! Keputusan yang diambil Gilang adalah solusi terbaik untuk situasi yang amat sangat rumit itu.

Selain Gilang, Goldilocks juga sudah menawan hati saya sejak kemunculannya di Shakespeare’s Globe Teather. Sampai sekarang masih cukup penasaran dengan gadis misterius itu :D

Setelah membaca buku ini, selain merasa puas saya juga merasa bingung. Bingung karena saya tidak tahu mana yang lebih saya sukai, London atau Melbourne. Dua-duanya berhasil menggalaukan saya–bahkan London sedikit lebih menggalaukan dari Melbourne ._.

MEMORABLE QUOTES:

  • “Itu kepercayaan lama, bukan sekadar dongeng. Agama-agama mengisyaratkan dalam kitab suci. Konon, hujan turun membawa serta malaikat surga.” – Hal. 126
  • “Kau harus mengatakannya segera. Jangan menunda. Jangan habiskan separuh hidupmu untuk menunggu waktu yang tepat. Seringnya, saat kau sadar, waktu yang tepat itu sudah lewat. Kalau sudah begitu, kau cuma bisa menyesal.” – Hal. 166
  • “Kau tidak belajar mencintai. Kau mencintai dengan sendirinya.” – Hal. 297
 
RATING 4/5