Minggu, 18 November 2012

[Review Borongan] Entrok, 86, Maryam by Okky Madasari


Tiga buku ini adalah hasil karya salah satu penulis wanita favorit saya, Okky Madasari. So, here’s the review.







Judul Buku  : Entrok
Pengarang  : Okky Madasari
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  : 2010
Tebal : 282 Halaman


ABOUT
Menceritakan tentang dua orang wanita secara bergantian. Marni, sang ibu, saat masih muda saking miskinnya dia tidak pernah punya sebuah entrok (BH). Dari keinginan memiliki entrok inilah Marni tekun mencari uang dan akhirnya bisa hidup dengan layak. Rahayu, sang anak, merasa tidak nyaman bahkan membenci kedua orangtuanya karena cibiran masyarakat yang menjuluki orangtuanya rentenir atau lintah darat. Karena sekolah, Rahayu jadi mengenal konsep tuhan dan makin membenci ibunya karena masih menyembah hal yang gaib yang sering disebut ibunya “Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa”.
Cerita kedua wanita ini bergulir dari tahun 50-an sampai 90-an. Banyak sekali peristiwa bersejarah Indonesia yang diceritakan – yang juga berpengaruh dengan kehidupan kedua wanita ini – seperti,  era Orde Baru, PKI, pelarangan budaya Tionghoa, dll. Yah, intinya buku ini bercerita tentang hubungan ibu dan anak yang tidak sepaham karena jenjang pendidikan yang berbeda yang dilatarbelakangi oleh peristiwa bersejarah Indonesia.


THE REVIEW
Buku ini selain menghibur juga memberi pengetahuan untuk pembacanya karena mengandung isu sosial dan politik pada masa setelah kemerdekaan dan orde baru. Mbak Okky Madasari berhasil membuka mata saya tentang “tegasnya” pemerintahan zaman itu. Saya sangat bersyukur tidak mengalami masa-masa sulit di masa itu, apalagi menyangkut PKI, membayangkan kalau salah bicara saja bisa dianggap PKI benar-benar mengerikan.
Awalnya sempat skeptis dengan buku ini karena covernya yang agak vulgar. Saya juga baru tahu kalau sebenarnya entrok itu kata dalam bahasa Jawa yang berarti BH.
Dengan gaya penceritaan yang bergantian antara Marni dan Rahayu, buku ini tidak membuat saya bosan walaupun banyak mengandung sejarah. Malah saya penasaran bagaimana akhirnya nasib kedua wanita ini di akhir cerita.
Dan endingnya? Membuat saya miris. Malang sekali nasib kedua wanita ini. Setelah saya membaca buku ini, saya jadi tahu kalau “orang yang dijelekkan dan dianggap hina belum tentu seperti itu kenyataannya. Malah mungkin orang yang menjelekkan itu bisa jadi jauh lebih hina”


MEMORABLE QUOTES :



  • “Menyelesaikan baik-baik katanya. Aku tahu apa arti kalimat itu. Uang, uang, dan uang! Ya, bertahun-tahun aku telah melihatnya. Mengalaminya. Mereka memang tukang peras.” – Hal. 145

  • “Aku dihukum tetangga-tetanggaku sendiri yang datang padaku saat butuh pinjaman uang, yang ikut menonton TV yang kubeli dari uang yang  kata mereka tidak halal.” – Hal. 188

  • “Dua perempuan bertengkar dan berkelahi memperebutkan suami. Dan sekarang aku mengalaminya. Bukan berebut suami, tapi semua ini bersumber dari laki-laki. Apakah memang seperti ini nasib perempuan?” – hal. 193

  • “Aku salah perhitungan. Tidak selamanya tebu itu manis. Tidak selamanya orang butuh tebu, meskipun mereka masih menggunakan gula. Tebu itu sekarang pahit rasanya.” – Hal. 255

  • “Takgendong… takgendong cucuku… takgendong ke mana-mana…” – Hal. 282



RATING : 4/5






Judul Buku  : 86
Pengarang  : Okky Madasari
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  : 2011
Tebal : 256 Halaman


ABOUT
Mulanya, Arimbi adalah seorang pegawai negeri yang jujur. Berprofesi sebagai juru ketik di sebuah pengadilan negeri di Jakarta sudah membuat kedua orangtua Arimbi di kampung merasa bangga padanya. Tapi, petaka datang ketika arimbi menerima sebuah AC yang dihadiahkan kepadanya. Arimbi yang tadinya pegawai yang lurus menjadi semakin berambisi untuk meminta”bonus” atas pekerjaan yang dilakukannya. Yang dulunya hanya coba-coba tapi malah sifat serakahnya berkuasa dan semakin menjadi-jadi.
Tentu saja rencananya tidak selalu berjalan dengan mulus. Karena akhirnya Arimbi tertangkap basah ketika sedang menerima uang bagiannya dari atasan Arimbi sendiri, Bu Danti.
Kesialan Arimbi terus berlanjut karena selain tertangkap basah dan uang yang didapatnya diambil untuk barang bukti, Arimbi juga dikorbankan dalam kasus ini. Walaupun akhirnya Bu Danti juga mendapatkan hukuman di penjara.
Di dalam bui, bukannya kapok Arimbi malah terlibat pengedaran narkoba yang juga melibatkan suaminya dan kenikmatan terlarang dengan teman penghuni selnya. Bagaimana nasib Arimbi selanjutnya? Silahkan baca 86.


THE REVIEW
Karya kedua dari Okky Madasari ini tidak hanya tentang korupsi. Seperti karyanya terdahulu, Entrok, 86 juga membahas banyak aspek seperti kebutuhan yang malah menjadi keserakahan, peredaran narkoba di penjara, penjara bintang 5, kebutuhan rohani wanita yang disalurkan dengan sesamanya, dll. Membaca buku ini membuat perasaan saya campur aduk. Miris, ironis, sedih, sekaligus geram menjadi satu.
Buku ini merupakan karya Mbak Okky Madasari yang paling saya suka. Ada daya tarik tersendiri yang tidak bisa saya jelaskan ketika membaca buku ini.
Yah, tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang buku ini. Pokoknya buku ini bacaan wajib bagi yang mengaku menghargai karya sastra penulis Indonesia.
86 sendiri merupakan sandi kepolisian yang kurang lebih berarti beres. Intinya asal punya duit, segala urusan beres. Pokoknya 86!


MEMORABLE QUOTES

  • “Arimbi mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa perusahaan listrik hanya mematikan listrik di kontrakannya sementara rumah-rumah lain yang hanya berbatas dinding tetap menyala. Mungkin mereka setiap tengah malam mengocok lintingan kertas berisi alamat pelanggan listrik. Alamat yang keluarlah yang listriknya dimatikan, pikirnya.” – Hal. 20

  • “Yang penting itu jadi orang beruntung, bukan jadi orang pintar.” – Hal. 62

  • “Pokoknya setiap ditanya bilang kamu nggak tahu apa-apa. Hanya diperintah atasan ketemu orang buat mengambil barang, tak tahu barang itu apa. Duit 50 juta yang di tas itu duit pinjaman dari Bu Danti. Bapakmu sakit di kampung dan butuh uang untuk operasi.” – Hal. 155



RATING 4/5




Judul Buku  : Maryam
Pengarang  : Okky Madasari
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  : 2012
Tebal : 275 Halaman


ABOUT
Maryam, wanita yang memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya karena perceraiannya dengan suaminya. Sebenarnya Maryam malu bertemu dengan keluarganya lagi, karena saat menikah dengan mantan suaminya dulu dia tidak mendapat restu dari kedua orangtuanya. Alasan kedua orangtua Maryam tidak memberi restu tidak lain tidak bukan adalah karena mantan suami Maryam bukan seorang Ahmadi. Ya, keluarga Maryam merupakan penganut aliran Islam Ahmadiyah.
Awalnya pernikahan Maryam berjalan dengan baik. Tapi lama kelamaan Maryam sadar kalau dirinya tidak diterima sepenuhnya oleh keluarga suaminya. Belum lagi dengan desakan mertuanya untuk segera punya anak membuat Maryam tertekan. Ujung-ujungnya masa lalu Maryam sebagai seorang Ahmadi kembali diungkit-ungkit.
Ketika akhirnya Maryam memutuskan untuk kembali ke rumah orangtuanya, kenyataan pahit harus ia terima. Keluarganya terusir dari rumah mereka sendiri karena mereka dianggap menganut aliran sesat. Karena merasa bersalah Maryam berusaha mencari tahu keberadaan keluarganya yang terusir karena iman. Terusir dari rumah mereka yang dibeli dengan uang mereka sendiri.


THE REVIEW
Dulu, sebelum saya membaca buku ini, saya yakin sekali kalau aliran-aliran Islam yang sedikit nyeleneh sama dengan aliran sesat. Tapi thanks to Mbak Okky Madasari yang kembali menyadarkan saya bahwa menghargai perbedaan itu sangat penting.
Saya acungi jempol untuk Mbak Okky Madasari mengambil tema yang sangat berani untuk karya ketiganya, Ahmadiyah.
Walaupun banyak review dari teman-teman goodreads – sudah kebiasaan saya sebelum beli buku pasti cek review di goodreads dulu – yang mengatakan bahwa “bukunya terkesan abu-abu” “Mbak Okky bermain aman dan tidak memilih untuk tidak memihak” menurut saya wajar. Karena temanya yang sensitif, apalagi dengan keberadaan ormas-ormas anarkis sekarang. Jangan-jangan malah akan menjadi kontroversi dan menjadi pembicaraan di infotainment.
Diskriminasi dan perlakuan tidak adil yang diterima para penganut Ahmadi menunjukkan bahwa hukum di Indonesia masih lemah. Juga menunjukkan kalau ormas-ormas anarkis masih berpengaruh besar di kalangan masyarakat.


MEMORABLE QUOTES

  • “Diantara bingkai-bingkai itu, terselip satu gambar tanpa bingkai. Gambar laki-laki itu. Yang dicintai dengan tulus oleh keluarganya. Yang menjadi perekat dan penyatu. Tapi sekaligus yang membuat hidup mereka kerap diwarnai nada sendu.” – Hal. 59

  • “Bagaimana mungkin anaknya yang selalu masuk sepuluh besar di kelas, mendapat nilai 5 dalam pelajaran agama? Satu-satunya nilai 5 di antara pelajaran-pelajaran lain. Bahkan pertama kalinya nilai 5 sejak ia masuk sekolah.” – Hal. 75

  • “Rumah itu milik kakekku. Dibangun dengan uangnya sendiri. Tanahnya warisan dari buyut-buyutku. Lalu diwariskan ke bapakku. Dibangun sampai bisa seperti yang sekarang di sana. Dan sekarang kami diusir begitu saja?” – Hal. 170

 
RATING 4/5


Selasa, 09 Oktober 2012

[Book Review] Negeri Para Bedebah by Tere Liye

Hai, seperti yang saya umumkan kemarin, saya akan kembali membuat postingan di blog ini. Ini juga merupakan review buku pertama saya. Here we go...







Judul  : Negeri Para Bedebah
Pengarang  : Tere Liye
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  : 2012
Tebal  : 440 Halaman




ABOUT

Thomas a.k.a Tommi a.k.a Fernando, seorang konsultan keuangan profesional. Suatu hari ia mendapat telepon dari Om Liem, adik almarhum papanya sekaligus seseorang yang sangat dibencinya. Om Liem meminta bantuan Thomas atas ambruknya bank milik Om Liem, Bank Semesta yang terancam pailit. Thomas memutuskan membantu Om Liem walaupun dia sangat membenci Om Liem. Alasan Thomas membantu Om Liem karena dia ingin membalas dendam, Thomas menduga kalau orang yang ada di balik ambruknya Bank Semesta adalah mereka yang dulu menghancurkan keluarganya sehingga membuat Thomas yatim piatu.
Alhasil, Thomas menjadi buronan karena berhasil melarikan Om Liem dari kepungan polisi yang akan menangkap Om Liem. Dan yang lebih menegangkan lagi, Thomas hanya punya waktu 2 hari! Dibantu dengan Julia, seorang wartawan yang karena rasa ingin tahunya membuatnya terlibat dan akhirnya memutuskan membantu Thomas. Ada juga Maggie, staf kantor Thomas yang setia. Selain itu Thomas juga mendapat bantuan dari koneksinya sesama anggota sebuah klub petarung. Lalu berhasilkah Thomas menyelamatkan Bank Semesta?



THE REVIEW

Kali ini bang Tere Liye hadir dengan genre yang sangat berbeda dari karya-karyanya sebelumnya. Memuat banyak pengetahuan tentang bisnis, ekonomi, politik, dll. Tapi tidak membuat pembacanya bosan karena kelihaiannya.
Membaca buku ini benar-benar sangat memicu adrenalin. Bang Tere Liye sangat tahu trik membuat pembacanya seakan akan mengalami sendiri pelarian dan kejar-kejaran yang dilakukan Thomas. Selain itu, bang Tere Juga sangat tahu cara membuat pembacanya penasaran hingga halaman terakhir.
Dengan ending yang happy namun agak kejam (*tapi menurut saya dia sangat pantas mendapatkannya), buku ini berhasil mengukuhkan pendapat saya bahwa karya Tere Liye selanjtnya tetap dan akan selalu layak ditunggu penggemarnya (*termasuk saya sendiri) . Overall keren abis. Dan wajib dibaca buat penggemar karya Tere Liye.



MEMORABLE QUOTES :


  • ·         “Apa pertanyaanmu tadi? Kau bergurau. Aku konsultan keuangan professional, aku tidak peduli dengan kemiskinan. Yang aku cemaskan justru sebaliknya, kekayaan, ketika dunia dikuasai segelintir orang, nol koma dua persen, orang-orang yang terlalu kaya.” – Hal. 17

  • ·         “Padahal kita lupa, semua hanya kertas bukan? Secara riil, kekayaan dunia tidak berubah sejak uang pertama kali ditemukan. Jumlah cadangan emas yang menjamin uang hanya itu-itu saja. Kau tadi bertanya apa? Julia, aku tidak peduli kemiskinan, peduli setan, karena daya rusaknya itu-itu saja, busung lapar, kurang gizi. Tetapi kekayaan, daya rusaknya mengerikan. Bahkan uang yang berlimpah itu membuat orang tidak peduli wabah, kelaparan, perusakan alam, dan tragedi kemanusiaan lainnya.” – Hal. 23

  • ·         “Itulah menariknya ilmu ini, Thomas. Sejak zaman Nabi Adam, kita selalu tertarik menjelaskan apa yang akan terjadi esok hari. Nah, dengan pendekatan ilmiah, ilmu ekonomi mengumpulkan bukti-bukti empiris yang ada. Pemegang kebijakan ekonomi bisa menyesuaikan akibat yang terjadi dari kontrol yang mereka punya. Bukan urusanku jika ternyata pemegang kontrol itu orang yang pengecut, korup, dan lebih mementingkan pihak tertentu.” – Hal. 62

  • ·         “Orang Cina bijak zaman dulu bilang, tempat yang paling aman justru tempat paling berbahaya, dan sebaliknya tempat yang paling berbahaya justru tempat yang kalian pikir paling aman. Itu benar sekali. Ahli strategi perang masyhur Cina itu, ketika menemukan pertama kali kalimat bijak ini, boleh jadi tidak dibekali dengan ilmu matematika tingkat lanjut, tapi dia jelas memiliki pengalaman panjang, naluri serta insting seperti yang dikatakan Opa.”

  • ·         “Jangan bicara soal kode etik, integritas, dan kejujuran kepadaku, Erik. Ini masih terlalu pagi untuk ceramah. Kita sama-sama tahu, untuk orang-orang seperti kita, kehormatan adalah omong kosong. Boleh saja kau presentasi tentang good governance, patuhi regulasi, sesuai standar prosedur, membual pada setiap klien, tapi sejatinya kita hidup di bisnis hiprokasi.”

  • ·         “Hei, semua orang berubah pikiran, Julia. Lagi pula, kalau kau ingin sebuah hubungan berhasil, entah itu pertemanan, atau lebih dari itu, kau harus terbiasa menyesuaikan diri, selalu berubah.”


p.s : Selamat buat Tere Liye karena buku ini menjadi salah satu dari 10 besar di penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2012. Daftar karya sastra yang mendapat penghargaan ini bisa dilihat disini : http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2012/10/05/khatulistiwa-literary-award-ke-12/

RATING : 5/5