Judul:
Rhapsody
Pengarang:
Mahir Pradana
Penerbit:
GagasMedia
Tahun
Terbit: 2013
Tebal:
324 halaman
“Well, sebuah
cerita menarik tidak memerlukan nama karakter yang keren atau malah
dibuat-buat. Let’s focus more on the story of my dream and not the story
behind my name.”
Abdul
Latif, atau nama kerennya: Al merupakan penggemar Coldplay. Punya kisah cinta
masa lalu yang kelam. Dan seorang pemimpi. Dia berhasil mewujudkan mimpi besarnya
untuk membangun sebuah hostel di Makassar, kota kelahirannya. Bangunan hostel itu dulunya adalah hotel
milik almarhum ayah Al. Karena diwariskan kepada Al dan kakak perempuannya,
maka Al memutuskan untuk merombaknya dari bangunan hotel murah di dekat Pantai
Losari, menjadi hostel untuk budget traveler.
Tapi
yang namanya mimpi pasti ada saja hambatannya. Hostel yang bernama Paradise
Hostel itu jarang ada pengunjung.
Selain itu datang juga hambatan dari kakak perempuan Al satu-satunya—Siska—yang
masih saja berusaha membujuk Al untuk menjual saja bangunan itu.
Keajaiban
pun datang. Seorang pria berkebangsaan Spanyol, Miguel suatu hari mendatangi
Al. Usut punya usut Miguel merasa dia punya hutang budi pada Al atas
kebaikannya di masa lalu. Berkat dukungan dan bantuan dari Miguel, Paradise
Hostel mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal sampai wisatawan asing.
Dan
lagi-lagi hambatan terkadang tak cukup hanya datang sekali. Selain itu Al juga
dihadapkan dengan cinta lain di masa lalunya lagi.
“Begitulah wanita. Mereka selalu membuat
kita menunggu.”
Buku
ini merupakan buku yang sudah saya nantikan kehadirannya. Yeah bisa dibilang saya merupakan salah satu penggemar bang Mahir
sejak membaca Here, After-nya dan cerpen-cerpennya di Menuju(h) dan Dongeng Patah Hati.
Serius
saya tidak lagi peduli bentuk cover atau
pun blurb buku ini. Melihat nama
pengarangnya saja sudah membuat saya ingin membawanya pulang dari toko buku (tentu
saja setelah membayar sebelumnya, bisa dikejer mbak toko bukunya dong kalo main
bawa pulang aja xD). Dan sekali lagi saya harus mengakui cover dari penerbit yang satu ini memang hampir selalu bagus sik,
jadi cover (juga blurb-nya) menambah poin plus buku ini di mata saya.
Satu
dari sekian banyak faktor yang membuat saya suka pada tulisan bang Mahir adalah
dia selalu memberikan pengetahuan-pengetahuan menarik yang sama sekali belum
saya ketahui. Pun begitu dengan buku ini. Saya suka sekali dengan pemaparan
konsep tentang Banco de Favores.
Jujur saja membuat saya jadi lebih bersemangat menabung ke Banco de Favores ;))
Selain
itu keajaiban-keajaiban alias miracles yang terjadi
di buku ini juga salah satu yang saya sukai. Membacanya membuat saya benar-benar
percaya akan kekuatan dari hal yang bernama; percaya.
Tapi…
sorry banget nih bang Mahir, buat saya pribadi Rhapsody tidak semenakjubkan Here, After. Salahkan
saya yang susah mup ong xD
Poin lain
yang saya suka adalah bagaimana bang Mahir menggambarkan kota Makassar tidak
kalah eksotis dengan kota-kota lain di dunia (yang sukses membuat saya ingin
berlibur ke sama xD). Dan saya merasa ‘tertampar’ ketika buku ini menyadarkan
saya kalau sebenarnya tidak perlu menunggu pemerintah untuk mengenalkan tempat-tempat
bersejarah atau tempat wisata di Indonesia ini. Toh kalau ada kemauan, kita
juga bisa.
Hampir
lupa, saya suka semua Lesson of Life-nya. Yang paling saya sukai sih #5 (Love is not an easy thing. Be prepared!),
#6 (Everybody loves a joker, but nobody
likes a fool.), #7 (Every dream has a
deadline. Then a good dreamer must ignore the deadline.), #8 (There will always be trouble that makes you so
angry that you want to burn the world down. But if the world is burned, where
will you live?) dan #10 (The world is
a compilation of dreams that have come true.). Tapi semuanya keren kok.
Spesial
untuk bang Mahir, sukses untuk Rhapsody-nya dan saya akan selalu menunggu
karya-karyamu. I am your number one fan
*niru gaya Annie di Misery xD*.
MEMORABLE QUOTES:
- “Inilah kelemahan orang Indonesia pada umumnya. Terlalu banyak pertimbangan sebelum bekerja. Belum melaksanakan kewajiban sudah menuntut hak.” – Hal. 96
- “Mengapa menggunakan kata 'jatuh'? apakah karena ketika kita merasakan cinta, kita tidak bisa mengendalikan diri? Apakah sebaiknya kita pasrah saja ketika 'jatuh' dan menunggu sampai terbentur di dasar?” – Hal. 135
- “Pada akhirnya, setiap pulang ke rumah dari sebuah perjalanan, kamu akan kembali sebagai seseorang yang berbeda.” – Hal. 155
- “Dan, bahwa kenyataan adalah sesuatu yang bersifat oportunis. Kenyataan selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Kenyataan sellau siap mengambil alih jika kita sudah menyerah mengejar impian kita.” – Hal. 175
- “Cinta itu hanya mengandung dua pengertian! Yang pertama hanya dongeng anak kecil. Yang kedua adalah kebohongan yang dipakai oleh orang dewasa untuk mendapatkan seks. Now, which one do you have?” – Hal. 212
- “This is what is called falling in love, my dear little brother. Love never cares about your past.” – Hal. 224
- “Tidak ada orang yang bisa merencanakan kapan dirinya harus jatuh cinta. Cinta itu terjadi begitu saja.” – Hal. 225
- “You said something as if you have to choose one between love or dream. But for me, my dream is to have you as my love.” – Hal. 291
- “Berhasil atau tidak, cinta itu selalu layak untuk diperjuangkan.” – Hal. 308
RATING 4/5
yeay, tosssss
BalasHapusaku juga suka banget sama tulisannya bang Mahir, sejak baca Here, After langsung jadiin dia penulis favorit, sayang belum sempet baca buku ini, mau beli takut kedobelan sama Santa :)
*tosss*
HapusTernyata ketemu juga sama temen sesama penggemar bang Mahir :D udah baca cerpennya di Menuju(h) belum? Itu keren juga loh *kompor*
tadinya aku mau bikin reviewnya juga menurut sudut pandangku...ini karya bang Mahir pertama yg aku baca..dan ternyata aku langsung suka..inget jaman travelling dan nginep d hostel...baca buku ini seru banget berasa flash back lagi...btw quotenya ada yg typo, hal 96 hehehe piss... :)
BalasHapusHarus baca Here, After kalo gitu :D tapi sekarang keknya buku itu susah dicari sik.
HapusNgomentarin ada typo padahal diri sendiri typo xD makasih yaa udah diingetin. Jadi malu xD